PILPRES 2019#04: RAHASIA TIGA PASANG CAPRES 2019

PILPRES 2019#04: RAHASIA TIGA PASANG CAPRES 2019

Sebentar lagi di bulan depan maksimal 10 Agustus 2018 sudah ada fix ada paslon capres – cawapres untuk pemilu tahun 2019 yang akan datang. Ulasan kali ini bersifat hiburan tambahan saja terkait lobbying yang saat ini lagi intensif dilakukan oleh berbagai pihak yang berkompeten di nasional, terutama kalangan kalangan ketua – ketua partai.

Apapun partai dimana keterlibatanmu saat ini, kami berharap opini kami kali ini sekali lagi bolehlah kiranya dijadikan “penyimpangan” analisis yang melihat dari sudut yang berbeda dari pemberitaan mainstream selama beberapa hari terakhir.

  1. PDIP adalah partai yang paling boleh menyinambungkan kembali untuk menempatkan kadernya sebagai presiden-wakil presiden periode 2019 – 2024. Pak Joko Widodo termasuk sosok yang paling tinggi potensinya untuk dicalonkan kembali oleh PDIP berikut mitra koalisinya.
  2. Sebagai rival head to head pak jokowi adalah pak Prabowo Subianto dengan partai Gerindranya adalah yang paling sering disandingkan berkompetisi dalam info – info umum yang beredar.
  3. Disisi lain sesungguhnya langkah taktis yang diambil oleh pak SBY sangatlah strategis sebagai pihak yang “melawan” opini ke-umum-an ini. Pak SBY lah menurut kami yang paling mampu menciptakan opsi sebagai pihak poros ketiga diluar kedua kubu yang tersebut diatas.
  4. Pak SBY telah berpengalaman secara mulus untuk menjadi presiden selama dua periode tanpa terusik full oleh mitra koalisinya saat itu. Sebagai contoh di periode keduanya pak SBY terlihat cukup mudah dan meyakinkan untuk menunjuk pak Budiono sebagai wapres saat itu.
  5. Beda kemudian dengan hari ini dimana pak Jokowi kini masih terlihat cukup sibuk menentukan siapa yang akan menjadi calon wakilnya.
  6. Melihat kepentingan politik jangka panjang (pasca 2024) maka cawapres pak Jokowi kali ini sangat memungkinkan untuk menjadi capres pada pasca 2024 itu. Inilah mungkin yang menjadi kalkulasi para elit di tubuh PDIP.
  7. Bagaimana dengan desas – desus parpol lainnya yang juga nampaknya cukup menyadari adanya pengkrucutan tiga sumbu poros kekuatan utama yang terjadi alamiah antara PDIP – GERINDRA – DEMOKRAT. Posisi Golkar dan PKB sebagai partai yang cukup besar selain ketiga poros utama itu  cukup berperan penting kita lihat bersama akhir – akhir ini dimana telah terjadi komunikasi yang cukup serius antara pak Airlangga dengan Cak Imin.
  8. Dilain pihak (namun sesungguhnya sedang diuji oleh publik) ada PAN dan PKS yang cukup getol mempertahankan penjajakan koalisinya kepada Gerindra.
  9. Yang lumayan menguras energi kalkulasi para elit partai juga adalah dimana pilpres kali ini dilaksanakan bareng dengan pileg. Biar bagaimanapun secara kepartaian kemampuan mendudukan sebanyak – banyaknya kadernya di parlemen juga perlu sangat serius untuk dilaksanakan.
  10. Menang pilpres tidak otomatis memenangi pileg. Begitu data – data penganalogian pilkada serentak yang baru saja terjadi. Paslon yang diusung partai besar dan atau ditambah koalisi besar cukup banyak dikalahkan oleh musuhnya koalisi partai menengah.
  11. Berkaca data hasil pileg tahun 2014 yang lalu dimana PDIP dan Golkar menempati perolehan suara paling tinggi dibandingkan partai lainnya. Namun pileg kali ini dari berbagai analisis hasil pengukuran/ survei prediksi ada yang mengatakan Gerindra dan PKS cukup berpeluang untuk merangsek naik menjadi empat besar. PKS, PKB, PAN, PPP, PBB, mungkin saja akan mendahulukan kepentingan pilegnya jika terjadi kebuntuan negosiasi dalam pencapresan kali ini.
  12. Bagaimana dengan partai lainnya yang juga sangat berkeringat untuk menjadi unggul dalam kompetisi pileg 2019 yang akan datang. Ada Nasdem, Perindo, dan HANURA, yang juga membagi fokusnya antara pilpres dengan pileg. Memainkan dua kepentingan yang berbeda sekaligus diperlukan tingkat kecerdasan politik yang tidak umum. Cermat dalam pemetaan, dan mampu dengan sangat sabar untuk mengeksekusi setiap keputusan adalah kuncinya.
  13. Sudahlah kawan politik itu sangat dinamis, dimana kepentingan lebih tinggi nilainya dari pada musuh politik. Begitu fatsun umum yang sering secara samar terlihat dipermukaan ruang public analisis politik terkini.
  14. Parpol yang menyadari posisinya “tingkat menengah” tidak akan memaksakan kadernya untuk maju menjadi capres atau cawapres, tetapi sangat mungkin memindahkan orientasinya kepada pemenangan pileg untuk sebanyak – banyaknya mendudukan kadernya di parlemen nantinya.
  15. Para elit dan para analis politik pasti sangat memahami hal itu. Selainnya pada line lapis kedua bagi elit pelaksana di daerah –  daerah cukuplah elit dipusat segera memutuskan siapa capres – cawapres maka akan siap di amin-kan hingga ke grass-root.
  16. Sedikit sebagai clue tambahan bahwa ada kekuatan lobbying yang menurut kami cukup menghiasi kalkulasi pencalonan dalam pilpres kali ini adalah massa dan elit PA 212. Kemana mereka akan berlabuh?
  17. Point terakhir sebagai opini kami kali ini adalah, seperti terjadinya tarik menarik kepentingan yang sangat kuat dan kalkulasi apakah “membuat” dua pasang saja pilpres kali ini ataukah terbelah lagi sehingga terjadi tiga pasangan capres – cawapres.
  18. Kita semua mungkin bukan “si pembuat” pasangan itu, tapi kita adalah “object” yang mungkin mereka sangat perhitungkan.
  19. Yuk kita teruslah memirsanya secara cermat hingga tanggal 10 Agustus 2018 mendatang. Sambil melihat kemana sesungguhnya arah dunia perpolitikan Indonesia kedepan.

Tetaplah bersemangat membaikan, salam kompak NKRI !!!

(DC)

PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

  1. Rakyat Indonesia akan dengan senang hati berpartisipasi dalam pemilu tahun 2019 yang akan datang, karena itu “hanyalah” bagian dari proses kesinambungan rakyat negri ini yang sudah sama-sama disepakati oleh rakyat itu sendiri.
  2. Rakyat di negri ini sangat mandiri, pemerintahan adalah bagian dari rakyat itu sendiri. Perkara ada oknum di pemerintahan ada yang nampak seperti tidak menjalankan misi kehidupan rakyat itu hanyalah bagian sedikit yang secara pasti akan perlahan terkikis oleh kejumudannya sendiri.
  3. Grass-root hari ini memiliki keunikannya sendiri, terlihat seperti ada pencampuran faktor idealisme dan pragmatisme yang berjalan bersama dalam sikap perilaku memilihnya. Menjadikannya terpisah hanyalah menghasilkan kekonyolan karena rakyat Indonesia hari ini sudah terbiasa berbeda pilihan dalam setiap pemilu tetapi tetap secara substansi kehidupannya mengusung persatuan yang sejati di kehidupan keseharian dalam bermasyarakat.
  4. Pemimpin Indonesia hari ini bukanlah kelompok dari hasil warisan masa lalu, karena rakyatnya lah sesungguhnya yang senantiasa secara turun temurun yang menjadi pewaris sah nusantara.
  5. Penghormatan rakyat Indonesia paling tinggi diwujudkan dengan sila pertama pancasila yakni ketuhanan yang maha esa. Rasa hormat diberikan tidak berlebih kepada manusia/ pemimpin. Rakyat memberikan rasa hormat kepada kepemimpinan dilakukan dengan sadar bukan karena terpaksa. Bangsa ini tidak mengenal penghormatan berlebih kepada manusia kecuali sebagaimana keharusan saja. Tidak ada raja yang dihormati melebihi penghormatan kepada seorang ayah dan ibu dalam rumah tangga rakyat Indonesia.
  6. Rakyat Indonesia tidak mengenal arak-arakan secara berlebihan untuk menyanjung suatu keluarga kaya atau keluarga terhormat. Kepemimpinan sudah sangat terbiasa berganti-ganti tanpa memandang “kesucian” dari keturunan/ trah warisan. Ia hanya dirasakan secara mendalam rasa hormat itu dalam lubuk hati setiap orang. Karena rakyat nusantara adalah manusia-manusia yang sangat mengenal eksistensi agung diluar semua manusia.
  7. Nasionalisme rakyat Indonesia sudah mendarah daging dan melekat yang kemudian dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Seandainya terjadi peperangan dengan negara lain maka percayalah rakyat Indonesia yang kalem ini yang akan menjadi tentara sesungguhnya untuk menghabisi negara penyerang itu. Silahkan tanyakan kepada jenderal perang manapun di dunia saat ini adakah yang berani nekat mengajak negaranya untuk menyerang bangsa Indonesia?
  8. Jika ada sekumpulan orang yang merasa paling berhak atas negeri ini maka hal itu akan dibabat habis oleh alam Indonesia sendiri. Pahamilah kemandirian rakyat Indonesia ini maka akan ditemukan kebijaksanaan yang sangat tinggi jika dibandingkan bangsa lain di dunia hari ini.
  9. Rakyat Indonesia tidak akan mampu terpecah-belah seperti kebanyakan negara-negara yang dimana rakyatnya mudah diadu domba dengan isu agama dan konflik kepentingan kelompok materialisme. Kelompok pengatasnamaan agama tidak akan pernah dapat dibenturkan dengan kelompok pro-materialisme karena bagi rakyat Indonesia keduanya adalah harus bejalan bersama dalam keharmonisan.
  10. Memang ada hari ini sekelompok kecil orang yang mengatasnamakan rakyat Indonesia dalam klaim tindakannya sebagai pemimpin tetapi hal itu bukanlah asli perilaku bangsa Indonesia. Karena bangsa Indonesia adalah bangsa pengayom yang paling mampu menyerap setiap aspirasi bahkan aspirasi dari negri asing sekalipun asalkan mau bekerjasama sesuai dengan kesadaran / kebijaksanaan bangsa Indonesia. Perhatikanlah negara lain dimana manusia pendatang di negara mereka akan dibatasi/ diberikan pagar yang sangat kokoh sehingga hanya bidang tertentu yang terbatas yang boleh diakses.
  11. Negara Indonesia hari ini hanya mampu di sejajarkan dengan negara Rusia dan Amerika Serikat. Dimana Indonesia jauh lebih memilki keseimbangan pandangan keharmonisan peradaban dan hak asasi manusia secara ril. Secara manusia pribadi bangsa Indonesia memiliki kemandirian yang tidak diragukan kehebatannya, sedangkan secara kelompok bangsa Indonesia bukan tipe kelompok manusia yang menampilkan kedigdayaannya. Kecuali kalau terpaksa harus diuji untuk itu. Telitilah “kemanjaan” bangsa lain dalam bernegara mereka, dan perhatikan cara mereka memandang masa depan. Apakah rasa kehawatiran yang mendominasi? Pakailah indikator penilaian psikologi-adil maka akan sangat jelas terlihat perbedaannya dimana rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan konfik namun harmonis, dan terbiasa materialis namun tetap dalam bingkai sharing “mangkubumi” bukan alih-alih untuk menguasai bangsa lain.
  12. Bangsa nusantara dulu yang mana hari ini diwarisi oleh rakyat Indonesia adalah bangsa yang merdeka. Ia berdinamika di internalnya saja dimana tidak akan “mengajak” bangsa lain untuk terlibat dalam pencarian jati dirinya. Hubungan dengan bangsa lain dilakukan dalam batas sharing kebijaksanaan bukan penguasaan atas sumber daya bangsa lain. Bangsa nusantara mewariskan peradaban hakiki yang mencontohkan sikap hidup yang dominan berorientasi kepada tingginya derajad kemanusiaan. Pemimpin di nusantara bukanlah tipe pemimpin yang mau “disembah” (perhatikan rakyat yang menyembah pemimpinnya itu bukan asli tipe kepribadian nusantara loh). Jangan paksa kita menyebutkan negara mana contohnya hari ini dimana rakyat tidak diperkenankan membicarakan politik negara dan haram kalau mau mengganti orang “istana” mereka. Di kita tidak semua itu.
  13. Para pemimpin Indonesia tahun 2019 adalah tipe kepemimpinan yang berkesinambungan dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Negri ini selalu akan menghasilkan pemimpin yang asli rakyat Indonesia, ala Indonesia. Sedikit saja melenceng dari itu semua maka perhatikan sikap yang akan diberikan rakyat Indonesia kepada pemimpinnya. Jangan paksa rakyat Indonesia “mengajari” rakyat negara lain karena itu akan menandakan kemunduran dunia. Artinya jika rakyat Indonesia mendiamkan berbagai peristiwa dunia hari ini itu dikarenakan masih dalam batas “toleransi kemanusiaan”.  Kecuali kalau sudah darurat maka rakyat Indonesia dimana tipe aslinya akan keluar sebagai pengayom untuk bangsa lain yang terkadang sangat mampu untuk “menawur” bangsa manapun. Ingatlah yang katanya 350 tahun bangsa ini dijajah tidak merontokan jiwa asli nusantara bangsa Indonesia hari ini. Dan perhatikanlah gaya “menjajah” bangsa Indonesia hari ini terhadap negara lain adakah bangsa lain itu merasa terjajah?. Pakem “menjajah” difikiranmu berbeda pakemnya dengan bangsa Indonesia. Nusantara “menjajah” dunia masa lalu menghasilkan kebebasan dunia hari ini dimana peran kelompok pro-materialisme merasa diatas. Orang yang merasa diatas pasti bukan diatas, begitu juga orang yang mengejar keatas pasti belum berada diatas. Berhati-hatilah karena sesungguhnya yang tidak terlihat mengejar apapun itulah puncak sesungguhnya.
  14. Memang ada sedikit penyesuaian (kekeliruan) pada bangsa Indonesia hari ini yakni terkait pelurusan tujuan berbangsa dan bernegara secara administratif belaka. Variabel penelitiannya harusnya bukan urusan materi tetapi urusan keadilan mendasar dimana urusan hak dan kewajiban yang kurang komitmennya. Masih ada rakyat yang menjadi pejabat yang salah langkah dengan membuat “pagar materi” (menumpuk harta kekayaan pribadi) supaya mampu berkuasa yang mana itu salah besar. Materi pada negri ini bukan hanya sekedar kekayaan alam yang melimpah tapi kekayaan karakter asli gotong-royong itulah sejatinya materi bangsa Indonesia yang pada dahulunya rakyat nusantara mampu menghasilkan Kapur Barus, Borobudur, Keris-keris Nuklir, Cengkeh dan Pala, Candi Padangan di Garut, serta peninggalan kemanusiaan lainnya yang masih menunggu untuk ditemukan oleh generasi mendatang.
  15. Bangsa Indonesia pernah lupa akan kedigdayaannya, bahkan sempat pernah takjub akan peradaban lain dibawahnya sehingga hal itu berasa sisanya sampai hari ini. Ini bukan cerita sejak tahun 1945 saja tetapi ini cerita telah dimulai tahun 1511 (abad ke 16) hingga terus sekarang. Padahal perhatikanlah sejarah bangsa Indonesia sejak abad ke 7 misalnya ada apa saja. Atau tarik lagi kebelakang sejak abad ke 3 misalnya di tanah Kutai ada apa saja (bacalah prasati Yupa dari Kutai). Atau perhatikan lagilah semacam situs peninggalan gunung Padangan di Garut itu rahasia apakah gerangan. Atau pelajari lagi lah apa itu atlantis/ sunda-land, paparan sahul – paparan sunda, Wayang Mahabharata, dan semisalnya. Pelan-pelan pelajari dan perhatikan!
  16. Ini bukan hanya sekedar cerita pemilu tahun 2019, sudah-sudahlah “menghina” ketidak-tahuanmu akan bangsa nusantara itu. Kan kita sepakat negri ini sangat berlimpah kekayaannya (kalau gak melimpah kekayaannya mana mungkin di “samperin” 350 tahun) bahkan hari ini lihat data pengerukan sumber daya alam, berapa trilyun KWD (Kuwait Dinar ; 1 KWD = 3 USD, 1 KWD = Rp 44.500,-)  yang intens dikeluarkan hasil dari bumi Indonesia, ada yang tau persis nilainya?
  17. Begitulah kutulis artikel ini sebagai godaan bagi para konsultan politik, mahasiswa Indonesia, politisi pemula (para caleg yang maju tahun 2019) serta anak bangsa yang membaca setiap point dari tulisan lepas hari ini.
  18. Segitu dulu, selamat melanjutkan aktifitas masing-masing. Selamat makan siang bagi yang melakukan.

Salam kompak NKRI  !!!

(DC)

Intip E-Book Survei #2 : SURVEI PEMILIH (PILKADA DAN PILEG)

Intip E-Book Survei #2 : SURVEI PEMILIH (PILKADA DAN PILEG)

Survey pemilih pada umumnya digunakan sebagai cara yang metodologis untuk memprediksi tingkat keterpilihan sesorang yang maju bertarung sebagai kontestan dalam suatu PEMILU (Pemilihan Umum) secara langsung. Dengan hasil survey kandidat diharapkan akan mampu memaham kondisi dirinya sendiri menurut sudut pandang masyarakat/ pemilih. Dengan survey ini diharapkan sang calon memiliki tambahan acuan/ panduan cara dalam menjalankan proses pemenangannya.

Survey pemilih disini dimaksudkan untuk memberikan gambaran faktual keadaan masyarakat/ pemilih didaerah dimana calonmu akan bertarung dalam pilkada 2018 maupun pileg tahun 2019 mendatang. Hal-hal yang berkembang di masyarakat dapat ditangkap informasinya dengan melakukan survey. Selain itu hasil survey juga dapat dijadikan sandaran untuk menentukan cara apa dan bagaimana mempengaruhi pemilih agar supaya orangmu menang dalam pertarungan pemilu langsung nantinya, begitu teman..

Yang dimaksud survei disini adalah penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Tujuan survei adalah untuk mengetahui keadaan atau informasi dasar masyarakat pemilih. Informasi dasar  itu antara lain persentase  suku, agama, latar belakang pendidikan, pekerjaan, penghasilan, opini, tingkat harapan, dan seterusnya.

Survei juga memberikan informasi tentang sosok tokoh yang berpeluang untuk mendapatkan dukungan signifikan jika seandainya diadakan pemilihan langsung.

Hasil survei dapat dijadikan landasan dasar oleh kandidat dan timsesnya yang dengannya strategi pemenangan dapat dirumuskan secara efektif dan efisien.

Hasil survei itu akan memberikan informasi sebagai berikut ;

Pertama, hasil survei akan menggambarkan tingkat popularitas setiap calon yang akan berkompetisi di wilayah tersebut. Dengan informasi popularitas ini akan mampu ditarik kesimpulan apakah calonmu sudah terkenal/ popular apa belum, dan berapa persen orang yang mengenalnya serta berapa persen orang belum mengenalnya. Ingat merasa PD (Percaya Diri) saja tidak cukup bahwa seakan sudah terkenal. Karena kenal yang dimaksud disini adalah bahwa ketika nama “seorang calon”  disebutkan kepada setiap orang/ pemilih maka mereka menjawab “ya kenal”. Selain itu kenal disini juga adalah bahwa nama calon itu sudah tertancap didalam benak setiap pemilih sebagai orang yang mereka kenal baik, mereka sangat kenal dengan wajah calonmu sekalipun calon tersebut tidak memiliki hubungan secara pribadi dengan mereka. Dalam ingatan mereka (pemilih) bahwa calonmu itu baik dan disukai oleh mereka sebagai pemilih.

Jika calonmu belum terkenal atau belum populer menurut hasil survei maka sebaiknya dirimu bergegas untuk segera membuat program pencitraan dan program sosialisasi yang lebih maksimal  lagi. Mumpung masih cukup banyak waktu sebelum hari H pemilihan.

Kedua, hasil survei dapat menggambarkan tentang keadaan kekinian masyarakat/ pemilih. Masalah utama yang dirasakan oleh sebagian besar orang dapat anda ketahui, sehingga dengan mengetahui masalah utama yang dirasakan masyarakat dapat anda jadikan sebagai bahan kampanye. Mungkin saja misalnya masalah utama sebagian masyarakat adalah sulitnya air bersih, kesulitan listrik, keadaan pencemaran lingkungan, gangguan keamanan, masalah lapangan pekerjaan, kesulitan sarana transportasi, tentang kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Kejelianmu untuk menangkap masalah utama tersebut kemudian  dijadikan bahan kampanye calonmu bahwa calonmu akan mampu menyelesaikan masalah tersebut kalau terpilih nantinya. Terkadang masalah utama sesungguhnya yang dirasakan oleh masyarakat pemilih belum tentu menjadi skor penilaian yang paling tinggi angkanya yang ada dalam hasil surveimu. Lagi – lagi dibutuhkan kecanggihan kandidat maupun timses lah untuk mampu mengelompokan masalah utama masyarakat setempat sehingga dapat dijadikan bahan visi dan misi sang calon maupun sebagai bahan penguasaan ketika sosialisasi.

Ketiga, hasil survey akan berimbas kepada ketajaman analisamu teman, terhadap competitor/ pesaing utama calonmu (pilkada dan pileg). Pada kasus pileg biasanya dalam satu DAPIL (Daerah Pemilihan) paling hanya beberapa partai atau orang yang akan terpilih dan menang (hal ini tergantung dari kuota kursi parlemen yang di plotkan di daerahmu). Dengan hasil survey tiba-tiba saja dirimu mampu mengukur kekuatan dan kelemahan pesaingmu dalam pemilu itu. Atau yang paling mungkin juga dirimu akan mampu mengidentifikasi faktor apa saja yang membuat kontestan lain menjadi kuat menurut analisismu. Jelasnya, dengan hasil survei kekuatan “musuhmu” dapat dengan mudah terbaca olehmu.

Keempat, hasil survey akan memberikan informasi faktual yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya. Artinya kandidatmu tidak akan pernah terbuai dengan laporan timsesnya yang selalu mengatakan “kita pada posisi aman ndan”. Tetapi ingat lah ya bahwa bukan berarti dirimu harus berprasangka buruk tehadap laporan tim seperti itu.

Kelima, hasil survei akan membuat langkah pemenanganmu atau calonmu menjadi terarah, jelas, efektif, dan terukur pembiayanya serta tidak asal-asalan meniru gaya kampanye orang lain. Karena factor pembeda itu sangat penting dalam mempengaruhi orang lain, tetapi tidak hanya asal beda tentunya (factor diferensiasi).

Keenam, dengan melakukan survey sendiri maka dirimu akan memegang sendiri data-data valid terkait eksistensimu dalam suatu pilkada atau pileg. Bahkan dirimu akan mengetahui secara jelas siapa tokoh paling didengar omongannya oleh masyarakat dilingkungan  tertentu, organisasi apa yang paling memilki pengaruh terhadap pilihan masyarakat pemilih, dan seterusnya. Semua informasi ini akan menjadi bekalmu dalam menjalankan proses pemenangan untukmu maupun untuk temanmu atau kenalanmu.

BACA JUGA: Panduan Mudah Survei Sendiri: Untuk Timses Pilkada Bupati, Walikota, Gubernur dan Pemilu Legislatif 2019

(DC)

Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Indonesiaku indonesiamu dan Indonesia kita bersama. Hari ini negri yang kita cintai ini sudah sampai tahap modernisasi disemua sisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Waktu kedepan menjelang pelaksanaan rekruitmen kepemimpinan diberbagai tingkatan yakni kabupaten, kota, dan provinsi yang mana pemilu akan dilaksanakan serentak tahun depan tahun 2018, bahkan dilanjutkan lagi tahun berikutnya yaitu tahun 2019 untuk pemilu legislative dan pemilihan presiden. Pemilu sendiri nyaris tidak dapat mencueki era modernisasi itu. Proses digitalisasi yang erat berkaitan dengan era internet dimana semua orang nampak seperti terhubung setiap saat, sehingga informasi sangat mudah didapat. Bahkan informasi yang begitu mudah didapat ini dapat dengan mudah juga mengubah perilaku kehidupan termasuk dalam kehidupan berpolitik.

Suasana perpolitikan saat ini sangat memperhatikan informasi yang berkembang diberbagai media termasuk media sosial (medsos). Berbagai opini baik yang serius maupun ngelantur termasuk hoax bahkan selalu bertebaran setiap saat setiap waktu all time selama 24 jam nonstop sepanjang minggu, bulan, bahkan sepanjang tahun. Ada ketelitian dalam memilih dan memilah informasi yang diperoleh, apalagi dalam peristiwa politik semacam pilkada. Beruntungnya setiap event pilkada selalu ada ilmu yang ilmiah yang dapat menjadi patokan sehingga informasi tersebut dapat dipegang bahkan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan. Itulah yang dimaksud survei dalam pilkada.

Berbagai rilis hasil survey telah dilakukan oleh berbagai pihak. Hasil survey selalu ditunggu – tunggu kehadirannya. Lembaga survey yang credible akan dapat meyakinkan public, dimana hasil surveinya akan dijadikan panutan. Plus minus dalam merilis hasil survey tentu dinamis. Masyarakat pemilih akan lebih bijak dalam menentukan pilihannya terhadap kandidat yang bertarung berdasar hasil survey dan berdasarkan issue yang berkembang tentunya.

Mungkin banyak sekali orang yang kepingin mengetahui apa itu survei dalam pemilu langsung berupa pilkada serentak tahun 2018 ini. Hasil survei yang dirilis akan ditunggu-tunggu kehadirannya. Aku akan memaparkannya dengan detail untuk mu, teman. Prediksi siapa yang bakal memenangkan pertarungan akan ramai dibicarakan dalam berbagai setiap kesempatan biasanya baik itu di media massa medsos maupun sekedar dalam berbagai forum diskusi warung kopi atau bahkan kelas warung kopi resto mungkin.

Daerahmu akan pilkada juga kah teman?

Atau ada temanmu nyalon, ah atau mungkin timses nih?

Berbagai kalangan terkesan mampu membicarakan survei ataupun hanya sekedar mengomentari setiap hasil survei yang dirilis itu tanpa menyadari bagaimana sesungguhnya proses sehingga menghasilkan data – data ataupun informasi yang mengatakan calon A berpotensi besar akan menang dan mampu mengalahkan calon B atau calon C adalah menjadi pesaing terberatnya.

Tetapi pihak yang mampu melaksanakan survei dalam pilkada hanya segelintir dapat dihitung jari jemari belaka. Ada lembaga survei semata, ada juga konsultan pilkada yang mengkhususkan dirinya mendampingi calon dalam pilkada namun sekaligus mampu melaksanakan survei juga.

Tetapi sangat jarang partai politik mau memiliki lembaga survei sendiri yang dapat dijadikan rujukan pengambilan keputusan, biasanya survei diserahkan kepada  pihak konsultan. Juga, tidak semua akademisi mampu melaksanakan survei ilmiah ini. Kemudian ditambah banyaknya kontestan dalam pemilu langsung seperti saat ini yang tidak bisa melaksanakan survei secara mandiri. Padahal melaksanakan survei itu gak sulit-sulit banget kok.

Dalam tulisan ini dirimu akan menemukan penjelasan yang sangat gamblang bagaimana survei dalam proses pemilu itu dilaksanakan. Gak perlu punya sekolah harus lulusan luar negri untuk mengerti dan mampu melaksanakan survei sendiri. Kamu alumni dari kampus di Indonesia pun sudah cukup kok jadi bekal untuk mengerti survei. Proses survei dari awal hingga akhir akan kubahas untukmu.

Kenapa hasil survei cenderung ramai dibicarakan dalam setiap pilkada misalnya, itu membuktikan masyarakat pemilih dari berbagai latar belakang merasa tertarik dan terbantu atas informasi dari hasil survei yang dirilis. Hasil survei sangat dipercaya, karena dianggap ilmiah dan faktanya juga hasil survei adalah satu-satunya cara dalam memprediksi hasil pilkada atau pileg misalnya maupun pilpres sekalipun. Meskipun, ada juga dari kejauhan sayup – sayup terdengar ada yang memprediksi pilkada menggunakan sumber informasi dari dukun atau orang pintar.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai alat jika ingin melakukan survei sendiri, dengan aku berupaya maksimal menjelaskan kepadamu secara cepat, mudah, dan lengkap.

Survei sendiri itu penting bagi setiap calon dalam pilkada 2018 maupun bagi calon caleg tahun 2019 nanti. Survei akan membimbingmu teman. Survei akan menuntunmu dalam menjalankan proses kampanye untuk meraih suara pemilih yang dikehendaki. Survei akan meberikanmu peta kekuatanmu maupun lawanmu. Survei akan menyajikan informasi akurat Dikecamatan mana calon kuat, di wilayah mana calon lemah posisinya.

Hasil survei akan banyak memberikan gambaran tentang segmen pemilih. Misalnya, calon A didukung kuat oleh  pemilih yang berusia muda. Calon B didukung kuat oleh kelompok kalangan tua.

Hasil survei juga akan menunjukan kepadamu tentang berbagai hal, seperti kecenderungan ke calon mana dukungan pemilih dari segmen tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan pekerjaan, gender, suku, agama, dan sebagainya.

Untukmu teman aku akan mencontohkannya seperti yang sering kulakukan selama ini, caranya akan kujelaskan secara rinci nanti.

Secara ringkas tahapan melakukan survei untuk pilkada maupun pileg itu dapat diurutkan seperti sistematika berikut ini ;

  1. Persiapkan data awal diwilayah mana survei akan dilakukan. Data awal ini berupa jumlah penduduk disetiap desa maupun kelurahan. Biasanya data ini ada di BPS (Badan Pusat Statistik).
  2. Tentukan jumlah sampel. Surveiku jumlah sampelnya paling sedikit itu 220 responden dan paling banyak maksimal 1.500an responden.
  3. Buatlah daftar pertanyaan (kuisioner).
  4. Lengkapilah instrumen surveimu.
  5. Rekrutlah petugas wawancara dan lakukan pembekalan/ pelatihan (workshop).
  6. Proses wawancara lapangan.
  7. Lakukan pendampingan lapangan (withness).
  8. Lakukan crosscheck hasil wawancara lapangan.
  9. Pengumpulan kuisioner hasil wawancara lapangan.
  10. Entry data dan penyajian data hasil survei.

Selanjutnya teman, kita akan masuk ke tahap penjelasan secara rinci terhadap 10 item diatas disetiap lembaran manuskrip yang khusus ini secara lembar demi lembar, bacalah secara teliti yaa karena kamu kan mau menjadi peneliti.

Jika kamu tuntas membaca ebook ini teman, maka kamu tidak awam lagi dan sudah termasuk menjadi bagian dari peneliti dalam orbit cakrawala survei pemilu yang sedang terjadi saat ini dinegri yang kita cintai ini, Indonesia kita bersama.

BACA JUGA: Panduan Mudah Survei Sendiri: Untuk Timses Pilkada Bupati, Walikota, Gubernur dan Pemilu Legislatif 2019

(DC)

 

…………………………………. Bersemangatlah, peragu mudah jadi pecundang …………………………………………