PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

  1. Rakyat Indonesia akan dengan senang hati berpartisipasi dalam pemilu tahun 2019 yang akan datang, karena itu “hanyalah” bagian dari proses kesinambungan rakyat negri ini yang sudah sama-sama disepakati oleh rakyat itu sendiri.
  2. Rakyat di negri ini sangat mandiri, pemerintahan adalah bagian dari rakyat itu sendiri. Perkara ada oknum di pemerintahan ada yang nampak seperti tidak menjalankan misi kehidupan rakyat itu hanyalah bagian sedikit yang secara pasti akan perlahan terkikis oleh kejumudannya sendiri.
  3. Grass-root hari ini memiliki keunikannya sendiri, terlihat seperti ada pencampuran faktor idealisme dan pragmatisme yang berjalan bersama dalam sikap perilaku memilihnya. Menjadikannya terpisah hanyalah menghasilkan kekonyolan karena rakyat Indonesia hari ini sudah terbiasa berbeda pilihan dalam setiap pemilu tetapi tetap secara substansi kehidupannya mengusung persatuan yang sejati di kehidupan keseharian dalam bermasyarakat.
  4. Pemimpin Indonesia hari ini bukanlah kelompok dari hasil warisan masa lalu, karena rakyatnya lah sesungguhnya yang senantiasa secara turun temurun yang menjadi pewaris sah nusantara.
  5. Penghormatan rakyat Indonesia paling tinggi diwujudkan dengan sila pertama pancasila yakni ketuhanan yang maha esa. Rasa hormat diberikan tidak berlebih kepada manusia/ pemimpin. Rakyat memberikan rasa hormat kepada kepemimpinan dilakukan dengan sadar bukan karena terpaksa. Bangsa ini tidak mengenal penghormatan berlebih kepada manusia kecuali sebagaimana keharusan saja. Tidak ada raja yang dihormati melebihi penghormatan kepada seorang ayah dan ibu dalam rumah tangga rakyat Indonesia.
  6. Rakyat Indonesia tidak mengenal arak-arakan secara berlebihan untuk menyanjung suatu keluarga kaya atau keluarga terhormat. Kepemimpinan sudah sangat terbiasa berganti-ganti tanpa memandang “kesucian” dari keturunan/ trah warisan. Ia hanya dirasakan secara mendalam rasa hormat itu dalam lubuk hati setiap orang. Karena rakyat nusantara adalah manusia-manusia yang sangat mengenal eksistensi agung diluar semua manusia.
  7. Nasionalisme rakyat Indonesia sudah mendarah daging dan melekat yang kemudian dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Seandainya terjadi peperangan dengan negara lain maka percayalah rakyat Indonesia yang kalem ini yang akan menjadi tentara sesungguhnya untuk menghabisi negara penyerang itu. Silahkan tanyakan kepada jenderal perang manapun di dunia saat ini adakah yang berani nekat mengajak negaranya untuk menyerang bangsa Indonesia?
  8. Jika ada sekumpulan orang yang merasa paling berhak atas negeri ini maka hal itu akan dibabat habis oleh alam Indonesia sendiri. Pahamilah kemandirian rakyat Indonesia ini maka akan ditemukan kebijaksanaan yang sangat tinggi jika dibandingkan bangsa lain di dunia hari ini.
  9. Rakyat Indonesia tidak akan mampu terpecah-belah seperti kebanyakan negara-negara yang dimana rakyatnya mudah diadu domba dengan isu agama dan konflik kepentingan kelompok materialisme. Kelompok pengatasnamaan agama tidak akan pernah dapat dibenturkan dengan kelompok pro-materialisme karena bagi rakyat Indonesia keduanya adalah harus bejalan bersama dalam keharmonisan.
  10. Memang ada hari ini sekelompok kecil orang yang mengatasnamakan rakyat Indonesia dalam klaim tindakannya sebagai pemimpin tetapi hal itu bukanlah asli perilaku bangsa Indonesia. Karena bangsa Indonesia adalah bangsa pengayom yang paling mampu menyerap setiap aspirasi bahkan aspirasi dari negri asing sekalipun asalkan mau bekerjasama sesuai dengan kesadaran / kebijaksanaan bangsa Indonesia. Perhatikanlah negara lain dimana manusia pendatang di negara mereka akan dibatasi/ diberikan pagar yang sangat kokoh sehingga hanya bidang tertentu yang terbatas yang boleh diakses.
  11. Negara Indonesia hari ini hanya mampu di sejajarkan dengan negara Rusia dan Amerika Serikat. Dimana Indonesia jauh lebih memilki keseimbangan pandangan keharmonisan peradaban dan hak asasi manusia secara ril. Secara manusia pribadi bangsa Indonesia memiliki kemandirian yang tidak diragukan kehebatannya, sedangkan secara kelompok bangsa Indonesia bukan tipe kelompok manusia yang menampilkan kedigdayaannya. Kecuali kalau terpaksa harus diuji untuk itu. Telitilah “kemanjaan” bangsa lain dalam bernegara mereka, dan perhatikan cara mereka memandang masa depan. Apakah rasa kehawatiran yang mendominasi? Pakailah indikator penilaian psikologi-adil maka akan sangat jelas terlihat perbedaannya dimana rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan konfik namun harmonis, dan terbiasa materialis namun tetap dalam bingkai sharing “mangkubumi” bukan alih-alih untuk menguasai bangsa lain.
  12. Bangsa nusantara dulu yang mana hari ini diwarisi oleh rakyat Indonesia adalah bangsa yang merdeka. Ia berdinamika di internalnya saja dimana tidak akan “mengajak” bangsa lain untuk terlibat dalam pencarian jati dirinya. Hubungan dengan bangsa lain dilakukan dalam batas sharing kebijaksanaan bukan penguasaan atas sumber daya bangsa lain. Bangsa nusantara mewariskan peradaban hakiki yang mencontohkan sikap hidup yang dominan berorientasi kepada tingginya derajad kemanusiaan. Pemimpin di nusantara bukanlah tipe pemimpin yang mau “disembah” (perhatikan rakyat yang menyembah pemimpinnya itu bukan asli tipe kepribadian nusantara loh). Jangan paksa kita menyebutkan negara mana contohnya hari ini dimana rakyat tidak diperkenankan membicarakan politik negara dan haram kalau mau mengganti orang “istana” mereka. Di kita tidak semua itu.
  13. Para pemimpin Indonesia tahun 2019 adalah tipe kepemimpinan yang berkesinambungan dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Negri ini selalu akan menghasilkan pemimpin yang asli rakyat Indonesia, ala Indonesia. Sedikit saja melenceng dari itu semua maka perhatikan sikap yang akan diberikan rakyat Indonesia kepada pemimpinnya. Jangan paksa rakyat Indonesia “mengajari” rakyat negara lain karena itu akan menandakan kemunduran dunia. Artinya jika rakyat Indonesia mendiamkan berbagai peristiwa dunia hari ini itu dikarenakan masih dalam batas “toleransi kemanusiaan”.  Kecuali kalau sudah darurat maka rakyat Indonesia dimana tipe aslinya akan keluar sebagai pengayom untuk bangsa lain yang terkadang sangat mampu untuk “menawur” bangsa manapun. Ingatlah yang katanya 350 tahun bangsa ini dijajah tidak merontokan jiwa asli nusantara bangsa Indonesia hari ini. Dan perhatikanlah gaya “menjajah” bangsa Indonesia hari ini terhadap negara lain adakah bangsa lain itu merasa terjajah?. Pakem “menjajah” difikiranmu berbeda pakemnya dengan bangsa Indonesia. Nusantara “menjajah” dunia masa lalu menghasilkan kebebasan dunia hari ini dimana peran kelompok pro-materialisme merasa diatas. Orang yang merasa diatas pasti bukan diatas, begitu juga orang yang mengejar keatas pasti belum berada diatas. Berhati-hatilah karena sesungguhnya yang tidak terlihat mengejar apapun itulah puncak sesungguhnya.
  14. Memang ada sedikit penyesuaian (kekeliruan) pada bangsa Indonesia hari ini yakni terkait pelurusan tujuan berbangsa dan bernegara secara administratif belaka. Variabel penelitiannya harusnya bukan urusan materi tetapi urusan keadilan mendasar dimana urusan hak dan kewajiban yang kurang komitmennya. Masih ada rakyat yang menjadi pejabat yang salah langkah dengan membuat “pagar materi” (menumpuk harta kekayaan pribadi) supaya mampu berkuasa yang mana itu salah besar. Materi pada negri ini bukan hanya sekedar kekayaan alam yang melimpah tapi kekayaan karakter asli gotong-royong itulah sejatinya materi bangsa Indonesia yang pada dahulunya rakyat nusantara mampu menghasilkan Kapur Barus, Borobudur, Keris-keris Nuklir, Cengkeh dan Pala, Candi Padangan di Garut, serta peninggalan kemanusiaan lainnya yang masih menunggu untuk ditemukan oleh generasi mendatang.
  15. Bangsa Indonesia pernah lupa akan kedigdayaannya, bahkan sempat pernah takjub akan peradaban lain dibawahnya sehingga hal itu berasa sisanya sampai hari ini. Ini bukan cerita sejak tahun 1945 saja tetapi ini cerita telah dimulai tahun 1511 (abad ke 16) hingga terus sekarang. Padahal perhatikanlah sejarah bangsa Indonesia sejak abad ke 7 misalnya ada apa saja. Atau tarik lagi kebelakang sejak abad ke 3 misalnya di tanah Kutai ada apa saja (bacalah prasati Yupa dari Kutai). Atau perhatikan lagilah semacam situs peninggalan gunung Padangan di Garut itu rahasia apakah gerangan. Atau pelajari lagi lah apa itu atlantis/ sunda-land, paparan sahul – paparan sunda, Wayang Mahabharata, dan semisalnya. Pelan-pelan pelajari dan perhatikan!
  16. Ini bukan hanya sekedar cerita pemilu tahun 2019, sudah-sudahlah “menghina” ketidak-tahuanmu akan bangsa nusantara itu. Kan kita sepakat negri ini sangat berlimpah kekayaannya (kalau gak melimpah kekayaannya mana mungkin di “samperin” 350 tahun) bahkan hari ini lihat data pengerukan sumber daya alam, berapa trilyun KWD (Kuwait Dinar ; 1 KWD = 3 USD, 1 KWD = Rp 44.500,-)  yang intens dikeluarkan hasil dari bumi Indonesia, ada yang tau persis nilainya?
  17. Begitulah kutulis artikel ini sebagai godaan bagi para konsultan politik, mahasiswa Indonesia, politisi pemula (para caleg yang maju tahun 2019) serta anak bangsa yang membaca setiap point dari tulisan lepas hari ini.
  18. Segitu dulu, selamat melanjutkan aktifitas masing-masing. Selamat makan siang bagi yang melakukan.

Salam kompak NKRI  !!!

(DC)

ARTIKEL PILPRES 2019 #02: STRATEGI MEMILIH PEMILIH CAPRES 2019

ARTIKEL PILPRES 2019 #02: STRATEGI MEMILIH PEMILIH CAPRES 2019

Kok memilih pemilih? Eh alon-alon biar kelakon, lanjut membaca ya. Sebelumnya kami menyapa pembaca dulu yang sudah ngefans kepada web blog kita ini (www.vote-indonesia.com). Yang di Samarinda, Long Iram-Barong Tongkok-Melak-Kutai Barat, Tenggarong, Balikpapan, Surabaya, Jakarta, Bandung, Makassar, Tarakan, Bontang, Penajam, Tanah Gerogot, Banjarmasin, Tanjung Redeb, Tanjung Selor, serta pembaca kita yang berada diluar negri (beberapa kali kami jumpai via online) yang berada di Washington AS, Kuala Lumpur – Malaysia. Kami ucapkan salam kompak NKRI !!!

Pilpres 2019, ada harapan disana. Hampir dua ratus juta pemilih yang akan menentukan pilihannya. Dimana masyarakat pemilih ini tersebar sangat luas dari barat sampai ke timur. Berbagai suku dan berbagai karakter/ perilaku pemilih yang ada pada bangsa ini.

Jumlah Desa/ Kelurahan mencapai  80.000-an se-Indonesia saat ini. Pada wilayah sebanyak itulah sebaran pemilih   berada, dengan total 500.000-an (setengah juta-an) TPS yang terdistribusi secara merata dan pasti termasuk di Desa/ Kelurahan kini kita berada.

Angka – angka yang fantastis diatas seperti itulah Indonesia kita saat ini. Belum lagi jika kita mau meluangkan sedikit waktu untuk menyimak data-data kekayaan sumber daya yang dimiliki negri ini. Separo kekayaan dunia ada pada bumi pertiwi ini. Ini tidak berlebihan, hampir semua kemampuan yang dimiliki dunia juga mampu dimiliki oleh Indonesia saat ini. Semua informasi kelimpahan ini hanya membutuhkan pengelolaan saja, ditambah keseriusan serta ada kesadaran kebersamaan manusia Indonesia hari ini untuk menjaga dan merawat anugerah dari yang maha hebat ini.

Dari itulah pentingnya pemilih atau masyarakat pemilih. Karena pemilih akan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin. Ya pemilih seperti kita-kita ini. Suara pemilih sangat berperan dalam keberlangsungan NKRI hari ini hingga masa depan.

Masyarakat pemilih boleh saja saling mengajukan argumentasi terhadap kriteria capres 2019 yang patut untuk didukung. Namanya pemilihan ya pasti memilih diantara pilihan-pilihan yang ada.  Sedangkan capres juga boleh mengajukan tawaran visi-misi sebagai pemimpin kedepan Indonesia. Nah, dari kedua hubungan antara pemilih dan capres inilah peran menjembatani (timses) menjadi keharusan.

Berikut data pemilih yang harus dipilih oleh capres 2019 sebelum pemilih memilihnya nanti ;

  1. Jumlah pemilih 195.000.000an (hampir 200 juta).
  2. Jumlah TPS 500.000an (setengah jutaan).
  3. Jumlah desa/ kelurahan 80.000an.
  4. Jumlah kecamatan 7.000an.
  5. Jumlah Kabupaten dan Kota 514.
  6. Jumlah provinsi sebanyak 34.

Seperti itulah gambaran singkat letak pemilih Indonesia kita saat ini. Sadarilah kita sebagai anak bangsa memiliki kebolehan yang sama untuk terlibat berbuat konstruktif-kekinian dalam kehidupan bernegara. Paling utama kita adalah pemilih atau masyarakat pemilih yang akan memilih capres tahun 2019 mendatang.

Sekian dulu opini data singkat ini, semoga ada manfaatnya. Salam persatuan NKRI!!!

ARTIKEL PILPRES 2019 #01: STRATEGI MENDONGKRAK POPULARITAS CAPRES 2019

ARTIKEL PILPRES 2019 #01: STRATEGI MENDONGKRAK POPULARITAS CAPRES 2019

Penting bagi tokoh hebat yang berniat maju pilpres 2019 untuk memahami arti popularitas ini. Berkenalan dengan masyarakat pemilih itu harus dilakukan secara sadar dan serius. Dari hasil berkenalan secara kontinyu inilah angka popularitas itu diperoleh.

Berkenalan atau memperkenalkan diri ke publik luas menjadi bagian dari kesadaran logika terkini untuk meningkatkan peluang keterpilihan (angka elektabilitas). Sehingga dibutuhkan sebuah upaya yang sistematis dan komprehensif untuk kerja-kerja popularitas ini. Keterlibatan pendukung balon capres (bakal calon presiden) sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Secara sederhana tokoh disebut populer adalah ketika masyarakat pemilih mampu menyebutkan nama tokoh tersebut secara gamblang. Jika penyebutan nama tokoh tersebut mampu disebutkan oleh masyarakat secara merata di 7.000an kecamatan di seluruh Indonesia maka tokoh tersebut dapat dikatakan populer dan angka popularitasnya pasti tinggi.

Nah, tingginya popularitas itulah sebagai pertimbangan awal seorang tokoh itu dianggap berpeluang untuk nyapres tahun 2019 nanti.

Saat ini sedang in nama-nama tokoh yang dibicarakan bakal berpotensi sebagai capres 2019. Tentu ada nama Pak Jokowi sebagai tokoh incumbent (presiden saat ini) yang paling berpotensi. Selain itu nama Prabowo Subianto (Gerindra) juga selalu menghiasi pada halaman analisis diberbagai media. Yang cukup menarik perhatian dalam sepekan ini adalah ramainya nama TGB (gubernur NTB) disebut-sebut dalam banyak diskusi-diskusi serius maupun sekedar dalam diskusi lepas pada medsos atau netizen di tingkat nasional.

Kembali ke urusan popularitas, bahwa keterkenalan yang terus menerus “dibicarakan” akan dapat berdampak meningkatnya angka ke-dikenal-an/ popularitas itu.

Pengukuran angka popularitas dapat dilakukan dengan survei, dan jangan lupa kalau sering sekali ada perbedaan yang jauh sekali antara hasil survei dengan klaim popularitas hasil lainnya. Karena survei mengukur secara offline (langsung turun ke lapangan) sedangkan analisis popularitas lainnya cenderung menggunakan hasil analisis data online. Jangan kejebak disini!!

Boleh jadi TGB terkenal pada tataran internet (media online, medos, netizen, televisi)   tetapi belum tentu terkenal secara merata pada masyarakat pemilih se Indonesia yang mencapai 190 jutaan itu secara nyata (secara offline).

Upaya popularitas itu harus dilakukan dengan memperhatikan sebaran wilayah. Jangan lupa Indonesia saat ini memiliki 80.000-an desa dan kelurahan yang membentang secara sangat luas dari Sumatera hingga Papua. Pertanyaannya sudahkah para fans tokoh-tokoh yang mau nyapres ini menempatkan orang-orangnya disetiap desa dan kelurahan tersebut?

Sekali lagi jangan lupa popularitas itu sesungguhnya ada pada jalur offline, sedangkan jalur online itu dalam rangka men-sasar offline itu juga pada akhirnya.

 

Sekian, NKRI ku, NKRI mu, NKRI kita bersama… salam kompak!

(DC)