PILEG 2019 #12: STRATEGI DASAR CALEG MENANG TAHUN 2019

PILEG 2019 #12: STRATEGI DASAR CALEG MENANG TAHUN 2019

Ada tiga hal mendasar yang perlu dimiliki para caleg menang pada pemilu tahun 2019 mendatang. Mungkin sudah banyak pembahasan terkait dengan persoalan ini, hanya saja kami merasa perlu untuk sedikit mengingatnya kembali sehingga lebih menjadikannya sebagai diskursus yang lebih sering muncul untuk didalami oleh berbagai pihak yang konsen terhadap itu.

  1. Personality ; persiapan paling awal adalah terhadap kesiapan lahir-bathin pribadi sang caleg. Setiap caleg memiliki ke-khas-an masing-masing. Ada caleg yang ditandai dengan imej seorang religious, sebagai pemuda aktif/ organisatoris, pengusaha sukses, jago orasi, santun-cerdas, merakyat-darmawan, professional dalam bidang tertentu, dan seterusnya dimana imej yang disematkan ini berasal dari masyarakat pemilih itu sendiri.

Selain sematan imej yang terjadi secara alamiah tersebut ada juga pencitraan yang dengan sengaja untuk dibentuk agar supaya mendapatkan predikat dari masyarakat pemilih yang sesuai dengan yang diinginkan. Format pencitraan ini dilakukan dengan secara sadar dan sengaja dengan mengamati peluang kesesuaian dengan trend yang berkembang pada masyarakat pemilih sehingga semakin mendekatkan dan meng-eratkan antara kepentingan keduanya.

Termasuk hal mendasar perlu juga untuk menyadari dan mencerna kecerdasan Intelligence Quotient (IQ), Spiritual Question (SQ), dan Emotional Quotient (EQ). Kami hanya menyinggungnya semata, silahkan mencari literaturnya yang mudah didapat. Penting ketiga hal urusan kecerdasan ini untuk ditelaah.

Juga kemampuan untuk menyadari tugas mendasar bagi seorang wakil rakyat yang duduk di parlemen. Tugas-tugas utama ketika menjadi anggota dewan perlu didalami sejak sekarang. Masyarakat pemilih perlu mendengar langsung penjelasan dari sang caleg terkait kemampuan personal ini, sehingga proses pendelegasian kepentingan rakyat dapat terwujud secara lebih teredukasi.

Fungsi legislatif adalah fungsi legislasi/ membentuk undang-undang, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Lagi-lagi silahkan mencari literatur yang pas sesuai ke-Indonesiaan dan sesuaikan juga secara filosofisnya.

  1. Blue-print strategis ; menyadari posisi start awal bagi diri pribadi caleg adalah keharusan. Menyusun berbagai hal termasuk menyadari posisi popularitas saat ini pada setiap segmen target suara yang dibidik oleh sang caleg. Persiapan awal akan berbeda bagi setiap caleg dalam setiap partai tertentu, karena kondisi yang berbeda akan ditemukan baik kondisi pribadi maupun kondisi di lapangan/dapil.

Merencanakan langkah taktis ini idealnya mempertimbangkan kemampuan pembiayaan, ketersediaan durasi waktu, serta kemampuan pengarahan personalia tim yang klop dengan ketepatan setiap gerak langkah upaya mentarget suara pemilih.

Blue-print strategis ini dimaksudkan sebagai “buku panduan” gerakanmu berikut langkah-langkah taktisnya.

Susun sendiri dan lakukan secara mandiri kemudian rahasiakan, karena mengumbar strategi ke ruang publik hanyalah upaya mengecoh strategi lawan. Strategi aslinya tetap disembunyikan.

  1. Manajemen di masa pergerakan pemenangan ; kemampuan dalam pengamatan terhadap kemampuan kontestan lain baik di internal partai sesama caleg maupun terhadap lawan dari partai lain. Mempertimbangkan peristiwa internal-eksternal ini memerlukan keseriusan yang mendalam. Sisihkan waktu yang cukup untuk memahaminya.

Masa pergerakan bagi caleg menang sudah dimulai, ada yang tersusun rapi ada juga nampak bagaikan air yang mengalir saja. Keduanya jika ditinjau dari sudut pandang berbeda adalah merupakan strategis.

Ada manajemen kepribadian caleg (meliputi waktu, tenaga, permintaan), manajemen tim, dan ada manajemen pendukung. Ketiga manajemen ini mustinya bersinergis demi mendapatkan dukungan khalayak/ masyarakat pemilih.

Dibutuhkan data-data yang update dalam urusan manajemen ini. Tidak mengabaikan sebaran wilayah dan segmentasi pemilih adalah poinnya.

Temukan sendiri indikator manjemenmu sebagai caleg menang tahun 2019. Memilah mana yang paling penting, mana yang tidak penting. Sekali lagi menyesuaikannya dengan kemampuan yang dimiliki serta menyeiramakan dengan ketepatan pada masyarakat pemilih.

Toh, pada ujungnya semua strategi adalah bagaimana mendapatkan suara pemilih secara lebih pasti dan lebih banyak dari semua kontestan lainnya.

Sekian opini siang ini, selamat memulai…

Salam dalam kebhinnekaan, NKRI Berjaya !!!

(DC)

PILEG 2019 #11:STRATEGI CALEG  ; RAHASIA MENDONGKRAK POPULARITAS DAN ELEKTABILITAS

PILEG 2019 #11:STRATEGI CALEG ; RAHASIA MENDONGKRAK POPULARITAS DAN ELEKTABILITAS

Dapat cerita dari seorang kawan yang nyaleg empat tahun yang lalu beliau pernah sosialisasi disebuah perkampungan kecil yang warganya antusias sekali mengahadiri acara sosialisasi tersebut dirumah salah satu warga. Sampailah sesi akhir menjelang larut malam dengan penerangan lampu seadanya supaya terkesan merakyat maka kawan itu berorasi hingga berpeluh keringat karena terlalu bersemangat.

Kemudian  setelah selesai menjawab pertanyaan dari beberapa warga sang kawan caleg itu menanyakan apakah nanti siap untuk mendukung saya, dengan serentak mereka menjawab siap! Wah closing yang menggembirakan gumamnya.

Selanjutnya ditanyakan apakah semua warga disini memiliki hak pilih? Mulai nampak beberapa warga saling pandang dengan sorot mata kebingungan. Salah serang hadirin memberanikan diri untuk angkat bicara dan berkata ; “ nah itu masalahnya pak, hampir sebagian besar dari kami ini masih ber-KTP ditempat asal kami dulu sebelum transmigasi kesini ” pungkasnya.

Singkat cerita acara sosialisasi tersebut usai dengan menyisakan pertanyaan besar, bagaimana mungkin warga setempat mau mendukung tetapi mereka belum punya KTP atau surat keterangan domisili di tempat/ dapil disitu?

Berangkat dari sepenggal cerita tersebut diatas, maka alangkah baiknya caleg dan timnya melakukan observasi awal terlebih dahulu sebelum mengadakan acara sosialisasi. Pengenalan wilayah/medan melalui observasi  awal dimaksudkan untuk menghindari kekeliruan target seperti seperti cerita pengalaman kawan caleg tadi.

Dengan kata lain target popularitas juga perlu diperhatikan dimana saja tempatnya dan target orang-orangnya sehingga dapat dihindari keliru sasaran.

Selain itu dimana target elektabilitas juga perlu untuk dirasa-rasa apakah mungkin dukungan warga otomatis menjadi peluang besar meningkatkan elektabilitas yang dapat diwujudkan pada saat hari H pemilihan nanti.

Rahasia isu popularitas dan elektabilitas ini perlu diungkap secara lebih teliti lagi bagi setiap caleg yang maju tahun 2019 mendatang agar dukungan tidak berdasar klaim semata (pepesan kosong), kuat secara hitung-hitungan namun kosong melompong suara nanti di tempat pemungutan suara (TPS). Rasa lelah tak terbayar setimpal … hehehe.

Sebaiknya gunakanlah instrument yang dapat dijadikan rujukan untuk mengukur sejauh mana sudah setiap langkah dan upaya gerakan pemenanganmu yang sudah dilakukan. Melakukan evaluasi secara rutin terhadap setiap upaya pemenangan adalah bentuk kecerdasan personal yang harus dimiliki oleh setiap caleg menang. Pasrah boleh, tetapi setelah upaya rasional-maksimalmu dilakukan.

Karena dunia percalegan tahun mendatang akan lebih sengit pertarungannya jika dibandingkan pemilu empat tahun lalu. Kini modernisasi gerakan pemenangan politik lebih kuat, bahkan sampai ketingkat terendah/lokal. Hal ini ditandai dengan kencangnya arus informasi dimana nyaris setiap pemilih dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang sama dengan caleg sehingga masyarakat cenderung lebih cerdas dan cukup sulit jika hanya sekedar “dirayu” melalui jualan visi-misi tanpa memungkinkan untuk diwujudkan dalam bentuk yang nyata.

Artinya masyarakat pemilih saat ini sudah tidak zamannya lagi dapat dibuai dengan sekedar kata-kata argumentative seakan merakyat atau pembela kepentingan rakyat. Sederet data-data sederhana yang pernah dilakukan (track-record) akan lebih meyakinkan dari pada janji-janji manis yang tidak pernah dibuktikan.

Bagaimana dengan caleg new-entry?

Bagi caleg yang baru masuk (baru pertama kali nyaleg) dapat napak tilas dari para senior sebelumnya. Temukanlah perbandingan dimana dirimu akan lebih unggul. Cari kekosongan yang terjadi selama ini, disitulah peluangmu.

Caleg incumbent memang lebih berpeluang, tetapi jangan lupa kalau masyarakat pemilih juga membutuhkan penyegaran (dapat beralih pilihan) jika selama ini mereka merasa kurang diperhatikan.

Maksimalkan dulu kedikenalanmu (popularitas). Teruslah hadir dalam setiap momentum jagat percalegan tahun 2019. Gunakan kecerdasan khas yang mengaku miliki dan pasanglah niat yang kuat serta jujur terhadap masyarakat pemilih. Buktikan jiwa merakyat, berhati-hatilah terhadap asumsi memanfaatkan rakyat pemilih demi mengejar jabatan kepentingnmu sendiri… ehm.

Sekianlah, semoga bermanfaat narasi singkat ini. Jangan lupa bahagia bersama orang sekelilingmu… salam santun, salam kompak NKRI !!!

(DC)

PILEG 2019 #10: STRATEGI MENDONGKRAK ELEKTABILITAS CALEG TINGKAT KABUPATEN DAN KOTA

PILEG 2019 #10: STRATEGI MENDONGKRAK ELEKTABILITAS CALEG TINGKAT KABUPATEN DAN KOTA

Caleg yang maju berkompetisi tahun 2019 mendatang akan membawa harapan baru bagi dirinya sendiri, keluarganya, tetangganya, daerahnya, serta bangsa Indonesia juga pada umumnya. Pemilu tahun 2019 adalah peristiwa besar, dimana kedewasaan perpolitikan di tanah air akan teruji kembali. Demokratisasi sekali lagi diharapkan semakin beranjak dewasa demi kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara sejak sekarang menuju optimisme masa depan yang lebih cerah.

Anak bangsa yang berkompeten harus mampu menunjukan eksistensinya sebagai caleg yang layak atau pantas untuk didukung oleh masyarakat pemilih. Maju menjadi caleg adalah bentuk partisipasi positif untuk mewakili masyarakat pemilih dalam dapil sehingga diharapkan suara rakyat itu dapat tersalurkan secara konstitusional pada parlemen lokal selanjutnya.

Caleg yang maju dan dapat memenangkan kompetisi pileg nanti itu tentu harus memliki trik yang jitu. Dapat duduk mewakili masyarakat dalam dapil pada DPRD setempat adalah harapannya. Nah, untuk itulah isu elektabilitas ini coba kita telaah bersama kali ini.

Elektabilitas atau peluang keterpilihan telah menjadi kosakata umum pada setiap masa proses menjelang pemilihan lima tahunan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk seorang caleg agar tinggi angka elektabilitasnya serta mampu bertahan hingga hari H pemilihan.

Berikut poin-poinnya;

  1. Angka elektabilitas yang tinggi harus dimulai dengan kemampuan meningginya angka popularitas. Secara nalar sederhana angka popularitas harus lebih tinggi jika dibandingkan angka elektabilitas.
  2. Selain angka popularitas yang tinggi sebelum menuju angka elektabilitasnya biasanya seorang caleg juga memiliki afeksi (penerimaan di masyarakat pemilih yang suka atau tidak) terhadap diri caleg bersangkutan. Jangan sampai menjadi caleg populer tetapi tidak di sukai oleh masyarakat pemilih.
  3. Ketiga hal ini (popularitas, afeksi, elektabilitas) dapat dijalankan secara sinergis dengan panduan pemetaan yang detail pada setiap wilayah terkecil geografis dalam suatu dapil. Pengelompokan masyarakat pemilih (segmentasi pemilih) penting dilakukan sebagai target atau sasaran sosialisasi.
  4. Angka popularitas yang tinggi, kemudian angka afeksi juga tinggi, maka untuk menuju tingginya angka elektabilitas semakin sangat memungkinkan.
  5. Ada strategi meningkatkan angka popularitas, ada strategi menaikan angka afeksi, dan ada juga strategi untuk meningkatkan peluang elektabilitas. Pelajarilah ketiga strategi tersebut sebagai dasar dalam memandang upaya pemenanganmu.

BACA JUGA : Strategi Sainte League Murni Caleg Menang 2019

Sebagai langkah kecil di awal-awal seperti saat sekarang ini penting bagi seorang caleg yang maju berkompetisi pada pileg tahun 2019 yang akan datang untuk mengkalkulasi secara cermat tentang strategi yang tepat untuk dijalankan dalam dapilnya.

Memahami gambaran awal dalam dapil terkait dengan perilaku masyarakat pemilihnya menjadi mutlak dilakukan sehingga langkah-langkah gerakan pemenangan pibadi caleg dapat berjalan secara lebih terarah, rasional, kontinyu, khas, up-to-date, serta tepat sasaran.

Tangkaplah suatu kesimpulan yang bermanfaat dari setiap artikel  yang kami sajikan dalam weblog www.vote-indonesia.com   ini. Lakukan perbandingan setiap isu yang telah kita bahas disini terhadap berbagai teori – teori pemenangan (election) yang telah ada kemudian sesuaikan dengan kebutuhanmu sebagai caleg menang tahun 2019 nanti.

Selamat berjuang dan mengabdilah untuk kepentingan rakyat, salam santun NKRI !!!

(DC)

PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

  1. Rakyat Indonesia akan dengan senang hati berpartisipasi dalam pemilu tahun 2019 yang akan datang, karena itu “hanyalah” bagian dari proses kesinambungan rakyat negri ini yang sudah sama-sama disepakati oleh rakyat itu sendiri.
  2. Rakyat di negri ini sangat mandiri, pemerintahan adalah bagian dari rakyat itu sendiri. Perkara ada oknum di pemerintahan ada yang nampak seperti tidak menjalankan misi kehidupan rakyat itu hanyalah bagian sedikit yang secara pasti akan perlahan terkikis oleh kejumudannya sendiri.
  3. Grass-root hari ini memiliki keunikannya sendiri, terlihat seperti ada pencampuran faktor idealisme dan pragmatisme yang berjalan bersama dalam sikap perilaku memilihnya. Menjadikannya terpisah hanyalah menghasilkan kekonyolan karena rakyat Indonesia hari ini sudah terbiasa berbeda pilihan dalam setiap pemilu tetapi tetap secara substansi kehidupannya mengusung persatuan yang sejati di kehidupan keseharian dalam bermasyarakat.
  4. Pemimpin Indonesia hari ini bukanlah kelompok dari hasil warisan masa lalu, karena rakyatnya lah sesungguhnya yang senantiasa secara turun temurun yang menjadi pewaris sah nusantara.
  5. Penghormatan rakyat Indonesia paling tinggi diwujudkan dengan sila pertama pancasila yakni ketuhanan yang maha esa. Rasa hormat diberikan tidak berlebih kepada manusia/ pemimpin. Rakyat memberikan rasa hormat kepada kepemimpinan dilakukan dengan sadar bukan karena terpaksa. Bangsa ini tidak mengenal penghormatan berlebih kepada manusia kecuali sebagaimana keharusan saja. Tidak ada raja yang dihormati melebihi penghormatan kepada seorang ayah dan ibu dalam rumah tangga rakyat Indonesia.
  6. Rakyat Indonesia tidak mengenal arak-arakan secara berlebihan untuk menyanjung suatu keluarga kaya atau keluarga terhormat. Kepemimpinan sudah sangat terbiasa berganti-ganti tanpa memandang “kesucian” dari keturunan/ trah warisan. Ia hanya dirasakan secara mendalam rasa hormat itu dalam lubuk hati setiap orang. Karena rakyat nusantara adalah manusia-manusia yang sangat mengenal eksistensi agung diluar semua manusia.
  7. Nasionalisme rakyat Indonesia sudah mendarah daging dan melekat yang kemudian dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Seandainya terjadi peperangan dengan negara lain maka percayalah rakyat Indonesia yang kalem ini yang akan menjadi tentara sesungguhnya untuk menghabisi negara penyerang itu. Silahkan tanyakan kepada jenderal perang manapun di dunia saat ini adakah yang berani nekat mengajak negaranya untuk menyerang bangsa Indonesia?
  8. Jika ada sekumpulan orang yang merasa paling berhak atas negeri ini maka hal itu akan dibabat habis oleh alam Indonesia sendiri. Pahamilah kemandirian rakyat Indonesia ini maka akan ditemukan kebijaksanaan yang sangat tinggi jika dibandingkan bangsa lain di dunia hari ini.
  9. Rakyat Indonesia tidak akan mampu terpecah-belah seperti kebanyakan negara-negara yang dimana rakyatnya mudah diadu domba dengan isu agama dan konflik kepentingan kelompok materialisme. Kelompok pengatasnamaan agama tidak akan pernah dapat dibenturkan dengan kelompok pro-materialisme karena bagi rakyat Indonesia keduanya adalah harus bejalan bersama dalam keharmonisan.
  10. Memang ada hari ini sekelompok kecil orang yang mengatasnamakan rakyat Indonesia dalam klaim tindakannya sebagai pemimpin tetapi hal itu bukanlah asli perilaku bangsa Indonesia. Karena bangsa Indonesia adalah bangsa pengayom yang paling mampu menyerap setiap aspirasi bahkan aspirasi dari negri asing sekalipun asalkan mau bekerjasama sesuai dengan kesadaran / kebijaksanaan bangsa Indonesia. Perhatikanlah negara lain dimana manusia pendatang di negara mereka akan dibatasi/ diberikan pagar yang sangat kokoh sehingga hanya bidang tertentu yang terbatas yang boleh diakses.
  11. Negara Indonesia hari ini hanya mampu di sejajarkan dengan negara Rusia dan Amerika Serikat. Dimana Indonesia jauh lebih memilki keseimbangan pandangan keharmonisan peradaban dan hak asasi manusia secara ril. Secara manusia pribadi bangsa Indonesia memiliki kemandirian yang tidak diragukan kehebatannya, sedangkan secara kelompok bangsa Indonesia bukan tipe kelompok manusia yang menampilkan kedigdayaannya. Kecuali kalau terpaksa harus diuji untuk itu. Telitilah “kemanjaan” bangsa lain dalam bernegara mereka, dan perhatikan cara mereka memandang masa depan. Apakah rasa kehawatiran yang mendominasi? Pakailah indikator penilaian psikologi-adil maka akan sangat jelas terlihat perbedaannya dimana rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan konfik namun harmonis, dan terbiasa materialis namun tetap dalam bingkai sharing “mangkubumi” bukan alih-alih untuk menguasai bangsa lain.
  12. Bangsa nusantara dulu yang mana hari ini diwarisi oleh rakyat Indonesia adalah bangsa yang merdeka. Ia berdinamika di internalnya saja dimana tidak akan “mengajak” bangsa lain untuk terlibat dalam pencarian jati dirinya. Hubungan dengan bangsa lain dilakukan dalam batas sharing kebijaksanaan bukan penguasaan atas sumber daya bangsa lain. Bangsa nusantara mewariskan peradaban hakiki yang mencontohkan sikap hidup yang dominan berorientasi kepada tingginya derajad kemanusiaan. Pemimpin di nusantara bukanlah tipe pemimpin yang mau “disembah” (perhatikan rakyat yang menyembah pemimpinnya itu bukan asli tipe kepribadian nusantara loh). Jangan paksa kita menyebutkan negara mana contohnya hari ini dimana rakyat tidak diperkenankan membicarakan politik negara dan haram kalau mau mengganti orang “istana” mereka. Di kita tidak semua itu.
  13. Para pemimpin Indonesia tahun 2019 adalah tipe kepemimpinan yang berkesinambungan dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Negri ini selalu akan menghasilkan pemimpin yang asli rakyat Indonesia, ala Indonesia. Sedikit saja melenceng dari itu semua maka perhatikan sikap yang akan diberikan rakyat Indonesia kepada pemimpinnya. Jangan paksa rakyat Indonesia “mengajari” rakyat negara lain karena itu akan menandakan kemunduran dunia. Artinya jika rakyat Indonesia mendiamkan berbagai peristiwa dunia hari ini itu dikarenakan masih dalam batas “toleransi kemanusiaan”.  Kecuali kalau sudah darurat maka rakyat Indonesia dimana tipe aslinya akan keluar sebagai pengayom untuk bangsa lain yang terkadang sangat mampu untuk “menawur” bangsa manapun. Ingatlah yang katanya 350 tahun bangsa ini dijajah tidak merontokan jiwa asli nusantara bangsa Indonesia hari ini. Dan perhatikanlah gaya “menjajah” bangsa Indonesia hari ini terhadap negara lain adakah bangsa lain itu merasa terjajah?. Pakem “menjajah” difikiranmu berbeda pakemnya dengan bangsa Indonesia. Nusantara “menjajah” dunia masa lalu menghasilkan kebebasan dunia hari ini dimana peran kelompok pro-materialisme merasa diatas. Orang yang merasa diatas pasti bukan diatas, begitu juga orang yang mengejar keatas pasti belum berada diatas. Berhati-hatilah karena sesungguhnya yang tidak terlihat mengejar apapun itulah puncak sesungguhnya.
  14. Memang ada sedikit penyesuaian (kekeliruan) pada bangsa Indonesia hari ini yakni terkait pelurusan tujuan berbangsa dan bernegara secara administratif belaka. Variabel penelitiannya harusnya bukan urusan materi tetapi urusan keadilan mendasar dimana urusan hak dan kewajiban yang kurang komitmennya. Masih ada rakyat yang menjadi pejabat yang salah langkah dengan membuat “pagar materi” (menumpuk harta kekayaan pribadi) supaya mampu berkuasa yang mana itu salah besar. Materi pada negri ini bukan hanya sekedar kekayaan alam yang melimpah tapi kekayaan karakter asli gotong-royong itulah sejatinya materi bangsa Indonesia yang pada dahulunya rakyat nusantara mampu menghasilkan Kapur Barus, Borobudur, Keris-keris Nuklir, Cengkeh dan Pala, Candi Padangan di Garut, serta peninggalan kemanusiaan lainnya yang masih menunggu untuk ditemukan oleh generasi mendatang.
  15. Bangsa Indonesia pernah lupa akan kedigdayaannya, bahkan sempat pernah takjub akan peradaban lain dibawahnya sehingga hal itu berasa sisanya sampai hari ini. Ini bukan cerita sejak tahun 1945 saja tetapi ini cerita telah dimulai tahun 1511 (abad ke 16) hingga terus sekarang. Padahal perhatikanlah sejarah bangsa Indonesia sejak abad ke 7 misalnya ada apa saja. Atau tarik lagi kebelakang sejak abad ke 3 misalnya di tanah Kutai ada apa saja (bacalah prasati Yupa dari Kutai). Atau perhatikan lagilah semacam situs peninggalan gunung Padangan di Garut itu rahasia apakah gerangan. Atau pelajari lagi lah apa itu atlantis/ sunda-land, paparan sahul – paparan sunda, Wayang Mahabharata, dan semisalnya. Pelan-pelan pelajari dan perhatikan!
  16. Ini bukan hanya sekedar cerita pemilu tahun 2019, sudah-sudahlah “menghina” ketidak-tahuanmu akan bangsa nusantara itu. Kan kita sepakat negri ini sangat berlimpah kekayaannya (kalau gak melimpah kekayaannya mana mungkin di “samperin” 350 tahun) bahkan hari ini lihat data pengerukan sumber daya alam, berapa trilyun KWD (Kuwait Dinar ; 1 KWD = 3 USD, 1 KWD = Rp 44.500,-)  yang intens dikeluarkan hasil dari bumi Indonesia, ada yang tau persis nilainya?
  17. Begitulah kutulis artikel ini sebagai godaan bagi para konsultan politik, mahasiswa Indonesia, politisi pemula (para caleg yang maju tahun 2019) serta anak bangsa yang membaca setiap point dari tulisan lepas hari ini.
  18. Segitu dulu, selamat melanjutkan aktifitas masing-masing. Selamat makan siang bagi yang melakukan.

Salam kompak NKRI  !!!

(DC)