Survei Pilkada Gak Penting?

Survei Pilkada Gak Penting?

Hasil survei Pilkada di suatu Kabupaten atau Kota saat ini sangat ditunggu-tunggu. Setiap hasil survei yang di publish akan selalu menjadi “alat pamer data” persaingan diantara para pendukung calon. Timses akan menyebarkan seluas luasnya jika hasil survei calonnya tinggi.

Tidak semua orang percaya akan hasil survei. Ada saja pihak yang antipati terhadap berita survei. Kalau hasil survei itu menguntungkan calon yang didukungnya maka dia percaya hasil survei tersebut, tetapi jika hasil survei itu rendah calonnya maka dia bisa bilang gak percaya hasil survei. Atau ada juga yang berkomentar ah itu survei bayaran. Dikiranya survei itu gak bayar ya … hahahah (mikir dikit lah, cup cup cup…).

Bagi orang yang biasa terlibat dalam peristiwa politik Pilkada berita survei adalah hal biasa dan umum. Baginya survei dalam Pilkada itu sangat penting untuk peta strategis gerakan pemenangan.

Selanjutnya bagi kandidat Pilkada ada semacam keharusan untuk meng-hire pihak pelaksana survei yang sudah direkomendasikan oleh parpol terkait. Karena saat ini lagi musim upaya rekom parpol bagi tokoh yang hendak maju mencalonkan diri dalam Pilkada. Tokoh yang belum kenal survei seperti terpaksa harus melaksanakannya karena bagi parpol di pusat hasil survei menjadi bagian alat pertimbangan untuk memberikan dukungan (SK parpol).

Hasil survei dihawatirkan dapat menjatuhkan/ mengeliminasi tokoh tertentu, dan juga dihawatirkan sebagai alat penguat untuk mendukung tokoh tertentu. Ini situasi pertaruhan bagi tokoh yang sedang negosiasi untuk mendapatkan SK parpol.

Sajikan hasil surveimu secara akurat maka akan dihargai argumentasimu, namun jika penyajian hasil surveimu terkesan dibuat-buat maka bisa saja argumentasi orang ke kamu akan dibuat-buat juga.

Tidak ada istilah survei diatas survei, hasil survei ya hasil riset lapangan secara metodologis yang secara keilmuan dapat dipelajari dan dapat diajarkan. Sehingga kalau ada data mirip hasil survei tapi itu bukan pengukuran secara survei ilmiah maka sebaiknya abaikan saja data seperti itu. Jadikan data yang mirip survei itu sebagai hiburan timsesmu yang gak percaya hasil survei itu… hahahah (peace!).

Memprediksi hasil Pilkada ya menggunakan survei ilmiah yang bisa diterima oleh semua pihak yang berilmu pengetahuan logis.

BACA JUGA : Strategi Pemenangan Pilkada, Survei Internal

Sebab, kalau ada orang yang memprediksi hasil Pilkada dengan metode lainnya maka itu bisa jadi hanya klaim semata atau dia sedang mengutarakan keyakinan pribadinya bukan keilmuannya. Jangan didebat tipe orang seperti ini, jadikan ia sebagai hiasan pemanis jika diperlukan.

Ilmu pengetahuan yang diaplikasikan pada semacam survei Pilkada itu memang hanya sebagian kecil orang yang dapat memakluminya, sebagian banyak orang itu hanya sebagai penikmat hasil survei saja.

Mungkin ada hasil survei itu dibelokan untuk kepentingan pragmatis, tapi lebih banyak lagi informasi yang seakan data ilmiah tetapi bukan data ilmiah yang dijadikan alat kepentingan pragmatis. Nah kalau yang ini silahkan sidang pembaca yang budiman untuk mengevaluasinya sendiri.

BACA JUGA : Sistem Manajemen Pemenangan Pemilihan Umum Kepala Daerah Serentak 2020

Ketahuilah bahwa saat-saat ini di kabupaten atau kota yang akan melaksanakan Pilkada sudah dilakukan survei beberapa kali oleh pihak pelaksana survei, mungkin kalian saja yang tidak mengetahuinya. Karena hasil survei terbaru sekali lagi dapat dijadikan alat argumentasi untuk mendapatkan SK parpol di pusat (silahkan tanya calonmu yang sudah mendapatkan SK).

Berikut sekilas proses bagaimana survei Pilkada itu dijalankan beserta step-nya ;

  1. Pertamakali peneliti akan membuat desain sample dengan melakukan listing data jumlah penduduk atau semisalnya.
  2. Kemudian menetapkan titik-titik lokasi survei (desa atau kelurahan).
  3. Pembuatan quesioner yang disesuaikan dengan keadaan sosial wilayah survei.
  4. Perekrutan dan pelatihan petugas wawancara di lapangan.
  5. Melakukan wawancara kepada responden langsung tatap muka di lapangan.
  6. Input data pada software yang sesuai.
  7. Analisis data dan pelaporan hasil survei.

Demikianlah secara sekilas tahapan pelaksanaan survei itu dijalankan. Perlu diketahui bahwa lamanya waktu pelaksanaan survei itu antara dua sampai tiga pekan dengan melibatkan 50-an lebih orang yang sudah terlatih.

Ingat ya, kalau ada survei dilakukan oleh satu atau dua orang maka itu bukan survei Pilkada yang kita maksud dalam pembahasan disini. Meskipun pelakunya orang yang sekolahnya tinggi. Abaikan saja argumentasi orang seperti itu karena banyak merugikan dirimu dan akalmu.

Sekali lagi minta maaf yang sebesar besarnya kalau pembahasan kali ini menggunakan kata kata yang kurang halus, itu kulakukan supaya kita semua tambah akrab..dengan maksud kita semua adalah bro !

Terimakasih bagi yang telah sabar membaca artikel ini, semoga kebaikan untuk kalian.

Salam hormat kepada senior, salam kompak NKRI !

 

Penulis : Doni Candra, S.IP
Editor : Nizar Mahroussy H.E, S.Kom