PILGUB KALTIM 2018 #31: DIKENAL, DISUKAI, DIDUKUNG

PILGUB KALTIM 2018 #31: DIKENAL, DISUKAI, DIDUKUNG

Agar supaya mendapat dukungan yang luas dari masyarakat pemilih biasanya angka pengenalan kandidat atau disebut juga dengan popularitas itu harus lebih dari 90%, disukai 80%, didukung 51% (sesuaikan dengan target mu). Angka-angka tersebut biasanya diperoleh dari hasil survei yang sudah umum diketahui oleh publik selama ini dalam setiap ajang pemilukada.

BACA JUGA: Perilaku Pemilih

Upaya dikenal haruslah seirama upaya disukai. Pentingnya disukai ini dimaksudkan untuk selanjutnya supaya mudah untuk didukung oleh mayoritas pemilih dalam suatu daerah pemilihan. Buatlah dirimu dikenal yang disukai juga, jangan sampai dikenal tapi tidak disukai.

Langkah – langkah pengenalan kandidat secara konvensional/ umumnya dengan melakukan hal-hal seperti berikut ini;

  1. Pengenalan baleho, spanduk, kalender, kaos, dan alat peraga lainnya.
  2. Sosialisasi dengan kandidat turun langsung bertemu masyarakat pemilih.
  3. Memasang iklan diberbagai media cetak maupun media elektronik.
  4. Menggunakan jasa semacam PR (public-relation) yang kreatif.
  5. Mengadakan event/ acara tertentu yang bersifat keterlibatan masyarakat luas seperti acara olah-raga, pentas seni, acara kerakyatan, dan acara-acara sosial lainnya.
  6. Membentuk team yang akan mengkomunikasikan secara intensif kepada masyarakat pemilih.
  7. Membuat pembauran upaya pengenalan yakni dengan melakukan penggabungan dari berbagai cara sosialisasi sehingga menghasilkan teknik kampanye yang efektif.

Biasanya team yang menyusun langkah-langkah pengenalan kandidat ini akan berusaha memperkirakan sejauh mana jangkauan upaya pengenalan yang dilakukan. Juga memperhitungkan target seberapa mudah akan penerimaan masyarakat pemilih/ responnya terhadap upaya pengenalan yang dilakukan itu.

Usaha pengenalan kandidat ini juga jangan lupa memperhatikan akan imbas/ efek kesukaan. Dari itu maka upaya pengenalan harus dibarengi dengan upaya membangun kesukaan yang pada akhirnya meningkatkan angka peluang untuk didukung/ dipilih.

Sehingga nilai-nilai kesukaan ini sangat erat berkaitan dengan norma, etika, sopan santun, sikap saling menghormati, saling menghargai, atraktif dan partisipatif, serta dapat memotivasi setiap individu yang terlibat sepanjang prosesnya secara baik secara langsung maupun secara tidak langsung bagi setiap individu yang mungkin hanya menyaksikan dari kejauhan.

Faktor kesukaan ini memang tidak gampang untuk diraih. Keseriusan dari berbagai pihak yang terkait haruslah harmonis dan sinergis. Kandidat dan tim-nya musti sadar bahwa untuk dapat meraih hati pemilih haruslah dilakukan secara perlahan dan butuh kesabaran yang ekstra. Karena tingginya angka kesukaan (setelah tingginya angka popularitas) maka selanjutnya adalah meningkatnya angka didukung atau elektabilitas.

(DC)

PILGUB KALTIM 2018 #30: PERILAKU PEMILIH

PILGUB KALTIM 2018 #30: PERILAKU PEMILIH

Masyarakat pemilih memiliki berbagai macam respon terhadap berbagai peristiwa politik yang berkembang saat ini. Respon tersebut dapat berwujud langsung berupa dukungan, penolakan, atau hanya sekedar bagi penambah wawasan semata.

Pada perkembangannya kalangan peneliti dari waktu ke waktu selalu mencari pola yang disesuaikan dengan kebutuhan saat itu, guna membuat kesimpulan-kesimpulan sehingga dapat membaca arah perilaku politik pemilih dalam rangka mengukur tingkat kedewasaan demokratisasi di suatu wilayah tertentu.

Keran demokrasi yang terbuka lebar seperti saat ini ditanah air yang berupa pemilukada serentak tahun 2018 ini di 171 daerah yakni provinsi, kabupaten, dan kota adalah bagian dari perwujudan sikap demokratis. Diharapkan Indonesia dalam menyongsong masa depannya akan mampu sederajat dan aktif dalam pergaulan dunia internasional.

Mengukur perilaku pemilih disuatu wilayah yang akan melaksanakan proses pemilukada (baik itu pilgub, pilbup, maupun pilwali) adalah semacam kebiasaan yang senantiasa ditunggu kehadirannya. Banyak sekali pakar yang terlibat dalam pengukuran/ analisis perilaku pemilih ini. Hanya saja bahan yang tersedia saat ini masih dirasa belum memadai. Hal ini ditandai dengan masih kurangnya literatur khas ke-Indonesia-an yang mengulas perilaku pemilih ini dari berbagai sudut pandang.

Sebagai masukan bagi kalangan yang konsen dibidang penelitian perilaku pemilih ini, kami meng-opini-kan uraian singkat ini. Namun, kami sadar bahwa opini kami ini jauh dari kepuasan yang bersifat komprehensif dari sisi penilaian yang kompleks pula demi memenuhi hasrat yang nyata dilapangan.

Tidak dipungkiri bahwa pemahaman perilaku pemilih dapat bermanfaat praktis dalam ajang kompetisi semacam pemilukada. Konsultan pendamping kandidat memiliki track-record yang akan ditawarkan sebagai jasa konsulting-nya. Sebagai konsultan tentu arahannya akan didengar dan mungkin akan menjadi bagian dari bahan pertimbangan sebagai langkah-langkah strategis dalam proses kampanye.

Mengetahui perilaku pemilih dapat akan berhubungan dengan kemampuan mempengaruhi perilaku memilih itu sendiri. Semakin lengkap informasi perilaku pemilih maka akan berpeluang semakin efektif dan efisien langkah kampanye kandidat.

BACA JUGA: Sikap Jurkam Efektif?

Meskipun pemanfaatan pemahaman perilaku pemilih ini masih jadi bahan perdebatan pada tataran keilmuan modern, dikarenakan bisa nampak seperti menariknya kearah pragmatisme sesaat sehingga mungkin akan mengabaikan etika ilmu pengetahuan itu sendiri. Tetapi hal tersebut tidak harus menghentikan pengembangan teori perilaku pemilih itu sendiri. Karena konsep teori perilaku pemilih itu berlandaskan keilmiahan ilmu pengetahuan yang boleh hadir dalam pengembangan proses demokrasi bagi suatu Negara.

Kami meyakini bahwa konsep atau teori perilaku pemilih ini sangat membantu dalam meningkatkan wawasan semua pihak baik itu masyarakat pemilih maupun bagi kontestan (kandidat) yang memperebutkan suara pemilih selama proses pemilihan semacam pemilukada tahun ini.

Nah bagaimana dengan perilaku pemilih di Kaltim??? Hmm….mungkin ditulisan selanjutnya saja yaa..hehe…

Selamat berdemokrasi negriku, selamat menyambut pemilukada tahun 2018 bagi yang merayakannya. sekian

(DC)

BACA JUGA: Pilgub Kaltim 2018 #28: Kandidat Paling Populer Saat Ini?

PILGUB KALTIM 2018 #29: JENIS JURKAM EFEKTIF?

PILGUB KALTIM 2018 #29: JENIS JURKAM EFEKTIF?

Kandidat/ calon  dalam pemilukada memiliki jurkam (juru kampanye) yang akan melakukan orasi di panggung kampanye. Seorang jurkam memiliki fungsi untuk menyemarakkan situasi di arena kampanye. Seorang jurkam juga akan berusaha membuat peserta kampanye menjadi lebih antusias dalam mengikuti proses sepanjang kampanye dilakukan.

Ada beberapa macam jurkam yang akan mendampingi seorang kandidat. Kandidat sendiri adalah jurkam bagi dirinya sendiri. Team dari kandidat juga secara makana adalah jurkam. Setiap pendukung kandidat termasuk jurkam baik pendukung di media online maupun offline. Jurkam-jurkam inilah yang selalu menjadi juru penyampai informasi yang dilakukannya setiap saat kepada masyarakat pemilih.

Tulisan ini hanya berfokus kepada “jurkam-jurkam” yang setiap saat melakukan upaya bantu terhadap kandidatnya meskipun mungkin jurkam jenis ini secara umum bukan disebut jurkam yang sering dilihat ber-orasi di atas panggung kampanye seperti biasanya selama ini.

Berikut tiga kategori jurkam yang bukan jurkam orasi di panggung kampanye sebagaimana biasanya, pengkategorian ini sangat longgar untuk ditelaah ulang dan silahkan disesuaikan dengan kondisi lapangan masing-masing;

Pertama, sadarilah bahwa setiap pendukungmu adalah jurkam-mu walaupun mungkin pendukung tersebut belum pernah bertemu kandidatnya. Jenis jurkam ini bisa saja hanya sekedar semacam seorang pedagang sayuran keliling yang setiap hari intens bertemu pelanggannya dari rumah ke rumah kemudian secara alamiah mengkomunikasikan tentang kandidat kepada setiap masyarakat pemilih yang dijumpainya.

Kedua, bahawa setiap orang saat ini pada dunia maya/ medsos mungkin sekali adalah pendukung setia terhadap kandidat. Bentuk dukungannya bisa saja dilakukan dengan cara memposting, men-share, mengkomentari, atau hanya sekedar memajang foto tertentu, atau bahkan melakukan apa saja yang dampaknya mungkin sangat menguntungkan bagi kandidatnya secara tidak langsung.

Ketiga,  ketahuilah pemilih yang nge-fans kepada kandidat itu dialam bawah sadarnya sudah terprogram secara alamiah semacam keinginan yang selalu melakukan upaya menyalurkan informasi terkait kehebatan kandidat yang didukungnya. Pendukung jenis ini memiliki energy berlimpah yang sangat positif untuk menyebarkan informasi yang menguntungkan bagi kandidat yang didukungnya. Meskipun biasanya kepentingan pendukung jenis ini tidak se-pragmatis pendukung yang lainnya.

BACA JUGA: Pilgub Kaltim 2018 #29: Kandidat Paling Populer Saat Ini?

Uraian singkat ini terinspirasi dari pada suatu bagian dari metode marketing-politik yakni konsep marketing WOMM (Word Of Mouth Marketing = pemasaran dari mulut ke mulut).  Ada semacam asumsi para marketer dalam dunia bisnis bahwa suatu produk unggulan biasanya akan mendapat referensi dari pelanggan setia untuk menganjurkan tanpa disuruh kepada calon konsumen berikutnya.

Sekian opini kami untuk penambah pengayaan ragam analisis dalam kompleksitas di musim kampanye seperti saat ini. selamat berdemokrasi bagi seluruh daerah pemilukada, do’a ketulusan kita haturkan kepada para pahlawan penegak NKRI.

(DC)

PILGUB KALTIM 2018 #28: KANDIDAT PALING POPULER SAAT INI?

PILGUB KALTIM 2018 #28: KANDIDAT PALING POPULER SAAT INI?

Membicarakan popularitas dalam ajang pemilukada seperti saat ini menjadi semacam keharusan tersendiri.  Populer atau angka dikenal oleh pemilih mempunyai tolok ukur yang paling dicari datanya. Setiap pemilih idealnya mengenal terhadap siapa yang akan dipilihnya. Berbagai sudut pandang mengukur angka popularitas ini tentu dapat berbeda-beda bagi setiap disiplin tertentu.

Mengukur angka popularitas dalam ajang pemilukada sering digunakan metode survei yang sudah terbukti keakurasiannya. Saat ini dimana lembaga survei yang siap melakukan survei sangat banyak jumlahnya baik yang ber-skala lokal maupun nasional.

BACA JUGA: Hasil Survei Yang Dirilis Itu Kebohongan??

Berikut opini kami yang disarikan dari berbagai pengalaman selama ini sepanjang mengikuti proses pemilukada secara langsung. Poin-poin ini kami sempitkan pada ulasan popularitas bagi kandidat dari sudut pandang perilaku pemilih.

  1. Popularitas atau angka dikenal-nya kandidat oleh pemilih itu idealnya mencapai 100%, angka ini adalah sebagai start awal bagi kandidat (calon pemimpin; gubernur, bupati, walikota).
  2. Kandidat yang populer dilihat dalam wilayah tertentu secara geografis dimana saja pemilihan itu terjadi. Jika pemilihan dilakukan di wilayah A maka wajib bagi kandidat terkenal diwilayah A tersebut bukan diwilayah lain.
  3. Dikenal disini adalah dikenal secara baik yang khas bukannya dikenal karena ketidak baikannya. Hati – hati pada poin ini jangan sampai kandidatmu terkenal tapi dikenal karena kekurangannya.
  4. Pemilih mengenal kandidatnya secara sederhana adalah ketika masyarakat pemilih sangat familiar dengan mampu jelas menyebut nama dan mengetahui secara jelas tampilan sang kandidat tersebut.
  5. Ada kandidat yang populer pada media online tetapi belum tentu populer secara offline di masyarakat pemilih. Karena media online masih belum merata sebarannya.
  6. Angka popularitas itu harus disosialisasikan dan harus sampai ke benak setiap pemilih. Sekali lagi perhatikan poin penting yang ke 6 ini, pahamilah.
  7. Popularitas itu adalah upaya kontinyu dan sangat memperhatikan setiap segmen dalam populasi pemilih secara keseluruhan.
  8. Upaya menaikan angka popularitas itu mestinya dapat diukur sesuai standard tertentu.
  9. Upaya yang paling cepat untuk menaikan angka popularitas kandidat adalah dengan mencari cara yang viral-lable (cepat dan merata). Tema dan momentum yang tepat tentunya dengan media penyampai yang tepat pula.
  10. Lakukanlah upaya peningkatan angka popularitas ini dengan cara-cara yang paling mudah diterima oleh masyarakat pemilih. Cara-cara yang menyenangkan supaya juga mudah disukai atau disenangi oleh masyarakat pemilih.
  11. Angka popularitas yang tinggi akan berdampak kepada tingkat kesukaan pemilih terhadap kandidat menjadi tinggi pula. Jika tingginya angka kesukaan pemilih ini dapat diraih secara maksimal maka akan menjadi mudah pada tahap berikutnya untuk meningkatkan angka elektabilitas (peluang keterpilihan) bagi kandidat.

Demikian opini kami sebagai bahan tambahan bagi sesiapa saja yang terlibat dalam proses pemilukada tahun ini. Jangan lupa tetap kompak dengan tetanggamu dan sahabatmu, yakinlah bahwa pemilukada tahun ini adalah tetap seperti pemilukada yang sudah sering kita terlibat didalamnya. Salam kompak NKRI !!!

(DC)

BACA JUGA: Kepribadian Calon Pemimpin Paling Disukai