PILKADA SERENTAK 2020 (3) : STRATEGI PEMENANGAN PILKADA – SURVEI INTERNAL

PILKADA SERENTAK 2020 (3) : STRATEGI PEMENANGAN PILKADA – SURVEI INTERNAL

Selama pemilu langsung pasca reformasi 1998 banyak sudah pengalaman yang dapat ditarik sebagai kesimpulan yang bernilai edukasi baik secara ilmu pengetahuan maupun pengalaman dalam ajang kompetisi pemilu yang damai, aman, lancar, dan legitimate tanpa hambatan yang berarti. Saat ini masyarakat sudah dapat dianggap mampu berada dalam suasana panasnya suhu politik dan sudah terbiasa dengan suasana kompetisi pemilu langsung. Hal tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi, justru kelompok kepentingan-lah atau oknum yang mungkin terlibat kekerasan fisik jika ada kejadian di suatu pemilu. Itupun selama ini dapat diatasi oleh pihak berwajib. Oleh karena itu kami menganggap secara umum bahwa masyarakat saat ini sudah jauh lebih dewasa dalam keterlibatannya terhadap peristiwa politik, silahkan elite politik saja lagi yang mendewasakan dirinya.

BACA JUGA : Langkah Awal Paling Efektif Untuk Pilkada, Strategi Mendongkrak Popularitas Calon Bupati dan Calon Walikota

Dalam iklim kedewasaan politik masyarakat itulah sehingga survei politik atau penelitian semacamnya  dapat terlaksana dengan lancar, aman, dan predictable.

Kini survei politik sudah sangat sering dilakukan baik itu sebagai pemberi masukan terhadap pemerintah, elite politik, maupun partai politik yang membutuhkan informasi kekinian sehingga kebijakan politik dan langkah politik dapat selaras dengan mayoritas preferensi politik masyarakat.

Hasil survei dapat membimbing para aktor politik untuk mengambil langkah lebih tepat dalam menjalankan strategi pemenangannya. Tanpa terbimbing hasil survei terkadang elite politik yang berkompetisi dapat keliru arah perjalanan pemenangannya.

Singkatnya, survei dan elite politik adalah dua hal yang tak dapat terpisahkan dalam perjalanan suatu pilkada langsung.

Berikut uraian segala hal yang terkait dengan survei politik yang mungkin diperlukan oleh setiap aktor politik  di tingkat lokal/ daerah yang akan melaksanakan pilkada tahun 2020 mendatang :

POIN #1 : SURVEI INTERNAL

Pentingnya untuk melakukan survei dengan kemampuan sendiri atau secara internal dengan alasan supaya data – data dapat diolah secara lebih eksklusive-mandiri tanpa pengaruh kepentingan pihak lain. Survei internal ini sangat berguna sebagai bahan gerakan pemenangan internal yang bersifat khusus dan tidak mudah terungkap di publik. Survei  semacam ini sangat terjaga kerahasiaannya dan hanya tersimpan dalam dokumen internal saja yang dapat secara kontinyu “dipergunakan” sebagai bahan evaluasi internal jika diperlukan.

POIN #2 : PELAKSANA SURVEI

Sudah sangat banyak pihak yang mampu dan berkompeten untuk melaksanakan survei internal ini, silahkan elite politik untuk lebih serius dalam melibatkan para surveyor seperti tersebut. Memang di tingkat nasional sudah sangat tersedia banyak lembaga survei yang berkompeten, tetapi mengingat banyaknya daerah yang ber-pilkada (silahkan liat daftarnya pada artikel sebelumnya) pada tahun depan maka sangat logis bagi setiap daerah untuk saatnya mempertimbangkan keterlibatan lembaga survei mana yang pas untuk kebutuhannya.

POIN #3 : BIAYA SURVEI

Bahwa setiap survei yang dilakukan di setiap daerah pasti melibatkan tenaga surveyor setempat. Karena survei politik yang paling tepat adalah dengan turun ke lapangan langsung tatap muka dengan masyarakat setempat. Dengan alasan inilah biaya survei sering dianggap mahal, padahal penyebabnya adalah biaya akomodasi turun ke lapangan yang terkadang juga tidak sedikit. Ditambah dengan banyaknya tenaga lapangan yang dibutuhkan mencapai 50 – 80 an orang lebih dalam setiap kali pelaksanaan survei. Biaya transportasi untuk survei di suatu kabupaten biasanya lebih besar jika dibandingkan dengan wilayah kota, karena biasanya wilayah kota secara geografis terkumpul dan berdekatan sedangkan wilayah kabupaten secara geografis terbentang luas dan berjauhan antar satu desa dengan desa  lainnya sementara masyarakat yang di survei berada sesuai luasnya sebaran secara geografis.

POIN #4 : FOKUS PADA AKURASI DATA

Memang kesulitan pelaksanaan survei internal di tingkat lokal adalah minimnya pengalaman pelaksanaan  ditambah dengan lemahnya trust yang ada sehingga komunikasi elite lokal dan pihak peneliti lokal sering tidak nyambung dan kurang bergengsi. Tetapi awas termakan jebakan gengsi; bahwa dalam survei itu bukan gengsi yang diutamakan tapi akurasi data yang dihasilkan. Semakin rahasia data internal yang dihasilkan semakin kuat pertarungan pemenangan, karena strategi pemenangan internal bukan untuk di umbar di publik. Fatsun kompetisi politik adalah rahasiakan strategimu dari lawanmu maka potensi kemenanganmu akan meningkat dibanding lawanmu.

POIN #5 : METODOLOGI SURVEI

Survei politik untuk kepentingan pilkada dilaksanakan dalam durasi sekitar 2 – 3 pekan, dan proses pengambilan data lapangan biasanya maksimal 10 hari dan paling cepat sekitar sepekan. Selanjutnya data hasil lapangan diolah untuk dilaporkan sebagai hasil survei. Pelaksanaan survei ini dengan menyebarkan tenaga lapangan ke berbagai titik sample berada. (untuk metodologi survei silahkan membaca buku survei ilmiah)

POIN #6 : SAMPLING ADALAH KUNCI

Akurasi dan presisi hasil survei dapat dicapai dengan desain survei yang tepat. Pemilihan metode sampling adalah kuncinya. Dalam hal ini diperlukan keseriusan dan tingkat pengalaman antara lapangan dan kebiasaan melakukan penelitian. Standard survei politik adalah keilmiahan data, harus pihak sarjana yang masih aktif dan fresh. Tidak asal mau dan berani. Tidak asal sarjana juga. Silahkan pikirkan matang-matang untuk menentukan pihak yang dilibatkan dalam survei internalmu.

POIN #7 : KAJIAN ILMIAH DAN FAKTA LAPANGAN

Poin terakhirnya adalah survei politik dalam pilkada mendatang sangat penting untuk dilakukan dan disetting secara serius demi proses pemenangan pilkada yang lebih terarah. Pelaksanaan survei sudah umum dalam ajang pemilu langsung semacam pilkada. Jangan pernah menjauhi urusan keilmiahan dalam proses pemenangan yakni keilmiahan yang tersambung dengan fakta lapangan. Jadi, tidak asal ilmiah juga dan tidak asal fakta lapangan juga.

Seimbangkanlah kedua hal yang terkait ini kemudian pastikan kecocokannya dengan kondisi daerahmu. Karena model atau perilaku disetiap daerah yang berpilkada memiliki karakter masyarakat yang berbeda-beda pula.

Sebagai kata penutup opini dalam artikel kali ini kita sama-sama berkewajiban menghasilkan pesta demokrasi yang berkualitas dalam menunjang kehidupan peradaban.

Re-generasi kepemimpinan ditingkat lokal adalah terkadang cerminan kepemimpinan skala nasional.

Karena suatu bangsa yang besar akan selalu mencetak generasi penerus yang lebih baik dari sebelumnya sehingga rasa optimis selalu bangkit disetiap era berbangsa dan bernegara sehingga anak bangsa akan menjadi sangat siap dalam “duel”  pergolakan silaturrahim dunia internasional.

Penulis : Doni Candra, S.IP
Editor : Nizar Mahroussy H.E, S.Kom

ARTIKEL PILPRES 2019 #01: STRATEGI MENDONGKRAK POPULARITAS CAPRES 2019

ARTIKEL PILPRES 2019 #01: STRATEGI MENDONGKRAK POPULARITAS CAPRES 2019

Penting bagi tokoh hebat yang berniat maju pilpres 2019 untuk memahami arti popularitas ini. Berkenalan dengan masyarakat pemilih itu harus dilakukan secara sadar dan serius. Dari hasil berkenalan secara kontinyu inilah angka popularitas itu diperoleh.

Berkenalan atau memperkenalkan diri ke publik luas menjadi bagian dari kesadaran logika terkini untuk meningkatkan peluang keterpilihan (angka elektabilitas). Sehingga dibutuhkan sebuah upaya yang sistematis dan komprehensif untuk kerja-kerja popularitas ini. Keterlibatan pendukung balon capres (bakal calon presiden) sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Secara sederhana tokoh disebut populer adalah ketika masyarakat pemilih mampu menyebutkan nama tokoh tersebut secara gamblang. Jika penyebutan nama tokoh tersebut mampu disebutkan oleh masyarakat secara merata di 7.000an kecamatan di seluruh Indonesia maka tokoh tersebut dapat dikatakan populer dan angka popularitasnya pasti tinggi.

Nah, tingginya popularitas itulah sebagai pertimbangan awal seorang tokoh itu dianggap berpeluang untuk nyapres tahun 2019 nanti.

Saat ini sedang in nama-nama tokoh yang dibicarakan bakal berpotensi sebagai capres 2019. Tentu ada nama Pak Jokowi sebagai tokoh incumbent (presiden saat ini) yang paling berpotensi. Selain itu nama Prabowo Subianto (Gerindra) juga selalu menghiasi pada halaman analisis diberbagai media. Yang cukup menarik perhatian dalam sepekan ini adalah ramainya nama TGB (gubernur NTB) disebut-sebut dalam banyak diskusi-diskusi serius maupun sekedar dalam diskusi lepas pada medsos atau netizen di tingkat nasional.

Kembali ke urusan popularitas, bahwa keterkenalan yang terus menerus “dibicarakan” akan dapat berdampak meningkatnya angka ke-dikenal-an/ popularitas itu.

Pengukuran angka popularitas dapat dilakukan dengan survei, dan jangan lupa kalau sering sekali ada perbedaan yang jauh sekali antara hasil survei dengan klaim popularitas hasil lainnya. Karena survei mengukur secara offline (langsung turun ke lapangan) sedangkan analisis popularitas lainnya cenderung menggunakan hasil analisis data online. Jangan kejebak disini!!

Boleh jadi TGB terkenal pada tataran internet (media online, medos, netizen, televisi)   tetapi belum tentu terkenal secara merata pada masyarakat pemilih se Indonesia yang mencapai 190 jutaan itu secara nyata (secara offline).

Upaya popularitas itu harus dilakukan dengan memperhatikan sebaran wilayah. Jangan lupa Indonesia saat ini memiliki 80.000-an desa dan kelurahan yang membentang secara sangat luas dari Sumatera hingga Papua. Pertanyaannya sudahkah para fans tokoh-tokoh yang mau nyapres ini menempatkan orang-orangnya disetiap desa dan kelurahan tersebut?

Sekali lagi jangan lupa popularitas itu sesungguhnya ada pada jalur offline, sedangkan jalur online itu dalam rangka men-sasar offline itu juga pada akhirnya.

 

Sekian, NKRI ku, NKRI mu, NKRI kita bersama… salam kompak!

(DC)

PILEG 2019 #4: 8 INSTRUMEN  MENANG PALING AMPUH UNTUK PRIBADI CALEG 2019 (KHUSUS KEPADA CALEG TINGKAT KABUPATEN/ KOTA)

PILEG 2019 #4: 8 INSTRUMEN MENANG PALING AMPUH UNTUK PRIBADI CALEG 2019 (KHUSUS KEPADA CALEG TINGKAT KABUPATEN/ KOTA)

Salam persatuan sebangsa dan setanah air, rekan-rekan sekalian siapapun yang sudah mulai hobi menyimak artikel kami di website ini kami ucapkan salam perkawanan. Berikut kami menginformasikan delapan instrument sinergis untuk mengupayakan pemenangan bagi pribadi caleg 2019, yakni ;

  1. Caleg membentuk tim kecil & observasi diawal.
  2. Menunjuk personil data-base dan IT khusus.
  3. Tim survey dalam dapil.
  4. Sosialisasi langsung dan teknisnya.
  5. Instrumen media sosialisasi online & offline.
  6. Membentuk tim TPS.
  7. Bersinergis dengan tim dari partaimu.
  8. Perhitungan suara akhir (Real Count).

Kemudian begini sekilas penjelasannya, silahkan dikembangkan sendiri berdasarkan kemampuan daya imajinasi masing-masing. Ayo kita mulai kilasannya;

1. Caleg membentuk tim kecil & observasi diawal.

Tim kecil yang dimaksud disini adalah orang – orang yang direkrut oleh caleg untuk membantunya terkait urusan kelengkapan ke-administrasi-an pencalegan di partai maupun di KPU nantinya. Tim ini cukup 2 sampai 3 orang yang penting memiliki loyalitas dan kecakapan dalam berurusan terkait keadministrasian hingga hari H pemilihan. Disarankan tim kecil ini adalah orang kepercayaan caleg yang sudah lama kenal (bisa keluarga dekat).

Sepanjang proses pemenangan tim kecil ini disarankan dibantu oleh orang-orang yang cukup mengerti urusan data sehingga mampu melakukan tugas-tugas observasi / pemantauan dilapangan.

Tim kecil ini juga harus mampu berkomunikasi dengan nyaman kepada tim selanjutnya.

 

2. Menunjuk personil data-base dan IT khusus.

Tim ini disarankan direkrut dari orang-orang muda yang paham urusan komputerisasi dan melek teknologi informasi. Keahlian penggunaan gadget (handphone dan laptop) adalah keharusan yang dimiliki dalam tim ini.

Disarankan jumlah tim ini maksimal hanyalah 3 orang yang mampu saling bersinergis. Karena akan  terkait dengan upaya pencitraan caleg pada pelaksanaan strategi di medsos/ internet.

BACA JUGA : Software Pileg : Sistem Manajemen Pemilu Legislatif 2019

Tim ini nanti yang akan mengelola akun medsos caleg, akun itu dapat berupa FB, IG, Web, Vlog, dan seterusnya.

Tim ini harus bekerja sejak awal-awal seperti saat ini.

Satu orang sudah cukup untuk mengurusi data-base yang penting teliti dan mampu mengetik/ menggunakan program ms.excel atau sejenisnya.

 

3. Tim survey dalam dapil.

Kami menyarankan menyewa untuk pelaksanaan survey ini, karena ini keahlian khusus. Silahkan caleg ataupun partai menghubungi lembaga survei yang sudah dikenal dengan baik diwilayahmu. Survei ini hanya dilakukan 2 sampai 3 kali sepanjang proses pemenangan. Data hasil survey sangat penting untuk mengetahui potensi peluang dan arah  pergerakan pemenangan.

Data hasil survei harus dirahasiakan, ia hanya boleh diketahui oleh caleg dan orang kepercayaannya. Hasil survei jangan dipublikasikan karena itu hanya konsumsi internal saja.

Karena hasil survei akan menjelaskan kekuatan dan kelemahan diri caleg tersebut. Melalui survey akan dapat diketahui caleg mana saja yang memiliki peluang tertinggi untuk menang di dalam suatu dapil.

 

4. Sosialisasi langsung dan teknisnya.

Caleg harus melakukan sosialisasi dengan bertemu langsung ke masyarakat di wilayah dapilnya. Selama sosialisasi ini upayakan dapat merekrut (mendapat restu) tokoh sentral di wilayah tersebut (blocking tokoh). Rekrut lah tokoh-tokoh pendukung ini secara serius.

Berikut kategori blocking tokoh yang sebaiknya direkrut untuk pribadimu ;

  1. Tokoh agama.
  2. Tokoh pelajar, pemuda dan olahraga.
  3. Tokoh perempuan/ ibu-ibu PKK/ pengajian.
  4. Tokoh UKM/ pedagang.
  5. Tokoh adat/ kesukuan/ paguyuban.
  6. Tokoh RT.
  7. Tokoh lainnya dalam kelompok-kelompok yang ada di wilayah tersebut.

Sosialisasi ini dapat berupa menghadiri undangan, aktif mengunjungi kelompok-kelompok pengajian, mengadakan pertandingan, aktif berdiskusi alamiah di warung-warung kopi, aktif memberikan sambutan-sambutan dalam setiap acara yang memungkinkan, masuk kepengurusan organisasi social lainnya.

 

5. Instrumen media sosialisasi online & offline.

  1. Instrumen media sosialisasi online (digital – campaign ;
  2. Akun Facebook pribadi/ fanspage.
  3. Akun instagram.
  4. Website.
  5. Vlog dan Youtube.
  6. Instrumen media sosialisasi offline ;
  7. Baleho.
  8. Spanduk.
  9. Brosur.
  10. Kalender.
  11. Baju dan topi.
  12. Bantuan social, bencana alam, dan lainnya.
  13. Sumbangan peralatan olahraga.
  14. Peralatan ibadah atau rumah ibadah.
  15. Bantuan alat/ perlengkapan warga/ lingkungan.
  16. Silaturrahim langsung/ kunjungan langsung secara rutin kepada setiap tokoh-tokoh di wilayah dapil tersebut.
  17. Branding alat-alat atau kendaraan.
  18. Bendera atau umbul-umbul.
  19. dan seterusnya sesuaikan kemampuan.

 

6. Membentuk relawan TPS.

Pengertian membentuk relawan di TPS yakni merekrut/ menunjuk dan menugaskan 1 orang di setiap TPS yang bertugas selama sekitar 3-4 bulan menjelang hari H. Relawan ini adalah orang-orangmu yang serius mendukungmu.

Tugas utama relawan TPS ini ada 2 ;

  1. Melakukan identifikasi kepada setiap pemilih dimana dia ditugaskan, kemudian melaporkan hasil penugasannya itu.
  2. Melakukan persuasi kepada semu pemilih di TPS dimana dia ditugaskan.

Sebaiknya relawan TPS ini dari orang-orang yang punya hubungan dekat denganmu, keluarga, sahabat, teman, kenalan baik, dan seterusnya.

Pelan-pelan merekrut relawan ini, yakinkan seyakin yakinnya olehmu karena suramu di TPS tergantung orang ini.

Jumlah personil relawan ini adalah sejumlah TPS yang ada di dapilmu. Orang-orang ini harus loyal dan termotivasi.

Pada hari perhitungan suara nanti mara relawan ini yang akan dengan sangat cepat melaporkan hasil pemungutan suara di TPSnya.

 

7. Bersinergis dengan tim dari partaimu.

Tim jenis ini juga diperlukan, tapi pahamilah tim ini biasanya bekerja untuk pencitraan partai secara umum. Ikut nimbrung dalam tim ini tapi jangan terlalu diandalkan untuk memperoleh suaramu sebagai caleg karena memang tugas tim partai adalah untuk mengangkat suara partai. Pahamilah hal ini.

Jaringan lainnya semisal jaringan teman dan sahabat yang rela membantumu, sehingga ikatan silaturrahim diperlukan sepanjang tidak menggerogoti kemampuan pembiayaan, syukur-syukur dapat tanpa pembiayaan… hehehe

Mengelola orang-orang yang mengajukan diri untuk membantu atau menjadi tim itu perlu seni mengatur (manajemen) tersendiri. pelajarilah

Hitung dan kalkulasikan baik-baik sebelum menjalankan upaya pemenanganmu, buat rencana tindakan yang matang sebelum mengambil langkah strategis.

 

8. Perhitungan suara akhir (Real Count).

Ini adalah acara hari H pemungutan suara di TPS. Semua tim akan terlibat pada saat ini. Relawanmu di TPS bertugas di TPS dimana selama ini dia ditugaskan, kemudian tim IT dan data-base akan menerima laporan hasil TPS secara online.

Pastikan saksi di TPS sangat paham dan mengerti  aturan, karena hasil pemilu sering bermasalah ketika saksi tidak paham.

Idealnya saksi itu menambah suara, jangan sampai saksi memilih caleg lain yang bukan tugasnya. Ini sangat merugikan mu.

Persiapkan perhitungan suara ini secara rapi dan tepat, jika memungkinkan bekerja samalah antara sesama caleg se-partai.

Secara sederhana berikut gambaran teknis perhitungan Real Count ;

Hasil di TPS dikirim via SMS dengan format khusus ke server IT khusus juga kemudian akan dilakukan prosessing secara komputasi sehingga menghasilkan data perhitungan yang sama dengan KPU, namun data sendiri ini lebih cepat untuk diketahui oleh caleg bersangkutan.

Demikian langkah-langkah pemenangan caleg 2019 yang dapat kami sampaikan hari ini, terusah menyimak opini yang kami sampaikan dalam website www. vote-indonesia.com

Dan silahkan share/ berbagi  kepada teman-teman terdekatmu.

Salam santun, ayo tetap kompak, salam NKRI!!!

(DC)

BACA JUGA : Software Pileg : Sistem Manajemen Pemilu Legislatif 2019

PILGUB KALTIM 2018#33: DILEMA CALEG DALAM PILGUB

PILGUB KALTIM 2018#33: DILEMA CALEG DALAM PILGUB

Pilkada serentak tahun 2018 ini beriringan pula dengan persiapan pemilu tahun 2019. Sehingga kesibukan proses pilgub disertai dengan kesibukan persiapan caleg. Berikut opini kami terkait dengan dua hal yang berbeda tersebut, kita akan melihat bersama dimana titik persinggungannya.

Beberapa hari yang lalu kami melakukan diskusi dengan beberapa caleg yang akan maju pada pileg tahun 2019 yang akan datang. Nah, hasil diskusi itulah yang kami paparkan dalam sepanjang tulisan ini.

Caleg yang terlibat pemenangan pilgub bekerja terhadap dua hal sekaligus bersamaan, selain berusaha mengkampanyekan jago pilgubnya ya sekaligus juga mengkampanyekan dirinya juga sebagai caleg.

Caleg yang serius berkampanye dalam pilgub akan melihat peluang-peluang bagi dirinya juga. Penjajakan dirinya sebagai tim pilgub akan sangat berarti untuk pengalaman selanjutnya menjelang pileg.

Jika dilapangan terjadi perbedaan pilihan pada pilgub antara masyarakat dan caleg tersebut maka caleg tersebut akan mengalami tantangan untuk melanjutkan aksi pemenangan pilgubnya terhadap masyarakat pemilih itu, kecuali caleg tersebut tidak sedang melakukan pemenangan pilgub di wilayah dapilnya.

Begitulah sedikit dilema yang dialami para caleg saat ini yang bertugas sebagai tim pemenangan pilgub. Dilema antara mengkampanyekan pilgubnya atau mengkampanyekan dirinya sebagai caleg.

Tentu ada solusi – solusi yang akan dapat menjawab persoalan ini, diperlukan kejernihan dalam menempatkan posisi caleg dalam tim pemenangan pilgub.

Calonnya dalam pilgub harus menang, sementara peluang calegnya juga harus meningkat. Begitu kira-kira solusi win-win yang akan diterapkan strategisnya.

Akankah hal ini dapat seirama, sehingga sekali berkayuh dua pulau akan terlewati?

Butuh kejeniusan untuk mengurusi hal ini, peran para pengambil keputusan dalam tim pilgub akan dituntut lebih ekstra ketelitiannya melihat persoalan ini.  Sementara masyarakat pemilih harus dipelihara juga ketenangannya agar tidak rancu dalam memandang perbedaan kepentingan pilgub dan kepentingan pileg.

BACA JUGA: Caleg Menang 2019

Sementara itu ada hal lain yang akan turut mempengaruhi hubungan pilgub dan pileg ini yang sangat dominan yakni kepentingan masyarakat pemilih itu sendiri.

Begitu sekilas info yang kami rangkum sedikit dari dialog terhadap para caleg beberapa hari yang lalu, semoga dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terlibat aktif.

Jangan lupa tetap bersemangat dalam menjaga keutuhan bangsa, salam kompak NKRI !!!

(DC)