PILKADA SERENTAK 2020 (1) : TOKOH YANG PALING BERPELUANG DALAM PILKADA

PILKADA SERENTAK 2020 (1) : TOKOH YANG PALING BERPELUANG DALAM PILKADA

Tentu ada perbedaan suasana pelaksanaan pilkada tahun lalu dibanding pilkada serentak yang akan datang. Perbedaannya termasuk pola strategi pemenangan yang dijalankan. Suasana dan strategi ini sangat perlu untuk dipertimbangkan oleh setiap pihak yang berkepentingan dalam pilkada tahun depan.

Artikel singkat berikut ini dimaksudkan sebagai upaya sharing hasil pengamatan terkait langkah – langkah awal dalam upaya menjalankan pemenangan. Artikel ini akan berlanjut terus ditampilkan secara bersambung hingga hari pelaksanaan pemungutan suara nanti.

Sebagaimana perubahan yang sangat pesat dalam perubahan sosial terutama dalam hal cepatnya arus komunikasi dalam media sosial sehingga sangat berpengaruh juga terhadap upaya kontestan dalam menjangkau masyarakat pemilih di setiap daerah (Kabupaten/Kota ataupun Provinsi) yang akan melaksanakan pilkada. 

BACA JUGA : Daftar Daerah Peserta Pilkada Serentak 2020

Berikut beberapa poin yang mungkin dapat “dijadikan rabaan” terhadap peluang/potensi bagi tokoh ataupun tim-nya yang mau terlibat  dalam ajang kontestasi Pilkada Tahun 2020 mendatang.

POIN 1 : Tokoh Petahana (Incumbent)

Tokoh yang paling mudah untuk terlibat dalam pilkada mendatang menurut kami adalah petahana (incumbent) di wilayah tersebut. Alasan utamanya yakni dikarenakan telah memiliki tingkat ke-dikenal-an (popularitas) yang sudah tinggi dibandingkan tokoh lainnya. Selain itu calon dari petahana juga telah “sedang berada selalu” dalam kancah sosialisasi terhadap masyarakat pemilih di wilayahnya.

Tetapi calon petahana bukan berarti tidak memiliki kelemahan, sebagai contoh kelemahannya adalah jika selama dia memimpin terjadi rasa kurang puasnya masyarakat terhadap kebijakannya selama ini. Hal ini bisa diurai dan dibaca melalui pengamatan yang mendalam (kajian ilmiah).

Calon petahana yang akan didukung kembali oleh masyarakat pemilih adalah petahana yang cerdas dalam menyesuaikan kebijakannya terhadap keinginan/ harapan masyarakat saat ini. Itulah modal bagi calon dari petahana yang tidak dimiliki oleh calon yang dari non petahana.

POIN 2 : Tokoh Yang Paling Berpeluang Menantang Calon Petahana

Tokoh yang paling berpeluang dalam menantang calon dari petahana adalah tokoh yang lebih mampu menawarkan program visioner dan logis yang selama ini belum terlaksana dengan maksimal oleh petahana. Tokoh ini biasanya lahir dari kelanjutan tokoh masa lalu yang berpengaruh besar di wilayah tersebut yang telah memiliki ikatan emosional yang sangat kuat terhadap masyarakat luas dalam suatu Kabupaten/ Kota.

Tokoh semacam ini  muncul kembali dengan berbagai pembaharuan/ penyesuaian masa kini sehingga dapat dengan mudah diterima kembali oleh masyarakat setempat. Banyak orang bilang bahwa tokoh semacam ini ada trah dari masa lalunya yang masih terasa pengaruhnya hingga kini.

Tetapi sekali lagi tokoh seperti ini tidak mudah untuk dicari dan dihadirkan kembali, tetap diperlukan kerja keras dan keseriusan dalam upaya meyakinkan masyarakat pemilih. Kita sebut saja tokoh semacam inilah yang paling mampu menghadapi calon yang berasal dari calon petahana.

POIN 3 : Bagaimana Jika Tidak Ada Calon Petahana?

Bagaimana jika dalam suatu wilayah yang dimana calon dari petahana tidak ada? Bagaimana peluang setiap tokoh yang ada? Untuk menjawab ini kami punya pandangan bahwa sebaiknya dilakukan pengamatan yang komprehensif atau penelitian yang lebih detail untuk membaca peluang dan potensi tokoh yang berasal dari berbagai kalangan yang ada.

Perlu di ingat bahwa dalam kontestasi Pilkada dimana calon petahana tidak ada maka bukan berarti pengaruh pemimpin sebelumnya tidak ada. Dia masih memiliki infrastruktur dalam mendukung calon tertentu. Dan terkadang dukungan pemimpin sebelumnya (Bupati, Walikota, dan Gubernur) cukup perlu untuk dihitung dan di peta-kan kekuatannya. Sikap politis dari tokoh yang maju untuk mencalonkan diri terhadap pemimpin sebelumnya wajib menjaga “hubungan baiknya”. Perlu menampilkan citra “rasa hormat” kepada setiap tokoh yang ada. Menjaga ikatan yang wajar tanpa terkesan meninggalkan atau ketergantungan. Sikap meninggalkan juga itu tidak baik sama jeleknya kalau bersikap arogan terhadap kepemimpinan masa lalu. Bahkan kesan ketergantungan terhadap pemimpin masa lalu juga perlu dikurangi pengaruhnya. Perlu pencitraan dengan kesan kemandirian yang matang sehingga memunculkan image lebih positif yang dapat diterima oleh kalangan luas (masyarakat umum).

POIN 4 : Peluang Tokoh Yang Pernah Gagal Dalam Kontestasi Pemilu

Tokoh – tokoh yang dianggap berpeluang dalam kontestasi pilkada tahun 2020 mendatang perlu sangat banyak informasi terkait potensi dirinya. Perlu informasi popularitas dirinya, kesukaan (afeksi/ akseptabilitas) masyarakat pemilih terhadap dirinya. Diperlukan informasi awal yang lebih jujur terhadap segala kemungkinan tentang dirinya menurut preferensi masyarakat pemilih di wilayahnya.

Tokoh yang pernah gagal dalam kontestasi pemilu perlu berpikir ulang untuk maju. Harus ada ketertarikan yang lebih rasional yang muncul secara alamiah berasal dari masyarakat pemilih, bukan upaya dipaksakan untuk diterima oleh masyarakat pemilih. Percaya diri boleh tapi tanpa mengesampingkan rasionalitas politis terkini.  Jenis tokoh seperti ini jika maju dalam pilkada diperlukan langkah-langkah khusus yang lebih pro-aktif jika dibanding tokoh jenis lainnya.

POIN 5 : Tokoh Pemuda / Tokoh Berjiwa Muda

Point terakhir menurut kami terhadap urusan tokoh paling berpeluang dalam pilkada kali ini adalah sosok muda atau sosok tokoh yang berjiwa muda, berintegritas, kamandirian, masih segar, luas wawasannya, ahli berkomunikasi, lugas dan santun sikapnya, menampilkan kegigihan dalam bingkai visioner yang dibalut dengan sikap rendah hati dan mampu bekerjasama. Mau mendengarkan masukan dari seniornya tanpa menelan mentah – mentah setiap usulan. Tokoh muda seperti ini bagaikan tren kekinian dalam ajang pilkada. Tokoh muda inilah sesungguhnya yang harus tampil dalam kontestasi Pilkada Tahun 2020 mendatang. Karena, jika dalam ajang pilkada di suatu daerah ada sosok pemuda yang tampil maka “kesegaran” berpolitik akan terjadi, semangat dan harapan kepemimpinan masa depan menjadi meningkat sehingga estafet kepemimpinan dapat terjadi secara utuh dan selanjutnya impian peradaban dapat selalu terjaga. Pemimpin yang muda adalah harapan bagi generasi mendatang. Pemuda memiliki kelincahan dan kreatifitas (pakem pemikiran) yang masih terbuka lebar. Kelemahan yang sering terdapat pada tokoh muda biasanya adalah arogansi dan kepercayaan diri yang berlebih. Hindari itu.

Demikian tulisan singkat ini kami ketengahkan, akan disambung secara kontinyu seiring perkembangan mutakhir yang terjadi saat ini. Semoga bermanfaat.

Penulis : Doni Candra, S.IP
Editor : Nizar Mahroussy H.E, S.Kom