Intip E-Book Survei #2 : SURVEI PEMILIH (PILKADA DAN PILEG)

Intip E-Book Survei #2 : SURVEI PEMILIH (PILKADA DAN PILEG)

Survey pemilih pada umumnya digunakan sebagai cara yang metodologis untuk memprediksi tingkat keterpilihan sesorang yang maju bertarung sebagai kontestan dalam suatu PEMILU (Pemilihan Umum) secara langsung. Dengan hasil survey kandidat diharapkan akan mampu memaham kondisi dirinya sendiri menurut sudut pandang masyarakat/ pemilih. Dengan survey ini diharapkan sang calon memiliki tambahan acuan/ panduan cara dalam menjalankan proses pemenangannya.

Survey pemilih disini dimaksudkan untuk memberikan gambaran faktual keadaan masyarakat/ pemilih didaerah dimana calonmu akan bertarung dalam pilkada 2018 maupun pileg tahun 2019 mendatang. Hal-hal yang berkembang di masyarakat dapat ditangkap informasinya dengan melakukan survey. Selain itu hasil survey juga dapat dijadikan sandaran untuk menentukan cara apa dan bagaimana mempengaruhi pemilih agar supaya orangmu menang dalam pertarungan pemilu langsung nantinya, begitu teman..

Yang dimaksud survei disini adalah penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Tujuan survei adalah untuk mengetahui keadaan atau informasi dasar masyarakat pemilih. Informasi dasar  itu antara lain persentase  suku, agama, latar belakang pendidikan, pekerjaan, penghasilan, opini, tingkat harapan, dan seterusnya.

Survei juga memberikan informasi tentang sosok tokoh yang berpeluang untuk mendapatkan dukungan signifikan jika seandainya diadakan pemilihan langsung.

Hasil survei dapat dijadikan landasan dasar oleh kandidat dan timsesnya yang dengannya strategi pemenangan dapat dirumuskan secara efektif dan efisien.

Hasil survei itu akan memberikan informasi sebagai berikut ;

Pertama, hasil survei akan menggambarkan tingkat popularitas setiap calon yang akan berkompetisi di wilayah tersebut. Dengan informasi popularitas ini akan mampu ditarik kesimpulan apakah calonmu sudah terkenal/ popular apa belum, dan berapa persen orang yang mengenalnya serta berapa persen orang belum mengenalnya. Ingat merasa PD (Percaya Diri) saja tidak cukup bahwa seakan sudah terkenal. Karena kenal yang dimaksud disini adalah bahwa ketika nama “seorang calon”  disebutkan kepada setiap orang/ pemilih maka mereka menjawab “ya kenal”. Selain itu kenal disini juga adalah bahwa nama calon itu sudah tertancap didalam benak setiap pemilih sebagai orang yang mereka kenal baik, mereka sangat kenal dengan wajah calonmu sekalipun calon tersebut tidak memiliki hubungan secara pribadi dengan mereka. Dalam ingatan mereka (pemilih) bahwa calonmu itu baik dan disukai oleh mereka sebagai pemilih.

Jika calonmu belum terkenal atau belum populer menurut hasil survei maka sebaiknya dirimu bergegas untuk segera membuat program pencitraan dan program sosialisasi yang lebih maksimal  lagi. Mumpung masih cukup banyak waktu sebelum hari H pemilihan.

Kedua, hasil survei dapat menggambarkan tentang keadaan kekinian masyarakat/ pemilih. Masalah utama yang dirasakan oleh sebagian besar orang dapat anda ketahui, sehingga dengan mengetahui masalah utama yang dirasakan masyarakat dapat anda jadikan sebagai bahan kampanye. Mungkin saja misalnya masalah utama sebagian masyarakat adalah sulitnya air bersih, kesulitan listrik, keadaan pencemaran lingkungan, gangguan keamanan, masalah lapangan pekerjaan, kesulitan sarana transportasi, tentang kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Kejelianmu untuk menangkap masalah utama tersebut kemudian  dijadikan bahan kampanye calonmu bahwa calonmu akan mampu menyelesaikan masalah tersebut kalau terpilih nantinya. Terkadang masalah utama sesungguhnya yang dirasakan oleh masyarakat pemilih belum tentu menjadi skor penilaian yang paling tinggi angkanya yang ada dalam hasil surveimu. Lagi – lagi dibutuhkan kecanggihan kandidat maupun timses lah untuk mampu mengelompokan masalah utama masyarakat setempat sehingga dapat dijadikan bahan visi dan misi sang calon maupun sebagai bahan penguasaan ketika sosialisasi.

Ketiga, hasil survey akan berimbas kepada ketajaman analisamu teman, terhadap competitor/ pesaing utama calonmu (pilkada dan pileg). Pada kasus pileg biasanya dalam satu DAPIL (Daerah Pemilihan) paling hanya beberapa partai atau orang yang akan terpilih dan menang (hal ini tergantung dari kuota kursi parlemen yang di plotkan di daerahmu). Dengan hasil survey tiba-tiba saja dirimu mampu mengukur kekuatan dan kelemahan pesaingmu dalam pemilu itu. Atau yang paling mungkin juga dirimu akan mampu mengidentifikasi faktor apa saja yang membuat kontestan lain menjadi kuat menurut analisismu. Jelasnya, dengan hasil survei kekuatan “musuhmu” dapat dengan mudah terbaca olehmu.

Keempat, hasil survey akan memberikan informasi faktual yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya. Artinya kandidatmu tidak akan pernah terbuai dengan laporan timsesnya yang selalu mengatakan “kita pada posisi aman ndan”. Tetapi ingat lah ya bahwa bukan berarti dirimu harus berprasangka buruk tehadap laporan tim seperti itu.

Kelima, hasil survei akan membuat langkah pemenanganmu atau calonmu menjadi terarah, jelas, efektif, dan terukur pembiayanya serta tidak asal-asalan meniru gaya kampanye orang lain. Karena factor pembeda itu sangat penting dalam mempengaruhi orang lain, tetapi tidak hanya asal beda tentunya (factor diferensiasi).

Keenam, dengan melakukan survey sendiri maka dirimu akan memegang sendiri data-data valid terkait eksistensimu dalam suatu pilkada atau pileg. Bahkan dirimu akan mengetahui secara jelas siapa tokoh paling didengar omongannya oleh masyarakat dilingkungan  tertentu, organisasi apa yang paling memilki pengaruh terhadap pilihan masyarakat pemilih, dan seterusnya. Semua informasi ini akan menjadi bekalmu dalam menjalankan proses pemenangan untukmu maupun untuk temanmu atau kenalanmu.

BACA JUGA: Panduan Mudah Survei Sendiri: Untuk Timses Pilkada Bupati, Walikota, Gubernur dan Pemilu Legislatif 2019

(DC)

Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Indonesiaku indonesiamu dan Indonesia kita bersama. Hari ini negri yang kita cintai ini sudah sampai tahap modernisasi disemua sisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Waktu kedepan menjelang pelaksanaan rekruitmen kepemimpinan diberbagai tingkatan yakni kabupaten, kota, dan provinsi yang mana pemilu akan dilaksanakan serentak tahun depan tahun 2018, bahkan dilanjutkan lagi tahun berikutnya yaitu tahun 2019 untuk pemilu legislative dan pemilihan presiden. Pemilu sendiri nyaris tidak dapat mencueki era modernisasi itu. Proses digitalisasi yang erat berkaitan dengan era internet dimana semua orang nampak seperti terhubung setiap saat, sehingga informasi sangat mudah didapat. Bahkan informasi yang begitu mudah didapat ini dapat dengan mudah juga mengubah perilaku kehidupan termasuk dalam kehidupan berpolitik.

Suasana perpolitikan saat ini sangat memperhatikan informasi yang berkembang diberbagai media termasuk media sosial (medsos). Berbagai opini baik yang serius maupun ngelantur termasuk hoax bahkan selalu bertebaran setiap saat setiap waktu all time selama 24 jam nonstop sepanjang minggu, bulan, bahkan sepanjang tahun. Ada ketelitian dalam memilih dan memilah informasi yang diperoleh, apalagi dalam peristiwa politik semacam pilkada. Beruntungnya setiap event pilkada selalu ada ilmu yang ilmiah yang dapat menjadi patokan sehingga informasi tersebut dapat dipegang bahkan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan. Itulah yang dimaksud survei dalam pilkada.

Berbagai rilis hasil survey telah dilakukan oleh berbagai pihak. Hasil survey selalu ditunggu – tunggu kehadirannya. Lembaga survey yang credible akan dapat meyakinkan public, dimana hasil surveinya akan dijadikan panutan. Plus minus dalam merilis hasil survey tentu dinamis. Masyarakat pemilih akan lebih bijak dalam menentukan pilihannya terhadap kandidat yang bertarung berdasar hasil survey dan berdasarkan issue yang berkembang tentunya.

Mungkin banyak sekali orang yang kepingin mengetahui apa itu survei dalam pemilu langsung berupa pilkada serentak tahun 2018 ini. Hasil survei yang dirilis akan ditunggu-tunggu kehadirannya. Aku akan memaparkannya dengan detail untuk mu, teman. Prediksi siapa yang bakal memenangkan pertarungan akan ramai dibicarakan dalam berbagai setiap kesempatan biasanya baik itu di media massa medsos maupun sekedar dalam berbagai forum diskusi warung kopi atau bahkan kelas warung kopi resto mungkin.

Daerahmu akan pilkada juga kah teman?

Atau ada temanmu nyalon, ah atau mungkin timses nih?

Berbagai kalangan terkesan mampu membicarakan survei ataupun hanya sekedar mengomentari setiap hasil survei yang dirilis itu tanpa menyadari bagaimana sesungguhnya proses sehingga menghasilkan data – data ataupun informasi yang mengatakan calon A berpotensi besar akan menang dan mampu mengalahkan calon B atau calon C adalah menjadi pesaing terberatnya.

Tetapi pihak yang mampu melaksanakan survei dalam pilkada hanya segelintir dapat dihitung jari jemari belaka. Ada lembaga survei semata, ada juga konsultan pilkada yang mengkhususkan dirinya mendampingi calon dalam pilkada namun sekaligus mampu melaksanakan survei juga.

Tetapi sangat jarang partai politik mau memiliki lembaga survei sendiri yang dapat dijadikan rujukan pengambilan keputusan, biasanya survei diserahkan kepada  pihak konsultan. Juga, tidak semua akademisi mampu melaksanakan survei ilmiah ini. Kemudian ditambah banyaknya kontestan dalam pemilu langsung seperti saat ini yang tidak bisa melaksanakan survei secara mandiri. Padahal melaksanakan survei itu gak sulit-sulit banget kok.

Dalam tulisan ini dirimu akan menemukan penjelasan yang sangat gamblang bagaimana survei dalam proses pemilu itu dilaksanakan. Gak perlu punya sekolah harus lulusan luar negri untuk mengerti dan mampu melaksanakan survei sendiri. Kamu alumni dari kampus di Indonesia pun sudah cukup kok jadi bekal untuk mengerti survei. Proses survei dari awal hingga akhir akan kubahas untukmu.

Kenapa hasil survei cenderung ramai dibicarakan dalam setiap pilkada misalnya, itu membuktikan masyarakat pemilih dari berbagai latar belakang merasa tertarik dan terbantu atas informasi dari hasil survei yang dirilis. Hasil survei sangat dipercaya, karena dianggap ilmiah dan faktanya juga hasil survei adalah satu-satunya cara dalam memprediksi hasil pilkada atau pileg misalnya maupun pilpres sekalipun. Meskipun, ada juga dari kejauhan sayup – sayup terdengar ada yang memprediksi pilkada menggunakan sumber informasi dari dukun atau orang pintar.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai alat jika ingin melakukan survei sendiri, dengan aku berupaya maksimal menjelaskan kepadamu secara cepat, mudah, dan lengkap.

Survei sendiri itu penting bagi setiap calon dalam pilkada 2018 maupun bagi calon caleg tahun 2019 nanti. Survei akan membimbingmu teman. Survei akan menuntunmu dalam menjalankan proses kampanye untuk meraih suara pemilih yang dikehendaki. Survei akan meberikanmu peta kekuatanmu maupun lawanmu. Survei akan menyajikan informasi akurat Dikecamatan mana calon kuat, di wilayah mana calon lemah posisinya.

Hasil survei akan banyak memberikan gambaran tentang segmen pemilih. Misalnya, calon A didukung kuat oleh  pemilih yang berusia muda. Calon B didukung kuat oleh kelompok kalangan tua.

Hasil survei juga akan menunjukan kepadamu tentang berbagai hal, seperti kecenderungan ke calon mana dukungan pemilih dari segmen tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan pekerjaan, gender, suku, agama, dan sebagainya.

Untukmu teman aku akan mencontohkannya seperti yang sering kulakukan selama ini, caranya akan kujelaskan secara rinci nanti.

Secara ringkas tahapan melakukan survei untuk pilkada maupun pileg itu dapat diurutkan seperti sistematika berikut ini ;

  1. Persiapkan data awal diwilayah mana survei akan dilakukan. Data awal ini berupa jumlah penduduk disetiap desa maupun kelurahan. Biasanya data ini ada di BPS (Badan Pusat Statistik).
  2. Tentukan jumlah sampel. Surveiku jumlah sampelnya paling sedikit itu 220 responden dan paling banyak maksimal 1.500an responden.
  3. Buatlah daftar pertanyaan (kuisioner).
  4. Lengkapilah instrumen surveimu.
  5. Rekrutlah petugas wawancara dan lakukan pembekalan/ pelatihan (workshop).
  6. Proses wawancara lapangan.
  7. Lakukan pendampingan lapangan (withness).
  8. Lakukan crosscheck hasil wawancara lapangan.
  9. Pengumpulan kuisioner hasil wawancara lapangan.
  10. Entry data dan penyajian data hasil survei.

Selanjutnya teman, kita akan masuk ke tahap penjelasan secara rinci terhadap 10 item diatas disetiap lembaran manuskrip yang khusus ini secara lembar demi lembar, bacalah secara teliti yaa karena kamu kan mau menjadi peneliti.

Jika kamu tuntas membaca ebook ini teman, maka kamu tidak awam lagi dan sudah termasuk menjadi bagian dari peneliti dalam orbit cakrawala survei pemilu yang sedang terjadi saat ini dinegri yang kita cintai ini, Indonesia kita bersama.

BACA JUGA: Panduan Mudah Survei Sendiri: Untuk Timses Pilkada Bupati, Walikota, Gubernur dan Pemilu Legislatif 2019

(DC)

 

…………………………………. Bersemangatlah, peragu mudah jadi pecundang …………………………………………

ARTIKEL PILEG 2019 #7: CALEG MENANG MEMILIH PEMILIH TERLEBIH DAHULU SEBELUM DIPILIH OLEH PEMILIH

ARTIKEL PILEG 2019 #7: CALEG MENANG MEMILIH PEMILIH TERLEBIH DAHULU SEBELUM DIPILIH OLEH PEMILIH

Mau maju menjadi caleg itu adalah kesadaran logis bagi orangnya. Sementara itu pemilih mau memilih caleg tertentu juga adalah kesadaran logis bagi pemilih tersebut. Sehingga diantara caleg dan pemilih itu musti terjalin ikatan yang sangat erat.

Masyarakat pemilih mengundang caleg dalam acara sosial kemasyarakatan, sedangkan caleg akan berusaha aktif mengunjungi atau menyapa masyarakat pemilih pada dapil-nya (dapil = daerah pemilihan).

Sebelum terjadinya saling memilih diantara keduanya ini maka keaktifan dan upaya gayung bersambut haruslah terjadi dengan sebaik mungkin. Merencanakannya menjadi keharusan. Dimana jika dilihat untuk saat ini maka diri caleg-lah yang memiliki kepentingan terlebih dahulu kepada masyarakat pemilih sehingga penting bagi caleg untuk melakukan upaya yang mampu menarik respon pemilih.

Urutan kelompok pemilih potensial bagi caleg potensial (caleg memilih pemilih yang akan memilihnya);

  1. Masyarakat pemilih dalam dapil.
  2. Keluarga dekat dalam rumah tangga caleg.
  3. Tetangga kiri-kanan dan depan belakang rumah caleg.
  4. Warga se-lingkungan caleg (se-lingkungan RT/ TPS, se-lingkungan Kelurahan/ Desa, se-lingkungan Kecamatan, dan se-lingkungan dapil).
  5. Tokoh RT se-dapil.
  6. Sahabat se-dapil.
  7. Kawan se-dapil.
  8. Kenalan se-dapil.
  9. Tokoh agama se-dapil.
  10. Tokoh adat se-dapil.
  11. Tokoh pemuda se-dapil.
  12. Tokoh perempuan se-dapil.
  13. Tokoh pengusaha se-dapil.
  14. Tokoh organisasi se-dapil.
  15. Tokoh pegawai/ pekerja.
  16. Tokoh pengajar/ guru.
  17. Tokoh aktivis sosial kemasyarakatan se-dapil.
  18. Kelompok pengajian se-dapil.
  19. Kelompok tani/ nelayan se-dapil.
  20. Kelompok koperasi se-dapil.
  21. Dan seterusnya sesuai yang ada pada dapilmu.

Perhatikan sekali lagi pengelompokan (segmentasi pemilih) diatas, perkirakanlah dengan serius kelompok mana saja yang paling mudah bagimu untuk dipilih menjadi pemilihmu kelak pada hari pemilihan (hari H).

BACA JUGA: Strategi Sainte Lague Murni Caleg Menang Tahun 2019

Berorientasi pemilih langsung dalam dapil nampak penting sekali agar supaya meningkatkan potensi keterpilihanmu. Pengelompokan pemilih dalam dapil ini adalah sebagai asupan tambahan jika merasa diperlukan bagi caleg menang tahun 2019.

Demikian sekilas urusan pen-caleg-an kita hari ini, share/ bagikan tulisan ini kepada teman se-partai-mu sebagai bahan diskusi. Komentarmu yang hebat silahkan pada kolom dibawah tulisan ini.

Salam persatuan NKRI !!!

(DC)

PILEG 2019 #4: 8 INSTRUMEN  MENANG PALING AMPUH UNTUK PRIBADI CALEG 2019 (KHUSUS KEPADA CALEG TINGKAT KABUPATEN/ KOTA)

PILEG 2019 #4: 8 INSTRUMEN MENANG PALING AMPUH UNTUK PRIBADI CALEG 2019 (KHUSUS KEPADA CALEG TINGKAT KABUPATEN/ KOTA)

Salam persatuan sebangsa dan setanah air, rekan-rekan sekalian siapapun yang sudah mulai hobi menyimak artikel kami di website ini kami ucapkan salam perkawanan. Berikut kami menginformasikan delapan instrument sinergis untuk mengupayakan pemenangan bagi pribadi caleg 2019, yakni ;

  1. Caleg membentuk tim kecil & observasi diawal.
  2. Menunjuk personil data-base dan IT khusus.
  3. Tim survey dalam dapil.
  4. Sosialisasi langsung dan teknisnya.
  5. Instrumen media sosialisasi online & offline.
  6. Membentuk tim TPS.
  7. Bersinergis dengan tim dari partaimu.
  8. Perhitungan suara akhir (Real Count).

Kemudian begini sekilas penjelasannya, silahkan dikembangkan sendiri berdasarkan kemampuan daya imajinasi masing-masing. Ayo kita mulai kilasannya;

1. Caleg membentuk tim kecil & observasi diawal.

Tim kecil yang dimaksud disini adalah orang – orang yang direkrut oleh caleg untuk membantunya terkait urusan kelengkapan ke-administrasi-an pencalegan di partai maupun di KPU nantinya. Tim ini cukup 2 sampai 3 orang yang penting memiliki loyalitas dan kecakapan dalam berurusan terkait keadministrasian hingga hari H pemilihan. Disarankan tim kecil ini adalah orang kepercayaan caleg yang sudah lama kenal (bisa keluarga dekat).

Sepanjang proses pemenangan tim kecil ini disarankan dibantu oleh orang-orang yang cukup mengerti urusan data sehingga mampu melakukan tugas-tugas observasi / pemantauan dilapangan.

Tim kecil ini juga harus mampu berkomunikasi dengan nyaman kepada tim selanjutnya.

 

2. Menunjuk personil data-base dan IT khusus.

Tim ini disarankan direkrut dari orang-orang muda yang paham urusan komputerisasi dan melek teknologi informasi. Keahlian penggunaan gadget (handphone dan laptop) adalah keharusan yang dimiliki dalam tim ini.

Disarankan jumlah tim ini maksimal hanyalah 3 orang yang mampu saling bersinergis. Karena akan  terkait dengan upaya pencitraan caleg pada pelaksanaan strategi di medsos/ internet.

BACA JUGA : Software Pileg : Sistem Manajemen Pemilu Legislatif 2019

Tim ini nanti yang akan mengelola akun medsos caleg, akun itu dapat berupa FB, IG, Web, Vlog, dan seterusnya.

Tim ini harus bekerja sejak awal-awal seperti saat ini.

Satu orang sudah cukup untuk mengurusi data-base yang penting teliti dan mampu mengetik/ menggunakan program ms.excel atau sejenisnya.

 

3. Tim survey dalam dapil.

Kami menyarankan menyewa untuk pelaksanaan survey ini, karena ini keahlian khusus. Silahkan caleg ataupun partai menghubungi lembaga survei yang sudah dikenal dengan baik diwilayahmu. Survei ini hanya dilakukan 2 sampai 3 kali sepanjang proses pemenangan. Data hasil survey sangat penting untuk mengetahui potensi peluang dan arah  pergerakan pemenangan.

Data hasil survei harus dirahasiakan, ia hanya boleh diketahui oleh caleg dan orang kepercayaannya. Hasil survei jangan dipublikasikan karena itu hanya konsumsi internal saja.

Karena hasil survei akan menjelaskan kekuatan dan kelemahan diri caleg tersebut. Melalui survey akan dapat diketahui caleg mana saja yang memiliki peluang tertinggi untuk menang di dalam suatu dapil.

 

4. Sosialisasi langsung dan teknisnya.

Caleg harus melakukan sosialisasi dengan bertemu langsung ke masyarakat di wilayah dapilnya. Selama sosialisasi ini upayakan dapat merekrut (mendapat restu) tokoh sentral di wilayah tersebut (blocking tokoh). Rekrut lah tokoh-tokoh pendukung ini secara serius.

Berikut kategori blocking tokoh yang sebaiknya direkrut untuk pribadimu ;

  1. Tokoh agama.
  2. Tokoh pelajar, pemuda dan olahraga.
  3. Tokoh perempuan/ ibu-ibu PKK/ pengajian.
  4. Tokoh UKM/ pedagang.
  5. Tokoh adat/ kesukuan/ paguyuban.
  6. Tokoh RT.
  7. Tokoh lainnya dalam kelompok-kelompok yang ada di wilayah tersebut.

Sosialisasi ini dapat berupa menghadiri undangan, aktif mengunjungi kelompok-kelompok pengajian, mengadakan pertandingan, aktif berdiskusi alamiah di warung-warung kopi, aktif memberikan sambutan-sambutan dalam setiap acara yang memungkinkan, masuk kepengurusan organisasi social lainnya.

 

5. Instrumen media sosialisasi online & offline.

  1. Instrumen media sosialisasi online (digital – campaign ;
  2. Akun Facebook pribadi/ fanspage.
  3. Akun instagram.
  4. Website.
  5. Vlog dan Youtube.
  6. Instrumen media sosialisasi offline ;
  7. Baleho.
  8. Spanduk.
  9. Brosur.
  10. Kalender.
  11. Baju dan topi.
  12. Bantuan social, bencana alam, dan lainnya.
  13. Sumbangan peralatan olahraga.
  14. Peralatan ibadah atau rumah ibadah.
  15. Bantuan alat/ perlengkapan warga/ lingkungan.
  16. Silaturrahim langsung/ kunjungan langsung secara rutin kepada setiap tokoh-tokoh di wilayah dapil tersebut.
  17. Branding alat-alat atau kendaraan.
  18. Bendera atau umbul-umbul.
  19. dan seterusnya sesuaikan kemampuan.

 

6. Membentuk relawan TPS.

Pengertian membentuk relawan di TPS yakni merekrut/ menunjuk dan menugaskan 1 orang di setiap TPS yang bertugas selama sekitar 3-4 bulan menjelang hari H. Relawan ini adalah orang-orangmu yang serius mendukungmu.

Tugas utama relawan TPS ini ada 2 ;

  1. Melakukan identifikasi kepada setiap pemilih dimana dia ditugaskan, kemudian melaporkan hasil penugasannya itu.
  2. Melakukan persuasi kepada semu pemilih di TPS dimana dia ditugaskan.

Sebaiknya relawan TPS ini dari orang-orang yang punya hubungan dekat denganmu, keluarga, sahabat, teman, kenalan baik, dan seterusnya.

Pelan-pelan merekrut relawan ini, yakinkan seyakin yakinnya olehmu karena suramu di TPS tergantung orang ini.

Jumlah personil relawan ini adalah sejumlah TPS yang ada di dapilmu. Orang-orang ini harus loyal dan termotivasi.

Pada hari perhitungan suara nanti mara relawan ini yang akan dengan sangat cepat melaporkan hasil pemungutan suara di TPSnya.

 

7. Bersinergis dengan tim dari partaimu.

Tim jenis ini juga diperlukan, tapi pahamilah tim ini biasanya bekerja untuk pencitraan partai secara umum. Ikut nimbrung dalam tim ini tapi jangan terlalu diandalkan untuk memperoleh suaramu sebagai caleg karena memang tugas tim partai adalah untuk mengangkat suara partai. Pahamilah hal ini.

Jaringan lainnya semisal jaringan teman dan sahabat yang rela membantumu, sehingga ikatan silaturrahim diperlukan sepanjang tidak menggerogoti kemampuan pembiayaan, syukur-syukur dapat tanpa pembiayaan… hehehe

Mengelola orang-orang yang mengajukan diri untuk membantu atau menjadi tim itu perlu seni mengatur (manajemen) tersendiri. pelajarilah

Hitung dan kalkulasikan baik-baik sebelum menjalankan upaya pemenanganmu, buat rencana tindakan yang matang sebelum mengambil langkah strategis.

 

8. Perhitungan suara akhir (Real Count).

Ini adalah acara hari H pemungutan suara di TPS. Semua tim akan terlibat pada saat ini. Relawanmu di TPS bertugas di TPS dimana selama ini dia ditugaskan, kemudian tim IT dan data-base akan menerima laporan hasil TPS secara online.

Pastikan saksi di TPS sangat paham dan mengerti  aturan, karena hasil pemilu sering bermasalah ketika saksi tidak paham.

Idealnya saksi itu menambah suara, jangan sampai saksi memilih caleg lain yang bukan tugasnya. Ini sangat merugikan mu.

Persiapkan perhitungan suara ini secara rapi dan tepat, jika memungkinkan bekerja samalah antara sesama caleg se-partai.

Secara sederhana berikut gambaran teknis perhitungan Real Count ;

Hasil di TPS dikirim via SMS dengan format khusus ke server IT khusus juga kemudian akan dilakukan prosessing secara komputasi sehingga menghasilkan data perhitungan yang sama dengan KPU, namun data sendiri ini lebih cepat untuk diketahui oleh caleg bersangkutan.

Demikian langkah-langkah pemenangan caleg 2019 yang dapat kami sampaikan hari ini, terusah menyimak opini yang kami sampaikan dalam website www. vote-indonesia.com

Dan silahkan share/ berbagi  kepada teman-teman terdekatmu.

Salam santun, ayo tetap kompak, salam NKRI!!!

(DC)

BACA JUGA : Software Pileg : Sistem Manajemen Pemilu Legislatif 2019