PILKADA SERENTAK 2020 (3) : STRATEGI PEMENANGAN PILKADA – SURVEI INTERNAL

PILKADA SERENTAK 2020 (3) : STRATEGI PEMENANGAN PILKADA – SURVEI INTERNAL

Selama pemilu langsung pasca reformasi 1998 banyak sudah pengalaman yang dapat ditarik sebagai kesimpulan yang bernilai edukasi baik secara ilmu pengetahuan maupun pengalaman dalam ajang kompetisi pemilu yang damai, aman, lancar, dan legitimate tanpa hambatan yang berarti. Saat ini masyarakat sudah dapat dianggap mampu berada dalam suasana panasnya suhu politik dan sudah terbiasa dengan suasana kompetisi pemilu langsung. Hal tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi, justru kelompok kepentingan-lah atau oknum yang mungkin terlibat kekerasan fisik jika ada kejadian di suatu pemilu. Itupun selama ini dapat diatasi oleh pihak berwajib. Oleh karena itu kami menganggap secara umum bahwa masyarakat saat ini sudah jauh lebih dewasa dalam keterlibatannya terhadap peristiwa politik, silahkan elite politik saja lagi yang mendewasakan dirinya.

BACA JUGA : Langkah Awal Paling Efektif Untuk Pilkada, Strategi Mendongkrak Popularitas Calon Bupati dan Calon Walikota

Dalam iklim kedewasaan politik masyarakat itulah sehingga survei politik atau penelitian semacamnya  dapat terlaksana dengan lancar, aman, dan predictable.

Kini survei politik sudah sangat sering dilakukan baik itu sebagai pemberi masukan terhadap pemerintah, elite politik, maupun partai politik yang membutuhkan informasi kekinian sehingga kebijakan politik dan langkah politik dapat selaras dengan mayoritas preferensi politik masyarakat.

Hasil survei dapat membimbing para aktor politik untuk mengambil langkah lebih tepat dalam menjalankan strategi pemenangannya. Tanpa terbimbing hasil survei terkadang elite politik yang berkompetisi dapat keliru arah perjalanan pemenangannya.

Singkatnya, survei dan elite politik adalah dua hal yang tak dapat terpisahkan dalam perjalanan suatu pilkada langsung.

Berikut uraian segala hal yang terkait dengan survei politik yang mungkin diperlukan oleh setiap aktor politik  di tingkat lokal/ daerah yang akan melaksanakan pilkada tahun 2020 mendatang :

POIN #1 : SURVEI INTERNAL

Pentingnya untuk melakukan survei dengan kemampuan sendiri atau secara internal dengan alasan supaya data – data dapat diolah secara lebih eksklusive-mandiri tanpa pengaruh kepentingan pihak lain. Survei internal ini sangat berguna sebagai bahan gerakan pemenangan internal yang bersifat khusus dan tidak mudah terungkap di publik. Survei  semacam ini sangat terjaga kerahasiaannya dan hanya tersimpan dalam dokumen internal saja yang dapat secara kontinyu “dipergunakan” sebagai bahan evaluasi internal jika diperlukan.

POIN #2 : PELAKSANA SURVEI

Sudah sangat banyak pihak yang mampu dan berkompeten untuk melaksanakan survei internal ini, silahkan elite politik untuk lebih serius dalam melibatkan para surveyor seperti tersebut. Memang di tingkat nasional sudah sangat tersedia banyak lembaga survei yang berkompeten, tetapi mengingat banyaknya daerah yang ber-pilkada (silahkan liat daftarnya pada artikel sebelumnya) pada tahun depan maka sangat logis bagi setiap daerah untuk saatnya mempertimbangkan keterlibatan lembaga survei mana yang pas untuk kebutuhannya.

POIN #3 : BIAYA SURVEI

Bahwa setiap survei yang dilakukan di setiap daerah pasti melibatkan tenaga surveyor setempat. Karena survei politik yang paling tepat adalah dengan turun ke lapangan langsung tatap muka dengan masyarakat setempat. Dengan alasan inilah biaya survei sering dianggap mahal, padahal penyebabnya adalah biaya akomodasi turun ke lapangan yang terkadang juga tidak sedikit. Ditambah dengan banyaknya tenaga lapangan yang dibutuhkan mencapai 50 – 80 an orang lebih dalam setiap kali pelaksanaan survei. Biaya transportasi untuk survei di suatu kabupaten biasanya lebih besar jika dibandingkan dengan wilayah kota, karena biasanya wilayah kota secara geografis terkumpul dan berdekatan sedangkan wilayah kabupaten secara geografis terbentang luas dan berjauhan antar satu desa dengan desa  lainnya sementara masyarakat yang di survei berada sesuai luasnya sebaran secara geografis.

POIN #4 : FOKUS PADA AKURASI DATA

Memang kesulitan pelaksanaan survei internal di tingkat lokal adalah minimnya pengalaman pelaksanaan  ditambah dengan lemahnya trust yang ada sehingga komunikasi elite lokal dan pihak peneliti lokal sering tidak nyambung dan kurang bergengsi. Tetapi awas termakan jebakan gengsi; bahwa dalam survei itu bukan gengsi yang diutamakan tapi akurasi data yang dihasilkan. Semakin rahasia data internal yang dihasilkan semakin kuat pertarungan pemenangan, karena strategi pemenangan internal bukan untuk di umbar di publik. Fatsun kompetisi politik adalah rahasiakan strategimu dari lawanmu maka potensi kemenanganmu akan meningkat dibanding lawanmu.

POIN #5 : METODOLOGI SURVEI

Survei politik untuk kepentingan pilkada dilaksanakan dalam durasi sekitar 2 – 3 pekan, dan proses pengambilan data lapangan biasanya maksimal 10 hari dan paling cepat sekitar sepekan. Selanjutnya data hasil lapangan diolah untuk dilaporkan sebagai hasil survei. Pelaksanaan survei ini dengan menyebarkan tenaga lapangan ke berbagai titik sample berada. (untuk metodologi survei silahkan membaca buku survei ilmiah)

POIN #6 : SAMPLING ADALAH KUNCI

Akurasi dan presisi hasil survei dapat dicapai dengan desain survei yang tepat. Pemilihan metode sampling adalah kuncinya. Dalam hal ini diperlukan keseriusan dan tingkat pengalaman antara lapangan dan kebiasaan melakukan penelitian. Standard survei politik adalah keilmiahan data, harus pihak sarjana yang masih aktif dan fresh. Tidak asal mau dan berani. Tidak asal sarjana juga. Silahkan pikirkan matang-matang untuk menentukan pihak yang dilibatkan dalam survei internalmu.

POIN #7 : KAJIAN ILMIAH DAN FAKTA LAPANGAN

Poin terakhirnya adalah survei politik dalam pilkada mendatang sangat penting untuk dilakukan dan disetting secara serius demi proses pemenangan pilkada yang lebih terarah. Pelaksanaan survei sudah umum dalam ajang pemilu langsung semacam pilkada. Jangan pernah menjauhi urusan keilmiahan dalam proses pemenangan yakni keilmiahan yang tersambung dengan fakta lapangan. Jadi, tidak asal ilmiah juga dan tidak asal fakta lapangan juga.

Seimbangkanlah kedua hal yang terkait ini kemudian pastikan kecocokannya dengan kondisi daerahmu. Karena model atau perilaku disetiap daerah yang berpilkada memiliki karakter masyarakat yang berbeda-beda pula.

Sebagai kata penutup opini dalam artikel kali ini kita sama-sama berkewajiban menghasilkan pesta demokrasi yang berkualitas dalam menunjang kehidupan peradaban.

Re-generasi kepemimpinan ditingkat lokal adalah terkadang cerminan kepemimpinan skala nasional.

Karena suatu bangsa yang besar akan selalu mencetak generasi penerus yang lebih baik dari sebelumnya sehingga rasa optimis selalu bangkit disetiap era berbangsa dan bernegara sehingga anak bangsa akan menjadi sangat siap dalam “duel”  pergolakan silaturrahim dunia internasional.

Penulis : Doni Candra, S.IP
Editor : Nizar Mahroussy H.E, S.Kom

PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

  1. Rakyat Indonesia akan dengan senang hati berpartisipasi dalam pemilu tahun 2019 yang akan datang, karena itu “hanyalah” bagian dari proses kesinambungan rakyat negri ini yang sudah sama-sama disepakati oleh rakyat itu sendiri.
  2. Rakyat di negri ini sangat mandiri, pemerintahan adalah bagian dari rakyat itu sendiri. Perkara ada oknum di pemerintahan ada yang nampak seperti tidak menjalankan misi kehidupan rakyat itu hanyalah bagian sedikit yang secara pasti akan perlahan terkikis oleh kejumudannya sendiri.
  3. Grass-root hari ini memiliki keunikannya sendiri, terlihat seperti ada pencampuran faktor idealisme dan pragmatisme yang berjalan bersama dalam sikap perilaku memilihnya. Menjadikannya terpisah hanyalah menghasilkan kekonyolan karena rakyat Indonesia hari ini sudah terbiasa berbeda pilihan dalam setiap pemilu tetapi tetap secara substansi kehidupannya mengusung persatuan yang sejati di kehidupan keseharian dalam bermasyarakat.
  4. Pemimpin Indonesia hari ini bukanlah kelompok dari hasil warisan masa lalu, karena rakyatnya lah sesungguhnya yang senantiasa secara turun temurun yang menjadi pewaris sah nusantara.
  5. Penghormatan rakyat Indonesia paling tinggi diwujudkan dengan sila pertama pancasila yakni ketuhanan yang maha esa. Rasa hormat diberikan tidak berlebih kepada manusia/ pemimpin. Rakyat memberikan rasa hormat kepada kepemimpinan dilakukan dengan sadar bukan karena terpaksa. Bangsa ini tidak mengenal penghormatan berlebih kepada manusia kecuali sebagaimana keharusan saja. Tidak ada raja yang dihormati melebihi penghormatan kepada seorang ayah dan ibu dalam rumah tangga rakyat Indonesia.
  6. Rakyat Indonesia tidak mengenal arak-arakan secara berlebihan untuk menyanjung suatu keluarga kaya atau keluarga terhormat. Kepemimpinan sudah sangat terbiasa berganti-ganti tanpa memandang “kesucian” dari keturunan/ trah warisan. Ia hanya dirasakan secara mendalam rasa hormat itu dalam lubuk hati setiap orang. Karena rakyat nusantara adalah manusia-manusia yang sangat mengenal eksistensi agung diluar semua manusia.
  7. Nasionalisme rakyat Indonesia sudah mendarah daging dan melekat yang kemudian dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Seandainya terjadi peperangan dengan negara lain maka percayalah rakyat Indonesia yang kalem ini yang akan menjadi tentara sesungguhnya untuk menghabisi negara penyerang itu. Silahkan tanyakan kepada jenderal perang manapun di dunia saat ini adakah yang berani nekat mengajak negaranya untuk menyerang bangsa Indonesia?
  8. Jika ada sekumpulan orang yang merasa paling berhak atas negeri ini maka hal itu akan dibabat habis oleh alam Indonesia sendiri. Pahamilah kemandirian rakyat Indonesia ini maka akan ditemukan kebijaksanaan yang sangat tinggi jika dibandingkan bangsa lain di dunia hari ini.
  9. Rakyat Indonesia tidak akan mampu terpecah-belah seperti kebanyakan negara-negara yang dimana rakyatnya mudah diadu domba dengan isu agama dan konflik kepentingan kelompok materialisme. Kelompok pengatasnamaan agama tidak akan pernah dapat dibenturkan dengan kelompok pro-materialisme karena bagi rakyat Indonesia keduanya adalah harus bejalan bersama dalam keharmonisan.
  10. Memang ada hari ini sekelompok kecil orang yang mengatasnamakan rakyat Indonesia dalam klaim tindakannya sebagai pemimpin tetapi hal itu bukanlah asli perilaku bangsa Indonesia. Karena bangsa Indonesia adalah bangsa pengayom yang paling mampu menyerap setiap aspirasi bahkan aspirasi dari negri asing sekalipun asalkan mau bekerjasama sesuai dengan kesadaran / kebijaksanaan bangsa Indonesia. Perhatikanlah negara lain dimana manusia pendatang di negara mereka akan dibatasi/ diberikan pagar yang sangat kokoh sehingga hanya bidang tertentu yang terbatas yang boleh diakses.
  11. Negara Indonesia hari ini hanya mampu di sejajarkan dengan negara Rusia dan Amerika Serikat. Dimana Indonesia jauh lebih memilki keseimbangan pandangan keharmonisan peradaban dan hak asasi manusia secara ril. Secara manusia pribadi bangsa Indonesia memiliki kemandirian yang tidak diragukan kehebatannya, sedangkan secara kelompok bangsa Indonesia bukan tipe kelompok manusia yang menampilkan kedigdayaannya. Kecuali kalau terpaksa harus diuji untuk itu. Telitilah “kemanjaan” bangsa lain dalam bernegara mereka, dan perhatikan cara mereka memandang masa depan. Apakah rasa kehawatiran yang mendominasi? Pakailah indikator penilaian psikologi-adil maka akan sangat jelas terlihat perbedaannya dimana rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan konfik namun harmonis, dan terbiasa materialis namun tetap dalam bingkai sharing “mangkubumi” bukan alih-alih untuk menguasai bangsa lain.
  12. Bangsa nusantara dulu yang mana hari ini diwarisi oleh rakyat Indonesia adalah bangsa yang merdeka. Ia berdinamika di internalnya saja dimana tidak akan “mengajak” bangsa lain untuk terlibat dalam pencarian jati dirinya. Hubungan dengan bangsa lain dilakukan dalam batas sharing kebijaksanaan bukan penguasaan atas sumber daya bangsa lain. Bangsa nusantara mewariskan peradaban hakiki yang mencontohkan sikap hidup yang dominan berorientasi kepada tingginya derajad kemanusiaan. Pemimpin di nusantara bukanlah tipe pemimpin yang mau “disembah” (perhatikan rakyat yang menyembah pemimpinnya itu bukan asli tipe kepribadian nusantara loh). Jangan paksa kita menyebutkan negara mana contohnya hari ini dimana rakyat tidak diperkenankan membicarakan politik negara dan haram kalau mau mengganti orang “istana” mereka. Di kita tidak semua itu.
  13. Para pemimpin Indonesia tahun 2019 adalah tipe kepemimpinan yang berkesinambungan dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Negri ini selalu akan menghasilkan pemimpin yang asli rakyat Indonesia, ala Indonesia. Sedikit saja melenceng dari itu semua maka perhatikan sikap yang akan diberikan rakyat Indonesia kepada pemimpinnya. Jangan paksa rakyat Indonesia “mengajari” rakyat negara lain karena itu akan menandakan kemunduran dunia. Artinya jika rakyat Indonesia mendiamkan berbagai peristiwa dunia hari ini itu dikarenakan masih dalam batas “toleransi kemanusiaan”.  Kecuali kalau sudah darurat maka rakyat Indonesia dimana tipe aslinya akan keluar sebagai pengayom untuk bangsa lain yang terkadang sangat mampu untuk “menawur” bangsa manapun. Ingatlah yang katanya 350 tahun bangsa ini dijajah tidak merontokan jiwa asli nusantara bangsa Indonesia hari ini. Dan perhatikanlah gaya “menjajah” bangsa Indonesia hari ini terhadap negara lain adakah bangsa lain itu merasa terjajah?. Pakem “menjajah” difikiranmu berbeda pakemnya dengan bangsa Indonesia. Nusantara “menjajah” dunia masa lalu menghasilkan kebebasan dunia hari ini dimana peran kelompok pro-materialisme merasa diatas. Orang yang merasa diatas pasti bukan diatas, begitu juga orang yang mengejar keatas pasti belum berada diatas. Berhati-hatilah karena sesungguhnya yang tidak terlihat mengejar apapun itulah puncak sesungguhnya.
  14. Memang ada sedikit penyesuaian (kekeliruan) pada bangsa Indonesia hari ini yakni terkait pelurusan tujuan berbangsa dan bernegara secara administratif belaka. Variabel penelitiannya harusnya bukan urusan materi tetapi urusan keadilan mendasar dimana urusan hak dan kewajiban yang kurang komitmennya. Masih ada rakyat yang menjadi pejabat yang salah langkah dengan membuat “pagar materi” (menumpuk harta kekayaan pribadi) supaya mampu berkuasa yang mana itu salah besar. Materi pada negri ini bukan hanya sekedar kekayaan alam yang melimpah tapi kekayaan karakter asli gotong-royong itulah sejatinya materi bangsa Indonesia yang pada dahulunya rakyat nusantara mampu menghasilkan Kapur Barus, Borobudur, Keris-keris Nuklir, Cengkeh dan Pala, Candi Padangan di Garut, serta peninggalan kemanusiaan lainnya yang masih menunggu untuk ditemukan oleh generasi mendatang.
  15. Bangsa Indonesia pernah lupa akan kedigdayaannya, bahkan sempat pernah takjub akan peradaban lain dibawahnya sehingga hal itu berasa sisanya sampai hari ini. Ini bukan cerita sejak tahun 1945 saja tetapi ini cerita telah dimulai tahun 1511 (abad ke 16) hingga terus sekarang. Padahal perhatikanlah sejarah bangsa Indonesia sejak abad ke 7 misalnya ada apa saja. Atau tarik lagi kebelakang sejak abad ke 3 misalnya di tanah Kutai ada apa saja (bacalah prasati Yupa dari Kutai). Atau perhatikan lagilah semacam situs peninggalan gunung Padangan di Garut itu rahasia apakah gerangan. Atau pelajari lagi lah apa itu atlantis/ sunda-land, paparan sahul – paparan sunda, Wayang Mahabharata, dan semisalnya. Pelan-pelan pelajari dan perhatikan!
  16. Ini bukan hanya sekedar cerita pemilu tahun 2019, sudah-sudahlah “menghina” ketidak-tahuanmu akan bangsa nusantara itu. Kan kita sepakat negri ini sangat berlimpah kekayaannya (kalau gak melimpah kekayaannya mana mungkin di “samperin” 350 tahun) bahkan hari ini lihat data pengerukan sumber daya alam, berapa trilyun KWD (Kuwait Dinar ; 1 KWD = 3 USD, 1 KWD = Rp 44.500,-)  yang intens dikeluarkan hasil dari bumi Indonesia, ada yang tau persis nilainya?
  17. Begitulah kutulis artikel ini sebagai godaan bagi para konsultan politik, mahasiswa Indonesia, politisi pemula (para caleg yang maju tahun 2019) serta anak bangsa yang membaca setiap point dari tulisan lepas hari ini.
  18. Segitu dulu, selamat melanjutkan aktifitas masing-masing. Selamat makan siang bagi yang melakukan.

Salam kompak NKRI  !!!

(DC)

Intip E-Book Survei #3: DATA DAN MANFAAT YANG DIPEROLEH JIKA SURVEI SENDIRI

Intip E-Book Survei #3: DATA DAN MANFAAT YANG DIPEROLEH JIKA SURVEI SENDIRI

Hasil survei dapat berupa data yang menggambarkan tingkatan masing-masing isu yang diukur. Data yang disajikan dalam survei pemilih menjelang pemilu adalah data-data seperti berikut ini ;

  1. Data persentase jumlah pemilih berdasar rentang usia (misalnya pemilih pemula, pemilih usia produktif, pemilih tua),
  2. Data persentase suku-suku,
  3. Data persentase jumlah pemeluk setiap agama,
  4. Data tingkat pendidikan,
  5. Data tingkat penghasilan,
  6. Data persentase pekerjaan,
  7. Data tingkat popularitas setiap kandidat,
  8. Data tingkat disukai oleh pemilih terhadap calon,
  9. Data peluang keterpilihan setiap kandidat (elektabilitasnya).
  10. Data issu yang sedang berkembang dimasyarakat,
  11. Data tingkat harapan masyarakat,
  12. Data tentang opini masyarakat terhadap pemerintahan sekarang,
  13. Data kekuatan setiap kandidat per-wilayah tertentu (misalnya zona/ dapil),

Data terkait kepentingan kampanye (misalnya media massa apa yang paling terkenal diwilayah itu), dan lain sebagainya sesuai kebutuhanmu.

MANFAAT BUATMU JIKA MENJADI AHLI SURVEI PEMILIH

Ahli survei pemilih… Yeah, enggak semuluk itu juga sih janjinya ebook ini. Maksudku ebook ini akan menambah informasi pembaca seperti dirimu terkait urusan survei pemilih disetiap menjelang pelaksanaan pemilu pilkada ataupun pileg tahun yang akan datang.

Keahlian survei dalam ajang pemilu saat ini baik itu di pilkada maupun pileg akan menjadi sensasi tersendiri. Bahkan sudah banyak orang yang menjadikan keahlian ini sebagai pekerjaan utama.  Ilmu survei pemilih akan terus berkembang, kebutuhan informasi dari hasil survei selalu ditunggu-tunggu bahkan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan politis.

Perhatikan berita diberbagai media, banyak sekali politisi mengatakan kami masih menunggu hasil survei untuk menentukan calon kami. Atau ada berita yang mengatakan partai politik tertentu menetapkan calonnya berdasarkan hasil survei.

Ini artinya betapa hasil survei ini sangat menentukan kebijakan dalam system pemilihan politik kita saat ini. Hasil survei yang cenderung dapat dipercaya dan dapat dipergunakan adalah hasil survei dari lembaga survei yang telah memiliki brand image sebagai lembaga survei yang terpercaya dan berskala nasional.

Padahal istilah brand lembaga survei dan skala hanyalah cara pandang sesorang saja, atau dengan kata lain siapapun ya skala nasional sekaligus skala local bahkan ya skala internasional juga kan. Ketika kita sama-sama menganut ilmu pengetahuan maka skala seperti ini sudah tidak relevan lagi untuk didiskusikan.

Lakukan saja surveimu sendiri secara ilmiah, jangan pernah hiraukan penilaian subjective dari orang-orang yang katanya ahli itu. Karena se-ahli apapun seseorang dalam survei pemilih  tetap saja data rilnya dari lapangan yang dikumpulkan oleh para surveyor lapangan itu.

Salah dilapangan pasti akan berdampak pada kesalahan data akhir yang disajikan. Semua proses survei sesungguhnya saling terkait antara tahap yang satu dan tahap lainnya.

Jago dalam analisis data belum tentu jago wawancara dilapangan. Begitu juga sebaliknya ahli metodologi belum tentu ahli dalam memprediksi/ intuisi data. Makanya proses survei ini adalah proses yang kerjasama saling mengisi satu sama lain.

BACA JUGA: Panduan Mudah Survei Sendiri: Untuk Timses Pilkada Bupati, Walikota, Gubernur dan Pemilu Legislatif 2019

 

…………………. Kerjasama adalah pembeda manusia dengan hewan……………..

 

(DC)

Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Indonesiaku indonesiamu dan Indonesia kita bersama. Hari ini negri yang kita cintai ini sudah sampai tahap modernisasi disemua sisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Waktu kedepan menjelang pelaksanaan rekruitmen kepemimpinan diberbagai tingkatan yakni kabupaten, kota, dan provinsi yang mana pemilu akan dilaksanakan serentak tahun depan tahun 2018, bahkan dilanjutkan lagi tahun berikutnya yaitu tahun 2019 untuk pemilu legislative dan pemilihan presiden. Pemilu sendiri nyaris tidak dapat mencueki era modernisasi itu. Proses digitalisasi yang erat berkaitan dengan era internet dimana semua orang nampak seperti terhubung setiap saat, sehingga informasi sangat mudah didapat. Bahkan informasi yang begitu mudah didapat ini dapat dengan mudah juga mengubah perilaku kehidupan termasuk dalam kehidupan berpolitik.

Suasana perpolitikan saat ini sangat memperhatikan informasi yang berkembang diberbagai media termasuk media sosial (medsos). Berbagai opini baik yang serius maupun ngelantur termasuk hoax bahkan selalu bertebaran setiap saat setiap waktu all time selama 24 jam nonstop sepanjang minggu, bulan, bahkan sepanjang tahun. Ada ketelitian dalam memilih dan memilah informasi yang diperoleh, apalagi dalam peristiwa politik semacam pilkada. Beruntungnya setiap event pilkada selalu ada ilmu yang ilmiah yang dapat menjadi patokan sehingga informasi tersebut dapat dipegang bahkan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan. Itulah yang dimaksud survei dalam pilkada.

Berbagai rilis hasil survey telah dilakukan oleh berbagai pihak. Hasil survey selalu ditunggu – tunggu kehadirannya. Lembaga survey yang credible akan dapat meyakinkan public, dimana hasil surveinya akan dijadikan panutan. Plus minus dalam merilis hasil survey tentu dinamis. Masyarakat pemilih akan lebih bijak dalam menentukan pilihannya terhadap kandidat yang bertarung berdasar hasil survey dan berdasarkan issue yang berkembang tentunya.

Mungkin banyak sekali orang yang kepingin mengetahui apa itu survei dalam pemilu langsung berupa pilkada serentak tahun 2018 ini. Hasil survei yang dirilis akan ditunggu-tunggu kehadirannya. Aku akan memaparkannya dengan detail untuk mu, teman. Prediksi siapa yang bakal memenangkan pertarungan akan ramai dibicarakan dalam berbagai setiap kesempatan biasanya baik itu di media massa medsos maupun sekedar dalam berbagai forum diskusi warung kopi atau bahkan kelas warung kopi resto mungkin.

Daerahmu akan pilkada juga kah teman?

Atau ada temanmu nyalon, ah atau mungkin timses nih?

Berbagai kalangan terkesan mampu membicarakan survei ataupun hanya sekedar mengomentari setiap hasil survei yang dirilis itu tanpa menyadari bagaimana sesungguhnya proses sehingga menghasilkan data – data ataupun informasi yang mengatakan calon A berpotensi besar akan menang dan mampu mengalahkan calon B atau calon C adalah menjadi pesaing terberatnya.

Tetapi pihak yang mampu melaksanakan survei dalam pilkada hanya segelintir dapat dihitung jari jemari belaka. Ada lembaga survei semata, ada juga konsultan pilkada yang mengkhususkan dirinya mendampingi calon dalam pilkada namun sekaligus mampu melaksanakan survei juga.

Tetapi sangat jarang partai politik mau memiliki lembaga survei sendiri yang dapat dijadikan rujukan pengambilan keputusan, biasanya survei diserahkan kepada  pihak konsultan. Juga, tidak semua akademisi mampu melaksanakan survei ilmiah ini. Kemudian ditambah banyaknya kontestan dalam pemilu langsung seperti saat ini yang tidak bisa melaksanakan survei secara mandiri. Padahal melaksanakan survei itu gak sulit-sulit banget kok.

Dalam tulisan ini dirimu akan menemukan penjelasan yang sangat gamblang bagaimana survei dalam proses pemilu itu dilaksanakan. Gak perlu punya sekolah harus lulusan luar negri untuk mengerti dan mampu melaksanakan survei sendiri. Kamu alumni dari kampus di Indonesia pun sudah cukup kok jadi bekal untuk mengerti survei. Proses survei dari awal hingga akhir akan kubahas untukmu.

Kenapa hasil survei cenderung ramai dibicarakan dalam setiap pilkada misalnya, itu membuktikan masyarakat pemilih dari berbagai latar belakang merasa tertarik dan terbantu atas informasi dari hasil survei yang dirilis. Hasil survei sangat dipercaya, karena dianggap ilmiah dan faktanya juga hasil survei adalah satu-satunya cara dalam memprediksi hasil pilkada atau pileg misalnya maupun pilpres sekalipun. Meskipun, ada juga dari kejauhan sayup – sayup terdengar ada yang memprediksi pilkada menggunakan sumber informasi dari dukun atau orang pintar.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai alat jika ingin melakukan survei sendiri, dengan aku berupaya maksimal menjelaskan kepadamu secara cepat, mudah, dan lengkap.

Survei sendiri itu penting bagi setiap calon dalam pilkada 2018 maupun bagi calon caleg tahun 2019 nanti. Survei akan membimbingmu teman. Survei akan menuntunmu dalam menjalankan proses kampanye untuk meraih suara pemilih yang dikehendaki. Survei akan meberikanmu peta kekuatanmu maupun lawanmu. Survei akan menyajikan informasi akurat Dikecamatan mana calon kuat, di wilayah mana calon lemah posisinya.

Hasil survei akan banyak memberikan gambaran tentang segmen pemilih. Misalnya, calon A didukung kuat oleh  pemilih yang berusia muda. Calon B didukung kuat oleh kelompok kalangan tua.

Hasil survei juga akan menunjukan kepadamu tentang berbagai hal, seperti kecenderungan ke calon mana dukungan pemilih dari segmen tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan pekerjaan, gender, suku, agama, dan sebagainya.

Untukmu teman aku akan mencontohkannya seperti yang sering kulakukan selama ini, caranya akan kujelaskan secara rinci nanti.

Secara ringkas tahapan melakukan survei untuk pilkada maupun pileg itu dapat diurutkan seperti sistematika berikut ini ;

  1. Persiapkan data awal diwilayah mana survei akan dilakukan. Data awal ini berupa jumlah penduduk disetiap desa maupun kelurahan. Biasanya data ini ada di BPS (Badan Pusat Statistik).
  2. Tentukan jumlah sampel. Surveiku jumlah sampelnya paling sedikit itu 220 responden dan paling banyak maksimal 1.500an responden.
  3. Buatlah daftar pertanyaan (kuisioner).
  4. Lengkapilah instrumen surveimu.
  5. Rekrutlah petugas wawancara dan lakukan pembekalan/ pelatihan (workshop).
  6. Proses wawancara lapangan.
  7. Lakukan pendampingan lapangan (withness).
  8. Lakukan crosscheck hasil wawancara lapangan.
  9. Pengumpulan kuisioner hasil wawancara lapangan.
  10. Entry data dan penyajian data hasil survei.

Selanjutnya teman, kita akan masuk ke tahap penjelasan secara rinci terhadap 10 item diatas disetiap lembaran manuskrip yang khusus ini secara lembar demi lembar, bacalah secara teliti yaa karena kamu kan mau menjadi peneliti.

Jika kamu tuntas membaca ebook ini teman, maka kamu tidak awam lagi dan sudah termasuk menjadi bagian dari peneliti dalam orbit cakrawala survei pemilu yang sedang terjadi saat ini dinegri yang kita cintai ini, Indonesia kita bersama.

BACA JUGA: Panduan Mudah Survei Sendiri: Untuk Timses Pilkada Bupati, Walikota, Gubernur dan Pemilu Legislatif 2019

(DC)

 

…………………………………. Bersemangatlah, peragu mudah jadi pecundang …………………………………………