STRATEGI MEMBACA RILIS HASIL SURVEI PILPRES 2019

STRATEGI MEMBACA RILIS HASIL SURVEI PILPRES 2019

Berikut hanyalah sepenggal respon terhadap berbagai informasi yang telah memprediksi hasil pilpres besok hari. Artikel ini kumaksudkan untuk menerangkan bagi yang masih merasa gelap (galau) terhadap upaya prediksi hasil pilpres yang waktunya tidak sampai 24 jam lagi dari sekarang.

Mungkin dapat membantu untuk menambah sudut pandang terhadap pengalaman politik kedepan atau sebaliknya, mana baiknya lah. Toh kita semua tidak dituntut wajib pasti tepat dalam memperkirakan hasil suatu pemilu dimanapun kapanpun. Hanya saja perlu disadari bahwa ada ilmu pengetahuan yang mampu secara ilmiah untuk digunakan sebagai sarana dalam menilai maupun “merasakan” apa yang akan terjadi pada pemilu esok hari. Ada pendekatan atau metode ilmiahnya, biasa disebut dengan survei arah potensi pilihan dari masyarakat pemilih.

Beberapa lembaga survei mainstream menginformasikan hasil prediksinya yang di rilis di berbagai media. Ada yang mirip hasilnya ada juga yang berbeda sebaliknya. Sama – sama mengatakan hasil survei ilmiah. Tetapi kok kenapa bisa berbeda hasilnya? Ya itu mungkin bisa dikarenakan bukan karena faktor keilmiahan, atau bisa juga itu dikarenakan memang ada kejadian luar biasa yang tidak terbaca pada saat survei dilakukan.

Ada jarak waktu yang cukup panjang antara pengumpulan data lapangan (data-collecting) dengan waktu rilis hasil surveinya. Ada saja pelaksanaan survei pilpres di bulan Maret yang kemudian dirilis hasilnya bulan April 2019.

Mungkin di antara kalian ada yang bertanya begini ; jadi menurut penulis vote-indonesia.com siapa yang akan menang diantara 01 atau 02? Jawab; aku tidak berkepentingan untuk meyakinkan kalian bakal siapa yang  akan menang. Simpan saja sendiri-sendiri wilayah keyakinan itu. Ayo kita berdebat terhadap instrument pemenangan (variabel).

Sebagai bahan perdebatan berikut kuajukan instrument/ informasi umumnya;

  1. Silahkan menelaah rilis hasil survei LSI Denny JA, Burhanuddin Muhtadi, dan lembaga survei lainnya. Para lembaga survei yang telah berpengalaman banyak yang mengatakan 01 lebih unggul dari 02. Dengan berbagai argumentasi keilmiahan yang telah dikemukakan. Selami secara mendalam data-data yang telah mereka tampilkan. Jangan didebat dengan keyakinanmu tetapi jika mau debatlah secara ilmiah juga, sehingga akan menghasilkan berprosesnya ilmu pengetahuan. Jangan sampai perdebatan keilmiahan dihentikan oleh faktor keyakinan tanpa dibarengi logika berfikir ilmiah.
  2. Memang ada juga lembaga survei yang menyatakan 02 lebih unggul daripada 01. Klaimnya juga data ilmiah dan sudah standar metodologi ilmiah. Terus kenapa berbeda hasilnya dengan lembaga survei lainnya? Apa halnya? Kusarankan untuk kalian bahwa dalam memirsa dari hasil berbagai survei pilpres adalah sebagai upaya meningkatkan wawasan dan kecerdasan pandangan politik dan pengalaman pribadi dalam rangka tumbuh kembang peradaban. Bukan untuk menambah sifat arogansi yang akhirnya dapat menjatuhkan nilai kemanusiaan. Dalam batas inilah pandanganku terhadap suatu keilmiahan data sehingga “boleh keliru” dalam memprediksi hasil pilpres, dengan catatan metodologinya telah terekam dengan baik sehingga dapat diperbaiki dikemudian hari.
  3. Bedakan kalau prediksi tanpa data ilmiah. Apa lagi kalau hanya memprediksi pake rasa-rasanya. Akan banyak orang merasakan 01 menang, dan ada banyak juga orang lainnya merasakan 02 menang. Nah, kalau yang pake rasa-rasanya begini sebaiknya tinggalkan perdebatan begitu. Karena itu akan membuatmu tidak bertambah pintar. Alih – alih yang begitu hanya tambah menegangkan urat leher saja.
  4. Masa kampanye terakhir di GBK dimulai pihak 02 yang memadati ruang sejak malam hari hingga sore hari, berbagai tampilan rasa khidmat. Sementara selanjutnya di hari kemudian pihak 01 yang juga memenuhi GBK dengan tampilan tak kalah banyak. Itu artinya sama-sama punya banyak massa. Sama-sama mampu dalam urusan banyaknya orang berkumpul di GBK. Apakah ini ukuran? Ya ini ukuran, tetapi itu bukan diukur memakai ilmiahnya data. Karena Indonesia ini bukan hanya GBK tetapi Indonesia ini ya juga GBK ya juga Kutai Kartanegara, ya juga Jogjakarta, ya juga dari sabang sampai merauke. Selami secara mendalam hal ini kawan.
  5. Di sepekan terakhir ini kita menyaksikan kejadian dari orang – orang yang dikenal sebagai “pembicara” terkenal yang menyatakan dukungannya kepada pihak 02. Ada UBN (Ustadz Bahtiar Nasir) ada UAS (Ustadz Abdul Shomad) ada juga UAH (Ustadz Adi Hidayat, selanjutnya ada juga AA Gym yang menyatakan mendukung 02. Sementara pihak 01 juga tidak kalah hebat yang mendapat dukungan dari orang-orang yang hebat juga seperti Mbah Maimun Zubeir, Habib Lutfi Bin Yahya, dan lainnya yang mungkin tidak sempat kutuliskan disini.

Point 5 ini tidak sempat di survei pengaruhnya secara detail karena waktu pemilu semakin dekat. Apakah signifikan pengaruhnya dukungan para tokoh ini dalam mendongkrak elektabilitas? Jawabnya nanti habis pemilu kita tunggu hasil penelitian selanjutnya. Tapi ini akan menjadi point dalam pemilu berikutnya. Silahkan para lembaga survei untuk menelitinya nanti selesai pemilu saja karena sudah tidak sempat untuk di survei kan.

Segitu saja dulu ya artikel penyapa ini kusampaikan. Sekali lagi kutegaskan bahwa lembaga survei yang merilis hasil surveinya itu bisa benar dan bisa salah. Tetapi itu dalam rangka pengalaman ilmu pengetahuan semata, bukan dimaksudkan untuk membuat menang atau kalahnya para kontestan dalam pemilu.  

Jangan pernah mengadili lembaga survei ilmiah, kalau oknumnya mungkin saja tidak taat aturan ilmiah yang juga mungkin dikarenakan urusan pribadi saja. Biarlah ilmu survei terus berkembang jangan di hambat gegara ulah oknum yang berkepentingan keliru sekalipun dia ahli misalnya.  

Terakhir sebagai penegasan subjective bahwa kuberpihak pada selisih suara dalam pilpres besok ada pada angka 11,5% dengan margin of error sebesar 2,0%.

Selamat bersiap menyiapkan diri untuk memilih besok hari bagi masyarakat yang berada dalam negri. Jangan lupa dandan, kalau perlu cukur rambut dulu biar segar pergi ke TPS besok hari. Salam kompak NKRI, salam damai para senior !!!

(Doni Candra, S.iP)

Intip E-Book Survei #2 : SURVEI PEMILIH (PILKADA DAN PILEG)

Intip E-Book Survei #2 : SURVEI PEMILIH (PILKADA DAN PILEG)

Survey pemilih pada umumnya digunakan sebagai cara yang metodologis untuk memprediksi tingkat keterpilihan sesorang yang maju bertarung sebagai kontestan dalam suatu PEMILU (Pemilihan Umum) secara langsung. Dengan hasil survey kandidat diharapkan akan mampu memaham kondisi dirinya sendiri menurut sudut pandang masyarakat/ pemilih. Dengan survey ini diharapkan sang calon memiliki tambahan acuan/ panduan cara dalam menjalankan proses pemenangannya.

Survey pemilih disini dimaksudkan untuk memberikan gambaran faktual keadaan masyarakat/ pemilih didaerah dimana calonmu akan bertarung dalam pilkada 2018 maupun pileg tahun 2019 mendatang. Hal-hal yang berkembang di masyarakat dapat ditangkap informasinya dengan melakukan survey. Selain itu hasil survey juga dapat dijadikan sandaran untuk menentukan cara apa dan bagaimana mempengaruhi pemilih agar supaya orangmu menang dalam pertarungan pemilu langsung nantinya, begitu teman..

Yang dimaksud survei disini adalah penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Tujuan survei adalah untuk mengetahui keadaan atau informasi dasar masyarakat pemilih. Informasi dasar  itu antara lain persentase  suku, agama, latar belakang pendidikan, pekerjaan, penghasilan, opini, tingkat harapan, dan seterusnya.

Survei juga memberikan informasi tentang sosok tokoh yang berpeluang untuk mendapatkan dukungan signifikan jika seandainya diadakan pemilihan langsung.

Hasil survei dapat dijadikan landasan dasar oleh kandidat dan timsesnya yang dengannya strategi pemenangan dapat dirumuskan secara efektif dan efisien.

Hasil survei itu akan memberikan informasi sebagai berikut ;

Pertama, hasil survei akan menggambarkan tingkat popularitas setiap calon yang akan berkompetisi di wilayah tersebut. Dengan informasi popularitas ini akan mampu ditarik kesimpulan apakah calonmu sudah terkenal/ popular apa belum, dan berapa persen orang yang mengenalnya serta berapa persen orang belum mengenalnya. Ingat merasa PD (Percaya Diri) saja tidak cukup bahwa seakan sudah terkenal. Karena kenal yang dimaksud disini adalah bahwa ketika nama “seorang calon”  disebutkan kepada setiap orang/ pemilih maka mereka menjawab “ya kenal”. Selain itu kenal disini juga adalah bahwa nama calon itu sudah tertancap didalam benak setiap pemilih sebagai orang yang mereka kenal baik, mereka sangat kenal dengan wajah calonmu sekalipun calon tersebut tidak memiliki hubungan secara pribadi dengan mereka. Dalam ingatan mereka (pemilih) bahwa calonmu itu baik dan disukai oleh mereka sebagai pemilih.

Jika calonmu belum terkenal atau belum populer menurut hasil survei maka sebaiknya dirimu bergegas untuk segera membuat program pencitraan dan program sosialisasi yang lebih maksimal  lagi. Mumpung masih cukup banyak waktu sebelum hari H pemilihan.

Kedua, hasil survei dapat menggambarkan tentang keadaan kekinian masyarakat/ pemilih. Masalah utama yang dirasakan oleh sebagian besar orang dapat anda ketahui, sehingga dengan mengetahui masalah utama yang dirasakan masyarakat dapat anda jadikan sebagai bahan kampanye. Mungkin saja misalnya masalah utama sebagian masyarakat adalah sulitnya air bersih, kesulitan listrik, keadaan pencemaran lingkungan, gangguan keamanan, masalah lapangan pekerjaan, kesulitan sarana transportasi, tentang kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Kejelianmu untuk menangkap masalah utama tersebut kemudian  dijadikan bahan kampanye calonmu bahwa calonmu akan mampu menyelesaikan masalah tersebut kalau terpilih nantinya. Terkadang masalah utama sesungguhnya yang dirasakan oleh masyarakat pemilih belum tentu menjadi skor penilaian yang paling tinggi angkanya yang ada dalam hasil surveimu. Lagi – lagi dibutuhkan kecanggihan kandidat maupun timses lah untuk mampu mengelompokan masalah utama masyarakat setempat sehingga dapat dijadikan bahan visi dan misi sang calon maupun sebagai bahan penguasaan ketika sosialisasi.

Ketiga, hasil survey akan berimbas kepada ketajaman analisamu teman, terhadap competitor/ pesaing utama calonmu (pilkada dan pileg). Pada kasus pileg biasanya dalam satu DAPIL (Daerah Pemilihan) paling hanya beberapa partai atau orang yang akan terpilih dan menang (hal ini tergantung dari kuota kursi parlemen yang di plotkan di daerahmu). Dengan hasil survey tiba-tiba saja dirimu mampu mengukur kekuatan dan kelemahan pesaingmu dalam pemilu itu. Atau yang paling mungkin juga dirimu akan mampu mengidentifikasi faktor apa saja yang membuat kontestan lain menjadi kuat menurut analisismu. Jelasnya, dengan hasil survei kekuatan “musuhmu” dapat dengan mudah terbaca olehmu.

Keempat, hasil survey akan memberikan informasi faktual yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya. Artinya kandidatmu tidak akan pernah terbuai dengan laporan timsesnya yang selalu mengatakan “kita pada posisi aman ndan”. Tetapi ingat lah ya bahwa bukan berarti dirimu harus berprasangka buruk tehadap laporan tim seperti itu.

Kelima, hasil survei akan membuat langkah pemenanganmu atau calonmu menjadi terarah, jelas, efektif, dan terukur pembiayanya serta tidak asal-asalan meniru gaya kampanye orang lain. Karena factor pembeda itu sangat penting dalam mempengaruhi orang lain, tetapi tidak hanya asal beda tentunya (factor diferensiasi).

Keenam, dengan melakukan survey sendiri maka dirimu akan memegang sendiri data-data valid terkait eksistensimu dalam suatu pilkada atau pileg. Bahkan dirimu akan mengetahui secara jelas siapa tokoh paling didengar omongannya oleh masyarakat dilingkungan  tertentu, organisasi apa yang paling memilki pengaruh terhadap pilihan masyarakat pemilih, dan seterusnya. Semua informasi ini akan menjadi bekalmu dalam menjalankan proses pemenangan untukmu maupun untuk temanmu atau kenalanmu.

BACA JUGA: Panduan Mudah Survei Sendiri: Untuk Timses Pilkada Bupati, Walikota, Gubernur dan Pemilu Legislatif 2019

(DC)

Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Indonesiaku indonesiamu dan Indonesia kita bersama. Hari ini negri yang kita cintai ini sudah sampai tahap modernisasi disemua sisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Waktu kedepan menjelang pelaksanaan rekruitmen kepemimpinan diberbagai tingkatan yakni kabupaten, kota, dan provinsi yang mana pemilu akan dilaksanakan serentak tahun depan tahun 2018, bahkan dilanjutkan lagi tahun berikutnya yaitu tahun 2019 untuk pemilu legislative dan pemilihan presiden. Pemilu sendiri nyaris tidak dapat mencueki era modernisasi itu. Proses digitalisasi yang erat berkaitan dengan era internet dimana semua orang nampak seperti terhubung setiap saat, sehingga informasi sangat mudah didapat. Bahkan informasi yang begitu mudah didapat ini dapat dengan mudah juga mengubah perilaku kehidupan termasuk dalam kehidupan berpolitik.

Suasana perpolitikan saat ini sangat memperhatikan informasi yang berkembang diberbagai media termasuk media sosial (medsos). Berbagai opini baik yang serius maupun ngelantur termasuk hoax bahkan selalu bertebaran setiap saat setiap waktu all time selama 24 jam nonstop sepanjang minggu, bulan, bahkan sepanjang tahun. Ada ketelitian dalam memilih dan memilah informasi yang diperoleh, apalagi dalam peristiwa politik semacam pilkada. Beruntungnya setiap event pilkada selalu ada ilmu yang ilmiah yang dapat menjadi patokan sehingga informasi tersebut dapat dipegang bahkan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan. Itulah yang dimaksud survei dalam pilkada.

Berbagai rilis hasil survey telah dilakukan oleh berbagai pihak. Hasil survey selalu ditunggu – tunggu kehadirannya. Lembaga survey yang credible akan dapat meyakinkan public, dimana hasil surveinya akan dijadikan panutan. Plus minus dalam merilis hasil survey tentu dinamis. Masyarakat pemilih akan lebih bijak dalam menentukan pilihannya terhadap kandidat yang bertarung berdasar hasil survey dan berdasarkan issue yang berkembang tentunya.

Mungkin banyak sekali orang yang kepingin mengetahui apa itu survei dalam pemilu langsung berupa pilkada serentak tahun 2018 ini. Hasil survei yang dirilis akan ditunggu-tunggu kehadirannya. Aku akan memaparkannya dengan detail untuk mu, teman. Prediksi siapa yang bakal memenangkan pertarungan akan ramai dibicarakan dalam berbagai setiap kesempatan biasanya baik itu di media massa medsos maupun sekedar dalam berbagai forum diskusi warung kopi atau bahkan kelas warung kopi resto mungkin.

Daerahmu akan pilkada juga kah teman?

Atau ada temanmu nyalon, ah atau mungkin timses nih?

Berbagai kalangan terkesan mampu membicarakan survei ataupun hanya sekedar mengomentari setiap hasil survei yang dirilis itu tanpa menyadari bagaimana sesungguhnya proses sehingga menghasilkan data – data ataupun informasi yang mengatakan calon A berpotensi besar akan menang dan mampu mengalahkan calon B atau calon C adalah menjadi pesaing terberatnya.

Tetapi pihak yang mampu melaksanakan survei dalam pilkada hanya segelintir dapat dihitung jari jemari belaka. Ada lembaga survei semata, ada juga konsultan pilkada yang mengkhususkan dirinya mendampingi calon dalam pilkada namun sekaligus mampu melaksanakan survei juga.

Tetapi sangat jarang partai politik mau memiliki lembaga survei sendiri yang dapat dijadikan rujukan pengambilan keputusan, biasanya survei diserahkan kepada  pihak konsultan. Juga, tidak semua akademisi mampu melaksanakan survei ilmiah ini. Kemudian ditambah banyaknya kontestan dalam pemilu langsung seperti saat ini yang tidak bisa melaksanakan survei secara mandiri. Padahal melaksanakan survei itu gak sulit-sulit banget kok.

Dalam tulisan ini dirimu akan menemukan penjelasan yang sangat gamblang bagaimana survei dalam proses pemilu itu dilaksanakan. Gak perlu punya sekolah harus lulusan luar negri untuk mengerti dan mampu melaksanakan survei sendiri. Kamu alumni dari kampus di Indonesia pun sudah cukup kok jadi bekal untuk mengerti survei. Proses survei dari awal hingga akhir akan kubahas untukmu.

Kenapa hasil survei cenderung ramai dibicarakan dalam setiap pilkada misalnya, itu membuktikan masyarakat pemilih dari berbagai latar belakang merasa tertarik dan terbantu atas informasi dari hasil survei yang dirilis. Hasil survei sangat dipercaya, karena dianggap ilmiah dan faktanya juga hasil survei adalah satu-satunya cara dalam memprediksi hasil pilkada atau pileg misalnya maupun pilpres sekalipun. Meskipun, ada juga dari kejauhan sayup – sayup terdengar ada yang memprediksi pilkada menggunakan sumber informasi dari dukun atau orang pintar.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai alat jika ingin melakukan survei sendiri, dengan aku berupaya maksimal menjelaskan kepadamu secara cepat, mudah, dan lengkap.

Survei sendiri itu penting bagi setiap calon dalam pilkada 2018 maupun bagi calon caleg tahun 2019 nanti. Survei akan membimbingmu teman. Survei akan menuntunmu dalam menjalankan proses kampanye untuk meraih suara pemilih yang dikehendaki. Survei akan meberikanmu peta kekuatanmu maupun lawanmu. Survei akan menyajikan informasi akurat Dikecamatan mana calon kuat, di wilayah mana calon lemah posisinya.

Hasil survei akan banyak memberikan gambaran tentang segmen pemilih. Misalnya, calon A didukung kuat oleh  pemilih yang berusia muda. Calon B didukung kuat oleh kelompok kalangan tua.

Hasil survei juga akan menunjukan kepadamu tentang berbagai hal, seperti kecenderungan ke calon mana dukungan pemilih dari segmen tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan pekerjaan, gender, suku, agama, dan sebagainya.

Untukmu teman aku akan mencontohkannya seperti yang sering kulakukan selama ini, caranya akan kujelaskan secara rinci nanti.

Secara ringkas tahapan melakukan survei untuk pilkada maupun pileg itu dapat diurutkan seperti sistematika berikut ini ;

  1. Persiapkan data awal diwilayah mana survei akan dilakukan. Data awal ini berupa jumlah penduduk disetiap desa maupun kelurahan. Biasanya data ini ada di BPS (Badan Pusat Statistik).
  2. Tentukan jumlah sampel. Surveiku jumlah sampelnya paling sedikit itu 220 responden dan paling banyak maksimal 1.500an responden.
  3. Buatlah daftar pertanyaan (kuisioner).
  4. Lengkapilah instrumen surveimu.
  5. Rekrutlah petugas wawancara dan lakukan pembekalan/ pelatihan (workshop).
  6. Proses wawancara lapangan.
  7. Lakukan pendampingan lapangan (withness).
  8. Lakukan crosscheck hasil wawancara lapangan.
  9. Pengumpulan kuisioner hasil wawancara lapangan.
  10. Entry data dan penyajian data hasil survei.

Selanjutnya teman, kita akan masuk ke tahap penjelasan secara rinci terhadap 10 item diatas disetiap lembaran manuskrip yang khusus ini secara lembar demi lembar, bacalah secara teliti yaa karena kamu kan mau menjadi peneliti.

Jika kamu tuntas membaca ebook ini teman, maka kamu tidak awam lagi dan sudah termasuk menjadi bagian dari peneliti dalam orbit cakrawala survei pemilu yang sedang terjadi saat ini dinegri yang kita cintai ini, Indonesia kita bersama.

BACA JUGA: Panduan Mudah Survei Sendiri: Untuk Timses Pilkada Bupati, Walikota, Gubernur dan Pemilu Legislatif 2019

(DC)

 

…………………………………. Bersemangatlah, peragu mudah jadi pecundang …………………………………………

ARTIKEL PILEG 2019 #7: CALEG MENANG MEMILIH PEMILIH TERLEBIH DAHULU SEBELUM DIPILIH OLEH PEMILIH

ARTIKEL PILEG 2019 #7: CALEG MENANG MEMILIH PEMILIH TERLEBIH DAHULU SEBELUM DIPILIH OLEH PEMILIH

Mau maju menjadi caleg itu adalah kesadaran logis bagi orangnya. Sementara itu pemilih mau memilih caleg tertentu juga adalah kesadaran logis bagi pemilih tersebut. Sehingga diantara caleg dan pemilih itu musti terjalin ikatan yang sangat erat.

Masyarakat pemilih mengundang caleg dalam acara sosial kemasyarakatan, sedangkan caleg akan berusaha aktif mengunjungi atau menyapa masyarakat pemilih pada dapil-nya (dapil = daerah pemilihan).

Sebelum terjadinya saling memilih diantara keduanya ini maka keaktifan dan upaya gayung bersambut haruslah terjadi dengan sebaik mungkin. Merencanakannya menjadi keharusan. Dimana jika dilihat untuk saat ini maka diri caleg-lah yang memiliki kepentingan terlebih dahulu kepada masyarakat pemilih sehingga penting bagi caleg untuk melakukan upaya yang mampu menarik respon pemilih.

Urutan kelompok pemilih potensial bagi caleg potensial (caleg memilih pemilih yang akan memilihnya);

  1. Masyarakat pemilih dalam dapil.
  2. Keluarga dekat dalam rumah tangga caleg.
  3. Tetangga kiri-kanan dan depan belakang rumah caleg.
  4. Warga se-lingkungan caleg (se-lingkungan RT/ TPS, se-lingkungan Kelurahan/ Desa, se-lingkungan Kecamatan, dan se-lingkungan dapil).
  5. Tokoh RT se-dapil.
  6. Sahabat se-dapil.
  7. Kawan se-dapil.
  8. Kenalan se-dapil.
  9. Tokoh agama se-dapil.
  10. Tokoh adat se-dapil.
  11. Tokoh pemuda se-dapil.
  12. Tokoh perempuan se-dapil.
  13. Tokoh pengusaha se-dapil.
  14. Tokoh organisasi se-dapil.
  15. Tokoh pegawai/ pekerja.
  16. Tokoh pengajar/ guru.
  17. Tokoh aktivis sosial kemasyarakatan se-dapil.
  18. Kelompok pengajian se-dapil.
  19. Kelompok tani/ nelayan se-dapil.
  20. Kelompok koperasi se-dapil.
  21. Dan seterusnya sesuai yang ada pada dapilmu.

Perhatikan sekali lagi pengelompokan (segmentasi pemilih) diatas, perkirakanlah dengan serius kelompok mana saja yang paling mudah bagimu untuk dipilih menjadi pemilihmu kelak pada hari pemilihan (hari H).

BACA JUGA: Strategi Sainte Lague Murni Caleg Menang Tahun 2019

Berorientasi pemilih langsung dalam dapil nampak penting sekali agar supaya meningkatkan potensi keterpilihanmu. Pengelompokan pemilih dalam dapil ini adalah sebagai asupan tambahan jika merasa diperlukan bagi caleg menang tahun 2019.

Demikian sekilas urusan pen-caleg-an kita hari ini, share/ bagikan tulisan ini kepada teman se-partai-mu sebagai bahan diskusi. Komentarmu yang hebat silahkan pada kolom dibawah tulisan ini.

Salam persatuan NKRI !!!

(DC)