PILEG 2019 #18: 7 STRATEGI MENANG CALEG BARU VS CALEG LAMA

PILEG 2019 #18: 7 STRATEGI MENANG CALEG BARU VS CALEG LAMA

Baru maju sebagai caleg untuk pemilu tahun 2019 kita sebut saja caleg baru, ada juga caleg yang pernah maju pada pileg tahun 2014 yang lalu itu sebut saja caleg lama. Pengakategorian caleg seperti ini hanya untuk memudahkan istilah saja dalam artikel kali ini, demikian pula dengan 7 strategi disini hanyalah uraian opini yang tidak bersistematis tetapi dimaksudkan untuk penggalian dan bahan perluasan wawasan bagi dunia per-caleg-an ditanah air tahun 2019 mendatang.

Selami saja setiap point yang kutuliskan buatmu berikut ini, mungkin ada kesimpulan baru yang mungkin akan menjadi inspirasimu dalam strategi bertindak sebagai caleg menang tahun 2019.

  1. Ada caleg yang maju hanya sebagai pelengkap kuota dalam daftar susunan caleg pada partai tertentu, ada caleg yang maju hanya untung-untungan kalau menang ya syukur kalau kalah ya gak apa-apa, ada juga caleg yang maju memang untuk menjadi caleg serius menang. Nah artikel ini khusus kutuliskan buat caleg yang serius mau menang saja. Karena caleg yang sudah pernah nyaleg atau bahkan saat ini sudah menjadi aleg (anggota legislative) akan lebih serius untuk “mempertahankan” ke-aleg-annya itu. Caleg baru dengan semangat fresh tanpa pernah merasakan menang sementara caleg lama sudah pernah dan memiliki pengalaman “bertarung” atau berpengalaman menang.
  2. Caleg baru biasanya cenderung meluas langkah-langkah strategisnya, sering lupa melakukan pemetaan detail agar supaya gerakan pemenangannya bisa lebih terfokus. Sementara caleg lama mungkin lebih memiliki nilai kepastian dalam menjalankan roda gerakan pemenangannya atau minimal caleg lama sudah memiliki faktor “jera” dalam memilih cara pemenangannya. Dalam hal ini dengan kata lain caleg baru akan membabat semua strategi yang paling mungkin dilakukannya sedangkan caleg lama cenderung menggunakan strategi yang lebih berfokus kepada target perolehan suara yang diharapkannya.
  3. Semangat menggebu akan dimiliki oleh caleg baru. Dalam melangkah dan melakukan sosialisasi bagi dirinya caleg baru sangat lebih agresif. Cara – cara seperti ini dapat saja menciptakan peluang baru yang lebih optimal sehingga menhasilkan peluang keterpilihan yang jauh lebih besar ketimbang caleg lama.
  4. Sedangkan caleg lama akan berupaya maksimal mempertahankan basis suara yang sudah dimilikinya sejak lama. Basis suara ini mungkin saja akan sangat membesar tergantung bagaimana pemeliharaannya selama ini. Strategi caleg lama yang menggunakan system bertahan akan menjadi tantangan bagi caleg baru untuk membobol basis pertahanan itu. Karena tarik menarik untuk perebutan suara pemilih tidak dapat terhindarkan. Artinya caleg lama yang sudah punya basis/ kantung-kantung suara selama ini harus lebih mampu untuk menjaganya agar tidak mudah berpindah ke lain hati.
  5. Caleg lama teruslah lebih gencar dalam menyuarakan aspirasi masyarakat pemilih dalam dapilnya. Basis suara yang sudah ada patutlah dikembangkan dengan mensosialisasikan apa-apa yang selama ini sudah berhasil dilakukan. Mencari basis suara baru adalah setengah nilainya bagi kemenanganmu dan setengahnya lagi adalah basis suaramu selama ini yang masih solid mendukungmu.
  6. Sementara itu, bagi caleg baru yang “belum” memiliki kantung suara pasti haruslah berfokus kepada mengakses sel-sel suara yang lebih banyak dan beragam. Sel-sel suara ini sangat berbeda dengan basis suara bagi caleg lama. Sel-sel suara bagi caleg baru biasanya terdistribusi merata dalam geografis suatu dapil. Memang akan terjadi peraihan suara dominan bagi caleg baru di suatu wilayah tetapi karena perlu kemenangan maka sebaiknya buatlah merata suara yang engkau peroleh wahai caleg baru.

Caleg lama berfokus kepada basis-basis suaranya selama ini, sedangkan caleg baru berfokus kepada sel-sel suara kecil tetapi terdistribusi merata dalam dapilnya.

  1. Tidak ada kesimpulan yang pasti bahwa caleg incumbent lebih berpeluang menang jika dibandingkan caleg new-camer. Menurutku peluangnya sama 50:50, bisa terpilih bisa juga tidak. Keseriusan dan ketelitian adalah kunci-kunci kemenangannya. Ada jejak-jejak kemenagan yang dapat ditelusuri, ada jejak-jejak sejarah yang dapat diambil pelajaran dan tantangan.

Segitu dulu tulisan artikel, kudapatkan inspirasinya tadi setelah melihat tulisan sachetan bungkus puyer obat sakit gigi dari bintang toejoe jang terpertjaya.

(DC)

PILEG 2019 #17: PENGARUH POTENSI ELEKTABILITAS  PEN-CALEG-AN TERHADAP PILPRES

PILEG 2019 #17: PENGARUH POTENSI ELEKTABILITAS PEN-CALEG-AN TERHADAP PILPRES

Masih ingat tentunya terhadap pentingnya popularitas bagi seorang caleg yang maju tahun 2019 yang akan datang. Berikut opini kuterangkan kepadamu terkait kedua variable hubungan tersebut antara caleg terhadap pilpres.

  1. Dimana dirimu kini berada dalam partai apa dan partaimu mendukung capres-cawapres yang mana, kemudian perhatikan dengan seksama hubungan yang dapat terjadi diantara keduanya apakah akan menguntungkan popularitasmu sebagai caleg. Karena pemilih di dapil sangat mungkin merespon kuat keterhubungan ini atau tidak menghubungkan sama sekali.
  2. Setiap dapil bisa saja respon masyarakat pemilih akan mengaitkan pilihan caleg berbanding seiring dengan pilihan capres-cawapres. Atau sebaliknya, pilihan caleg dapat berbeda dengan pilihan capres-cawapresnya. Pahamiilah peta alur/ perilaku pemilih dalam dapilmu masing-masing, kusarankan ikuti saja maunya suara mayoritas masyarakat pemilih dalam dapilmu karena kepentinganmu sebagai caleg lebih berarti bagimu agar supaya dapat menang.
  3. Bisa saja pilihan masyarakat pemilih menjagokan capres-cawapres tertentu yang berbeda dengan capres-cawapres yang di dukung partaimu. Sementara dirimu sebagai caleg tetap membutuhkan dukungan pemilih yang berbeda dengan dukungan terhadap capres-cawapres partaimu itu.
  4. Sebagai caleg yang maju di musim pemilu yang cukup rumit kali ini (5 kertas suara untuk setiap 1 pemilih di TPS nanti) maka menurutku cukup menguras energi dan kesibukan pikiran masyarakat pemilih dalam dapilmu. Maka dari itu siapkan stok ketelitian dan stok kesabaran yang banyak dalam melakukan komunikasi terhadap masyarakat pemilih di dapilmu. Perhatikanlah prioritas utamamu sebagai caleg menang dalam menghadapi masyarakat pemilih di dapilmu. Kalkulasikanlah dengan seakurat mungkin jika dirimu sebagai caleg menang berkeinginan mengaitkannya dengan pilihan capres-cawapres yang didukung partaimu terhadap capres-cawapres yang didukung oleh masyarakat pemilih dalam dapilmu.
  5. Menurutku masyarakat pemilih saat ini sudah sangat cerdas sehingga mengarahkan pilihan mereka dibutuhkan cara – cara yang tidak boleh sembarangan berdasarkan semangat/ psikologi emosi semata. Detailing memahami perilaku masyarakat pemilih dalam dapilmu sangat dibutuhkan bagi caleg yang mau menang terpilih.
  6. Saat ini kedua paslon (capres-cawapres) didukung oleh koalisi partai. Sementara dirimu sebagai caleg menang perlu mempertahankan kemenanganmu terlebih dahulu sebelum berusaha memenangkan capres-cawapres yang didukung partaimu.
  7. Ingatlah parliament-treshold yang 4% itu nanti akan cukup sulit seiring-seirama jika diterapkan terhadap kepentingan antara pileg dan pilpres, kecuali khusus bagi partai PDIP dan GERINDRA. Para caleg yang berasal dari PDIP maupun GERINDRA akan terhubung langsung yang sangat kuat antara kepentingan pileg dengan pilpresnya.
  8. Bagi kawan-kawan caleg yang berasal dari PDIP maupun GERINDRA menurutku kalian harusnya cenderung lebih mudah dalam melakukan komunikasi politik kepada masyarakat pemilih. Karena materi komunikasinya searah antara kepentingan pileg dan pilpresnya tinggal kemampuanmu ‘mengkondisikan’ masyarakat pemilih dalam dapilmu itu.
  9. Sementara bagi partai selain kedua partai tersebut (PDIP dan GERINDRA) menurutku masih perlu lebih banyak penyesuaian-penyesuaian. PKS, PAN, BERKARYA, dan PBB sangat membutuhkan manuver yang cerdas dalam menjalankan strategi pemenangan calegnya. Begitu juga dengan GOLKAR, NASDEM, PKB, PPP, HANURA, PSI, dan PERINDO menurutku juga mengalami keharusan manuver-politik yang cerdas terkait persoalan strategi pemenangan calegnya.
  10. Beda dengan DEMOKRAT, menurutku langkah yang akan diambil cukup berorientasi terhadap kepentingan pileg semata nantinya karena memfokuskan PT 4% itu adalah bagian dari strategi bertahan dan kepentingan yang tidak dapat dipisahkan. Ini urusan eksistensi partai pada DPR-RI periode 2019-2024, jangan sampai partai yang ada saat akan hilang dalam pemilu 2024 nanti.
  11. Bagi caleg menang lakukanlah riset yang tepat dalam dapilmu untuk mengukur dan mendapatkan peta orientasi masyarakat pemilih. Karena dalam suatu perjalanan, jika tau dengan TITIK pasti tujuan akhir maka jalan yang tepat akan mudah dibuat untuk di lalui.
  12. Semoga kawan-kawan caleg sudah dapat merasakan akan dualisme ini dalam dirinya, antara kepentingan pileg dan pilpres mana yang lebih diutamakan. Atau apakah kepentingan calegmu dapat seiring dengan kepentingan pilpresmu.
  13. Selamat menghadapi paradoks politik nasional dan lokal, seimbanglah dalam menyikapinya maka kedamaian akan diraih.

Sekian lagi opini hari ini, selamat menyambut HARLAH HUT KEMERDEKAAN RI 17 Agustus 2018, dan selamat menjelang Iedul Qurban 1439 H. Salam kompak NKRI !!!

(DC)

PILEG 2019 #16: STRATEGI RAHASIA MENDONGKRAK POPULARITAS CALEG MENANG TAHUN 2019, MEMBACA POPULARITAS, SUATU ANALISIS SURVEI

PILEG 2019 #16: STRATEGI RAHASIA MENDONGKRAK POPULARITAS CALEG MENANG TAHUN 2019, MEMBACA POPULARITAS, SUATU ANALISIS SURVEI

Popularitasmu sebagai caleg menang tahun 2019 yang akan datang perlu selalu untuk dipantau terus menerus sepanjang upaya gerakan pemenanganmu. Pemantauan ini dimaksudkan agar supaya kepantasan itu dapat di raih secara lebih methodis. Berikut poin-poin yang dapat dijjadikan sebagai asupan second-opinion selama dan sepanjang proses gerakan pemenanganmu;

  1. Popularitas secara ke-angka-an “hanya” boleh didapatkan dari hasil survei ilmiah. Ada data-data dari lapangan yang dijadikan rujukan analisis. Tanpa data lapangan maka analisis popularitas akan menjadi data hiburan saja. Sebagai caleg 2019 maka sangat patutlah kiranya memahami hal ini.
  2. Pemilu kedepan adalah pemilu eranya digitalisasi, siapkan data-data mu yang logis itu. Semangat bolehlah kiranya dimiliki, tetapi tidak melupakan kejernihan akal-fikir dalam kalkulasi untuk menghitung – hitung kekuatanmu sesungguhnya. Dimana salah satu kekuatan yang kumaksud ialah kemampuanmu membaca arti popularitasmu sendiri.
  3. Sederhananya popularitas itu begini kawan ; namamu menghujam dalam semua benak masyarakat pemilih dalam dapilmu. Citramu menancap tepat di jantung hati masyarakat pemilih di dapilmu. Profil pribadimu yang baik itu tertanam bahkan bertumbuh dalam memori masyarakat pemilih di dapilmu. Jika ketiga hal itu terjadi maka selangkah lagi angka elektabilitasmu akan berkibar di seantero jagad publik di dapilmu, sehingga jadilah dirimu sebagai wakil mereka di parlemen (DPRD setempat) secara nyata.
  4. Seandainya saat ini angka popularitasmu sebanyak 10% maka itu artinya sudah lebih 1000-an orang mengenalmu (bayangkanlah wajah-wajah 1000-an orang itu yang mereka kenal kepadamu). Apa lagi jika dalam dapilmu itu jumlah pemilih (DPT) sejumlah 50.000 pemilih maka popularitasmu yang 10% itu artinya ada 5000-an pemilih yang telah mengenalmu. Ini start awal yang sudah cukup baik bagimu pada langkah-langkah awalmu hingga di bulan Juli ini.
  5. Berapa target angka popularitasmu? Apakah mencapai 95%? Hehehe.. jika segitu angkanya maka bergegaslah persiapkan dirimu untuk maju PILKADA yang akan datang di daerahmu bukan untuk PILEG nanti.
  6. Angka popularitas bagi seorang caleg menang tahun 2019 nanti yang sudah kuhitungkan cukuplah popularitas di angka sekitar 60%an. Itu sudah cukup sangat maksimal bagimu. Tenang dulu, angka segitu tidak harus sekarang kamu dapatkan. Menurutku angka popularitas itu boleh nanti mulai kamu dapatkan sejak akhir tahun 2018 ini. Ketika sudah memasuki awal tahun 2019 nanti maka 60%-an angka popularitasmu itu musti diraih, sebab nanti kita sudah akan berhitung angka elektabilitas (peluang keterpilihanmu). Sebagai bocoran awal, angka elektabilitas seorang caleg menang tahun 2019 adalah dikisaran di angka 15% – 20%an. Sudah mulai bisa berhitung kan?
  7. Ambil nafas dulu kawan.
  8. Popularitas caleg menang bukanlah angka hayal, dan juga bukan angka keramat. Angka popularitas adalah angka kalkulasi yang paling ilmiah yang dapat diterima akal sehat, yang penting angka – angka itu didapat dari hasil di lapangan. Karena menghitung angka popularitas adalah bagian dari upaya supaya dalam berdemokrasi lebih mengedepankan akal sehat. Yang kumaksud bukan sembarang angka popularitas, tetapi hendaknya angka popularitas yang nyata jika di kroscheck (uji petik) di lapangan.
  9. Kembali kepada bagaimana cara mendapatkan angka popularitasmu, yaitu dengan melihat hasil survei ilmiah. Ingatlah survei ilmiah dalam urusan pemilu tidak dilakukan sekali saja tapi mungkin 3 kali, diawal pergerakanmu kemudian ditengah dan menjelang hari akhir pemilu itu sendiri. Hal itu dimaksudkan supaya perkembangan angka popularitasmu dapat terpantau prosesnya. Suruhlah partaimu melakukan survei di dapilmu, karena survei ilmiah itu mahal.
  10. Sekali lagi, menghitung angka popularitasmu jika berdasarkan dari laporan tim – mu maka jadikanlah data itu sebagai hiburan teman-temanmu saja jangan disakiti hatinya. Tetaplah angka popularitasmu aslinya itu didasarkan pada hasil survei yang ilmiah berbasis ilmu pengetahuan.
  11. Cukup banyak juga para pakar survei berseliweran dalam jagat dunia maya, dan bahkan secara offline tetiba orang-orang jenis ini begitu “jago” menggunakan analisis survei. Eiitttt… ntar dulu tanyakan pernah survei dimana saja? Bagaimana hasilnya waktu itu?
  12. Apa maksud kusampaikan point nomor 11 diatas?.. itu supaya kamu tidak kemakan kata-kata ilmiah ala vickinisasi. Meskipun yang menyampaikan itu adalah kawan yang aktif dalam dunia ilmiah yang berasal dari alumnus universitas di planet mars. Karena ini tentang dirimu kawan, bukan urusan perkuliahanmu. Saat ini kamu berada di medan tempur per-caleg-an.  Hitunglah baik-baik angka popularitasmu secara bertahap dan secara berkala, sungguh penting menurutku.
  13. Dampingilah dirimu sebagai caleg menang tahun 2019 dengan pendampingan akal sehatmu. Boleh pendampingmu yang nyata adalah semangatmu yang bergelora itu, boleh kok. Tetapi jauh dari lubuk hatimu yang terdalam gunakanlah kemampuan logismu dalam merencanakan gerakan pemenanganmu. Dan selalu awalilah langkah-langkahmu dengan sila pertama dalam pancasila; ketuhanan yang maha esa. Ber-do’a lah.

Salam hormat pancasila-isme, salam persatuan Indonesia. Hidup NKRI !!!

(DC)

BACA JUGA : Software Pileg : Sistem Manajemen Pemilu Legislatif 2019

PILPRES 2019#04: RAHASIA TIGA PASANG CAPRES 2019

PILPRES 2019#04: RAHASIA TIGA PASANG CAPRES 2019

Sebentar lagi di bulan depan maksimal 10 Agustus 2018 sudah ada fix ada paslon capres – cawapres untuk pemilu tahun 2019 yang akan datang. Ulasan kali ini bersifat hiburan tambahan saja terkait lobbying yang saat ini lagi intensif dilakukan oleh berbagai pihak yang berkompeten di nasional, terutama kalangan kalangan ketua – ketua partai.

Apapun partai dimana keterlibatanmu saat ini, kami berharap opini kami kali ini sekali lagi bolehlah kiranya dijadikan “penyimpangan” analisis yang melihat dari sudut yang berbeda dari pemberitaan mainstream selama beberapa hari terakhir.

  1. PDIP adalah partai yang paling boleh menyinambungkan kembali untuk menempatkan kadernya sebagai presiden-wakil presiden periode 2019 – 2024. Pak Joko Widodo termasuk sosok yang paling tinggi potensinya untuk dicalonkan kembali oleh PDIP berikut mitra koalisinya.
  2. Sebagai rival head to head pak jokowi adalah pak Prabowo Subianto dengan partai Gerindranya adalah yang paling sering disandingkan berkompetisi dalam info – info umum yang beredar.
  3. Disisi lain sesungguhnya langkah taktis yang diambil oleh pak SBY sangatlah strategis sebagai pihak yang “melawan” opini ke-umum-an ini. Pak SBY lah menurut kami yang paling mampu menciptakan opsi sebagai pihak poros ketiga diluar kedua kubu yang tersebut diatas.
  4. Pak SBY telah berpengalaman secara mulus untuk menjadi presiden selama dua periode tanpa terusik full oleh mitra koalisinya saat itu. Sebagai contoh di periode keduanya pak SBY terlihat cukup mudah dan meyakinkan untuk menunjuk pak Budiono sebagai wapres saat itu.
  5. Beda kemudian dengan hari ini dimana pak Jokowi kini masih terlihat cukup sibuk menentukan siapa yang akan menjadi calon wakilnya.
  6. Melihat kepentingan politik jangka panjang (pasca 2024) maka cawapres pak Jokowi kali ini sangat memungkinkan untuk menjadi capres pada pasca 2024 itu. Inilah mungkin yang menjadi kalkulasi para elit di tubuh PDIP.
  7. Bagaimana dengan desas – desus parpol lainnya yang juga nampaknya cukup menyadari adanya pengkrucutan tiga sumbu poros kekuatan utama yang terjadi alamiah antara PDIP – GERINDRA – DEMOKRAT. Posisi Golkar dan PKB sebagai partai yang cukup besar selain ketiga poros utama itu  cukup berperan penting kita lihat bersama akhir – akhir ini dimana telah terjadi komunikasi yang cukup serius antara pak Airlangga dengan Cak Imin.
  8. Dilain pihak (namun sesungguhnya sedang diuji oleh publik) ada PAN dan PKS yang cukup getol mempertahankan penjajakan koalisinya kepada Gerindra.
  9. Yang lumayan menguras energi kalkulasi para elit partai juga adalah dimana pilpres kali ini dilaksanakan bareng dengan pileg. Biar bagaimanapun secara kepartaian kemampuan mendudukan sebanyak – banyaknya kadernya di parlemen juga perlu sangat serius untuk dilaksanakan.
  10. Menang pilpres tidak otomatis memenangi pileg. Begitu data – data penganalogian pilkada serentak yang baru saja terjadi. Paslon yang diusung partai besar dan atau ditambah koalisi besar cukup banyak dikalahkan oleh musuhnya koalisi partai menengah.
  11. Berkaca data hasil pileg tahun 2014 yang lalu dimana PDIP dan Golkar menempati perolehan suara paling tinggi dibandingkan partai lainnya. Namun pileg kali ini dari berbagai analisis hasil pengukuran/ survei prediksi ada yang mengatakan Gerindra dan PKS cukup berpeluang untuk merangsek naik menjadi empat besar. PKS, PKB, PAN, PPP, PBB, mungkin saja akan mendahulukan kepentingan pilegnya jika terjadi kebuntuan negosiasi dalam pencapresan kali ini.
  12. Bagaimana dengan partai lainnya yang juga sangat berkeringat untuk menjadi unggul dalam kompetisi pileg 2019 yang akan datang. Ada Nasdem, Perindo, dan HANURA, yang juga membagi fokusnya antara pilpres dengan pileg. Memainkan dua kepentingan yang berbeda sekaligus diperlukan tingkat kecerdasan politik yang tidak umum. Cermat dalam pemetaan, dan mampu dengan sangat sabar untuk mengeksekusi setiap keputusan adalah kuncinya.
  13. Sudahlah kawan politik itu sangat dinamis, dimana kepentingan lebih tinggi nilainya dari pada musuh politik. Begitu fatsun umum yang sering secara samar terlihat dipermukaan ruang public analisis politik terkini.
  14. Parpol yang menyadari posisinya “tingkat menengah” tidak akan memaksakan kadernya untuk maju menjadi capres atau cawapres, tetapi sangat mungkin memindahkan orientasinya kepada pemenangan pileg untuk sebanyak – banyaknya mendudukan kadernya di parlemen nantinya.
  15. Para elit dan para analis politik pasti sangat memahami hal itu. Selainnya pada line lapis kedua bagi elit pelaksana di daerah –  daerah cukuplah elit dipusat segera memutuskan siapa capres – cawapres maka akan siap di amin-kan hingga ke grass-root.
  16. Sedikit sebagai clue tambahan bahwa ada kekuatan lobbying yang menurut kami cukup menghiasi kalkulasi pencalonan dalam pilpres kali ini adalah massa dan elit PA 212. Kemana mereka akan berlabuh?
  17. Point terakhir sebagai opini kami kali ini adalah, seperti terjadinya tarik menarik kepentingan yang sangat kuat dan kalkulasi apakah “membuat” dua pasang saja pilpres kali ini ataukah terbelah lagi sehingga terjadi tiga pasangan capres – cawapres.
  18. Kita semua mungkin bukan “si pembuat” pasangan itu, tapi kita adalah “object” yang mungkin mereka sangat perhitungkan.
  19. Yuk kita teruslah memirsanya secara cermat hingga tanggal 10 Agustus 2018 mendatang. Sambil melihat kemana sesungguhnya arah dunia perpolitikan Indonesia kedepan.

Tetaplah bersemangat membaikan, salam kompak NKRI !!!

(DC)