PILGUB KALTIM 2018 #8: SUARA “LGBT” 30% DALAM PILKADA KALTIM

PILGUB KALTIM 2018 #8: SUARA “LGBT” 30% DALAM PILKADA KALTIM

Gak usah ngeres dulu, baca aja opini kami sampai selesai. Selamat Natal hari ini (bagi yang merayakan), Yuk mari silahkan menyimak sambil tetap mengamati lingkungan sekitar…

Si A akan mendukung calon ini, Si B akan mendukung calon itu, sedangkan Si C masih belum jelas calon mana yang akan didukungnya. Informasi dukungan seperti tersebut biasanya diperoleh dari hasil survei atau identifikasi yang mendalam terhadap perilaku pemilih.

Kejelasan siapa mendukung calon mana adalah bagaikan kejelasan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, sedangkan ketidak jelasan siapa mendukung calon mana seolah-olah bagaikan ketidak jelasan jenis kelamin.

Dalam suatu pilkada biasanya pemilih yang belum jelas akan mendukung siapa termasuk kategori pemilih abu-abu (swing-voters). Besaran angkanya bisa mencapai diatas 30%. Sementara setiap calon mau-tidak mau harus berusaha maksimal untuk mendapatkan suara dukungan pemilih sebanyak banyaknya termasuk dukungan dari pemilih kategori abu-abu ini. Namun “menggarap” pemilih kategori abu-abu ini cukup sulit sehingga diperlukan strategi yang khusus.

Jangan dilupakan juga bagi calon beserta tim suksesnya bahwa sangat penting juga untuk mengkalkulasikan antara kategori pemilih abu-abu ditambahkan dengan potensi golput (golongan putih/ gak ikut nyoblos). Kelompok golput ini biasanya sama banyaknya dengan pemilih kategori abu-abu tersebut. Jumlah golput adalah jumlah semua pemilih dikurangi jumlah pemilih yang ikut nyoblos pada hari pemungutan suara. Nah, dari hitungan seperti  inilah angka partisipasi pemilih itu diperoleh. Pilgub Kaltim kedepan rasa-rasanya angka partisipasinya tidak lebih sekitar 70%-an saja, pengalaman kami selama ini begitu angkanya.

Pemilih yang gak ikut nyoblos seyogyanya (bukan se-Jakartanya hehe) kudu diperhatikan oleh semua penikmat pemilu. Jangan sampai kelompok golput ini bertransformasi menjadi kelompok “LGBT”, hahaha..

Kesimpulannya, calon yang maju dalam pilgub Kaltim kali ini dan tim suksesnya harus mampu memetakan pemilih yang belum menentukan pilihan ini dan mana pemilih yang berpotensi golput. Jika belum mampu memetakan seperti pemilih belum jelas ini (abu-abu + potensi golput) maka roda pergerakan pemenanganmu bakal membingungkan,  itu ibarat perang melawan LGBT yang lagi diributkan oleh berbagai kalangan dibeberapa waktu terakhir ini.

Sudah jelas kan, sekian dulu kawan-kawan… ayo cari pasangan supaya gak jomblo… hehehe

(DC)

BACA JUGA : Survei Menang Telak Pilkada

PILGUB KALTIM 2018 #7: SUARA RITA MASIH NYARING?

PILGUB KALTIM 2018 #7: SUARA RITA MASIH NYARING?

Rita Widyasari adalah seorang politisi yang unik. Mewakili suara perempuan yang terbukti unggul banget dalam pilkada maupun pileg di Kukar. Golkar selalu menjadi mayoritas diparlemen disana sejak jaman old kepemimpinan bapaknya (Alm. Syaukani HR) hingga kini.

Dia masih posisi teratas menurut info hasil survei terkini yang kami peroleh bahwa bunda Rita (sebagaimana ia dipanggil oleh fans-nya selama ini). Suara dukungannya masih mayoritas yakni sebesar capaian 40% keatas. Bandingkan dengan bakal calon lainnya yang “hanya” berkisar di angka tidak sampai 20%, bahkan bakal calon lainnya rata-rata masih belum mencapai  10% dukungan masyarakat pemilih se-Kaltim.

Bakal calon lain menjadi setengah wajib menyimak angka-angka ini. Timses juga ya jangan sampai ketinggalan info-info yang beginian. Modal nekat dan keyakinan saja masih kurang dalam upaya merebut dukungan mayoritas dari masyarakat pemilih se-Kaltim ini yang mencapai 2,5 juta pemilih.

Tim-nya Rita sampai detik ini masih banyak yang menunggu kepastian dia nyalon apa tidak. Masih bergejolak dalam bathinnya akan sejauh mana kira-kira kepastian untuk menentukan kemana dukungan akan diberikan. Bahkan masih banyak juga warga Kaltim yang masih belum tau kalau bunda Rita ini lagi tersandung masalah hukum di KPK.

Akankah bakal calon lainnya akan mampu “mengklaim” suara Rita ini, berikut beberapa catatan kami dari hasil depth-interview berbagai kalangan sebagai second-opinion saja ;

Pertama,  pahami dengan seksama mengapa selama ini pendukungnya Rita Widyasari di akar-rumput selalu solid dan militant?

Kedua, manajemen apa yang dijalankan olehnya sehingga memiliki imej yang kuat di mata masyarakat pemilih se-Kaltim saat ini?

Ketiga, mengapa dukungan ke Rita Widyasari sampai saat ini sangat sulit dilunturkan meskipun dia sedang menjalani proses hukum di Jakarta?

Keempat, jangan lupakan pemilih perempuan (jumlahnya sama banyaknya dengan pemilih laki) ya kan heheh…

Kelima, ada predikat yang sangat melekat pada sosok tokoh yang satu ini, yang membuat orang lain cenderung merasa ketertarikan yang sangat.

Itu dulu opini kami hari ini, kita lanjut terus setiap hari ya sampai dengan tanggal 03 januari 2018 akan datang, Insya Allah… yuk lanjut bagi yang mau ke undangan hari minggu, jangan lupa dandan yang cantik-gagah…  hahay. Salam santun kepada senior…  

(DC)

BACA JUGA : Survei Menang Telak Pilkada

PILGUB KALTIM 2018 #6: ARAH KOALISI PDIP KE GOLKAR?

PILGUB KALTIM 2018 #6: ARAH KOALISI PDIP KE GOLKAR?

Ramai beredar hari ini info dari internet serta di beberapa  group Facebook dan WA bahwa Isran Noor sudah mendapat restu dari Prabowo (Gerindra) untuk maju nyalon dalam pilgub Kaltim pada juni 2018 mendatang, sedangkan beberapa hari lalu Syaharie Ja’ang cukup PD akan diusung PD juga. PD pertama Percaya Diri, PD kedua Partai Demokrat maksudnya hehe…

Bagaimana PDIP dan Golkar?

Jika mengamati kepentingan nasional untuk pilpres 2019 mendatang maka sangat mengharuskan PDIP melakukan koalisi dengan Golkar. Tentu hitung-hitungannya tidak sesederhana langsung serta merta akan koalisi seperti  itu. PDIP punya strategi sendiri dan Golkar juga sudah “terlanjur” sejak awal-awal memutuskan tetap mendukung Jokowi maju pilpres 2019 untuk periode yang kedua kalinya.

Jika PDIP koalisi dengan Golkar untuk mengusung calon bersama pada pilgub Kaltim 2018 ini maka ada beberapa catatan yang memungkinkan dapat ditarik sebagai pertimbangannya ;

Pertama, PDIP dan Golkar adalah pemilik suara mayoritas di parlemen Karangpaci (PDIP 11 kursi dan Golkar 13 kursi) dimana total anggota DPRD Kaltim sebanyak 55 orang. Hal ini tentu menjadi modal yang sangat berlebih untuk mengusung calon pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim pada pilgub Kaltim Juni 2018 tahun depan.

Kedua, kedua partai ini memiliki massa dan kader militan yang sudah sangat berpengalaman. Kader di grass-root juga tergolong sangat merata sebarannya. Dari 10 kabupaten/ kota se-Kaltim kedua partai ini rata-rata adalah pemilik suara mayoritas di parlemen. Kubar basis besar PDIP, Kukar basisnya Golkar. Samarinda dan Balikpapan mayoritas PDIP dan Golkar juga kota Bontang. Kutim dan Berau dimana Golkar juga signifikan termasuk Paser dan PPU.

Ketiga, pertimbangan dimana selama ini Golkar selalu unggul untuk menempatkan kadernya sebagai Gubernur Kaltim beberapa untuk beberapa periode yang sudah-sudah.

Keempat, mengingat pillgub Kaltim ini sangat mungkin dinamis ditambah lagi jangkauan luasnya wilayah yang ber-efek juga terhadap besarnya menelan pembiayaan yang sangat tidak sedikit, maka dengan mempertimbangkan untuk menggabungkan kedua partai ini yang sudah nyata memiliki infrastruktur politik yang lebih lengkap tentu dapat menekan pembiayaan dengan menganut prinsip gerakan pemenangan yang berlangsung efektif dan efisien pembiayaan.

Kelima, koalisi besar diharapkan menekan resiko kalah. Meskipun tidak ada jaminan yang kuat bahwa koalisi besar selalu menang dalam catatan record pilkada selama ini. Pengurus Partai di pusat adalah penentu dan pemegang keputusan akan mengusung siapa dalam pilgub Kaltim kali ini.

Demikian opini kami, kita tunggu saja seminggu ini kira-kira…

Selamat menikmati hari minggu bagi warga yang piknik…

(DC)

BACA JUGA : Survei Menang Telak Pilkada

PILGUB KALTIM 2018 #5: DUIT PILGUB BIKIN MALAS NYALON

PILGUB KALTIM 2018 #5: DUIT PILGUB BIKIN MALAS NYALON

Duit pilgub untuk Kaltim itu ber_milyar-milyar rupiah?

Ada dua sudut pandang mengenai “nyalon” disini. Kosakata nyalon ini sudah sangat umum digunakan dalam bahasa ngobrol sehari-hari pada tetangga dan teman dekat. Pertama nyalon dalam artian maju sebagai Calon Gubernur-Wakil Gubernur Kaltim 2018.   Akan bertarung dengan gagah dan rupawan yang di-ejawantah-kan tampil dimana-mana nampil di baleho ukuran raksasa atau ukuran seadanya, kemudian bisa jadi secara tiba-tiba “turun gunung” berakrab ria dengan masyarakat bawah (grass-root) untuk menunjukkan ini loh saya nyalon untuk menjadi pemimpin-mu hey rakyatku. Pokoknya senang berbicara demi kepentingan rakyat. Nah menghibur kan jadinya kalau sudah bicaranya membela kepentingan rakyat ini, menghibur bagaimanakah yakni menghibur dengan menjadikan rakyat jadi punya harapan hidupnya meningkat untuk jaman now ini. Kira-kira begitulah.

Kemudian yang kedua makna “nyalon” disini boleh jadi berarti berdandan ria masuk ke tempat salon untuk membuat diri menjadi gagah-cantik rupawan. Boleh jadi menata gaya rambut dengan style atau model terkini entah di-rebounding di-catok dengan wajah di-makeover agar terlihat rasa lebih muda lebih segar dan seterusnya pokoknya lebih kinclong gitu deh . Kepentingan nyalon disini biasanya murni untuk penampilan yang lebih ehm dan seperti tidak biasanya.

Untuk nyalon itu perlu bayar, jadinya perlu duit untuk membayar. Membayar nyalon dalam pilgub berharga akan jauh lebih mahal jika dibandingkan nyalon hanya sekedar potong rambut di salon.
Misalnya jika nyalon, coba anda lihat harga sekali bikin acara lapangan yang mendatangkan banyak massa yang dibuatkan panggung hiburannya. Berapa harga artis penyanyinya, panggung besarnya dengan soundsystem music yang suaranya dapat menggelegar menggetarkan nyali lawan politik, mungkin. Ditambah biaya akomodasi panitia dan personil lainnya bisa-bisa 200-an juta ludes sekali ngadain acara begitu. Lah kalau acara begitu dilakukan disetiap kabupaten kota se-Kaltim ini maka sudah berapa habisnya coba.

Sebagai hitungan kasaran deh, Kaltim ini ada 3 Kota yakni Balikpapan, Bontang, dan Samarinda, ditambah 7 kabupaten yaitu Paser, PPU, Berau, Kutim, Kukar, Kubar, dan Mahulu. Jadi ada 10 kota dan kabupaten jadinya. Kalau bikin acara besar di setiap kabupaten/ kota itu seberapa banyak duit yang kudu dipersiapin. Apalagi kalau diadakan acara sosialisasi disemua kecamatan yang berjumlah mencapai 103 kecamatan ditambah 1.020-an desa/ kelurahan se-Kaltim. Taruhlah satu kabupaten/kota dihantam rata saja masing-masing biayanya 1 milyar, berarti sudah 10 milyar minimal biaya kampanye. Dan itu baru minimal!!

Siapkan jumlah saksi di TPS jika nyalon. Ada 7.262 TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang artinya jika ditempatkan minimal 1 orang saksi saja disetiap TPS itu maka akan ada lebih tujuh ribu orang yang akan jadi saksi untuk calon gubernur-wakil gubernur tersebut. Berapa bayaran saksi TPS selama ini? Kemudian dikalikan tujuh ribu-an itu (7000 x Rp 250.000,- = Rp 1,75 milyar). Banyak ya. Belum lagi ongkos-ongkos lainnya yang terkadang gak ada angsulannya yang receh–receh itu karena semua duit gede kan.

Masih mikir nyalon?

Untuk hitungan tambahan jika asumsi biaya untuk mendapatkan dukungan/ suara pemilih itu adalah Rp 50 ribu dikalikan suara yang ingin diraih sebanyak 1 juta suara(jumlah suara aman jika ingin menang pilgub kaltim) maka duitnya menjadi sebanyak 50 milyar rupiah. Apakah salah memberikan duit Rp 50 ribu untuk pemilih ?

Duh.. jadi capek juga ngitung-ngitungnya, atau sidang pembaca punya cara lain untuk menaksir berapa duit untuk nyalon Pilgub Kaltim 2018?

Wes santai ae… ini dulu info dari kami, sudah saatnya cukur rambut nih supaya gagah-cantik menjelang natal (bagi yang merayakan)… yukkk ke-salon 15 ribuan cukur rambut saja. Salam kompak lur….
(DC)

BACA JUGA : Survei Menang Telak Pilkada