PILKADA SERENTAK 2020 : THE MIRACLE OF KUTAI, IBUKOTA PENGGANTI JAKARTA?

PILKADA SERENTAK 2020 : THE MIRACLE OF KUTAI, IBUKOTA PENGGANTI JAKARTA?

Dia adalah kelimpahan pemberian alam. Bertebarannya emas dan intan permata. Dipenuhinya simbol – simbol kekayaan yang glamour, mahkota emas yang ditaburi berlian dan permata berharga yang didapatkan dengan cara – cara “kemandirian kebangsaan” dibalut dengan kesadaran akan kerjasama, kesadaran akan saling menghargai. Dia adalah harta kekayaan yang mempersiapkan dirinya untuk dimanfaatkan demi sebesar-besarnya kepentingan kehidupan bangsa Indonesia saat ini.

Ditandai alam juga dengan banyaknya keberagaman hayati (ratusan jenis hewan dan tumbuhan), dataran tinggi dan rendah yaitu perbukitan dan lembah-lembah yang sangat subur. Sangat menjanjikan akan kelimpahan – kemakmuran bagi kehidupan masyarakat. Kesejahteraan akan menjadi bukan isu hayalan tapi kenyataan. Dalam perut buminya menyimpan cadangan sumber daya yang tidak sedikit ; ada minyak bumi dan gas, batubara, emas, pegunungan karst, melimpahnya mata air dan sumber daya perairan, garis alami transportasi, dan masih banyak mineral lainnya yang akan sanggup melayani kehidupan peradaban manusia hingga ribuan tahun kedepan.

Dia turut mencontohkan perkenalan di dunia internasional bahwa dia memiliki hubungan yang luas di dunia eropa. Saling kenal dengan para Raja dan Ratu Inggris. Saling kenal dengan para Ratu Belanda.

Mampu menjalin komunikasi  dengan para bani – emir di negri – negri Arab. Saling berhubungan dengan para raja raja Tiongkok, juga saling kenal dengan para penguasa Utsmaniyah.

Hubungannya sangat erat dengan Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga bersambung sampai ke Mataram. Selain itu dia juga akrab dengan Wajo dan negri bugis – Makassar di pulau Sulawesi, kepulauan Maluku hingga Nusatenggara. Dia juga mengenal Sriwijaya dan Samudera Pasai di pulau Sumatera.

Dia memiliki “saudara dekatnya” yaitu negeri – negri Banjar di Kalimantan Selatan, Melayu di Kalimantan Barat, Melayu di Malaka dan Brunei. Ditambah sangat dekat juga kepada kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur di Berau, Paser Balengkong di Pasir. Dan paling dekat wilayah dengan kesehariannya ada di Sendawar (Kabupaten Kutai Barat saat ini).    

Dia sangat menjanjikan kekayaan demi kemandirian kemanusiaan, harga diri, kecerdasan, keadilan, dan perdamaian dunia. Dia asli dari bangsa Indonesia.

Dimulai sekitar tahun 300-an masehi (abad 4 masehi) masyhur diketahui diseputar wilayah Muara Kaman (pedalaman sungai Mahakam) ada peradaban – sosial yang tumbuh berkembang secara mandiri dan merdeka. Masyarakatnya menjalani hidup dengan penuh kemakmuran dan kesadaran yang tinggi akan pentingnya melaksanakan kehidupan secara saling bekerjasama dan saling menghormati.

Kelanggengan wilayah Kutai ini yang kehidupannya dibangun sejak awal dari wilayah baru (alas) hingga mampu menciptakan peradaban dengan kemampuan membuktikan tingginya kemanusiaan, hal itu membuktikan kemampuan, ketelatenan, kejelian, kesadaran, dan kecerdasan yang dimiliki masyarakat kutai sejak awal tersebut.

Dari abad ke 4 hingga terus sampai abad ke 12, dengan rentang 800 tahun ini adalah masa awal kejayaan peradaban ditanah kutai. Dimana rentang waktu yang sangat panjang itu adalah suatu bukti konsistensi yang sangat kuat mencerminkan eksistensi kehidupan yang sangat manusiawi. Dan pasti memiliki pola dinamikanya yang khas dan dialektika yang mampu tanding yang dapat digali secara lebih detail di masa sekarang.

Catatan selanjutnya bertambah kemudian pada akhir abad ke 12 dimana ada pertumbuhan masyarakat baru dalam suatu wilayah relatif berdekatan masih di Kutai, yakni adanya kehadiran peradaban – sosisal yang juga dibangun berdasarkan rasa kemandirian, kebebasan, kesadaran, kejelian, dan tanggung jawab yang sangat tinggi terhadap nilai – nilai kemanusiaan. Wilayah atau tempat ini sekarang dikenal dengan desa Kutai Lama – Kecamatan Anggana  (seputar muara sungai Mahakam).

Kemudian secara singkat kedua “kutai” ini melebur menjadi satu dengan berpindahnya pusat “bernegara” di wilayah desa Jembayan (sungai Jembayan) kecamatan Loa Kulu (sekarang).

Kenyataan bersatunya kedua “negara berdekatan” ini mencerminkan akan kesadaran untuk meningkatkan rasa saling kerjasama dalam bingkai peradaban kemanusiaan yang sangat sesuai dengan perkembangan jaman.

Dinamikanya pasti ada, sehingga untuk mempertegas akan persatuan wilayah yang sudah layak disebut negara modern tersebut ibukota negara “kutai bersatu” dipilihlah wilayah baru yang saat ini dikenal sebagai Tenggarong.

Dari Kotaraja Tenggarong inilah melanjutkan turut sertanya “kutai” berpartisipasi dalam membangun eksistensi peradaban kemanusiaan dengan menggabungkan diri kedalam pangkuan ibu pertiwi yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Peradaban Kutai di aliran sungai Mahakam” ini dimana seakan memberi inspirasi yang kuat akan potensi perkembangan kehidupan kemanusiaan sejak era Kutai awal di Muara Kaman. Bentang wilayahnya  yang luas ditambah dengan ketersediaan alam yang sangat lengkap untuk memenuhi hajat kehidupan manusianya.

Keadaan alam “kutai” ini yang sampai hari ini masih sangat mampu untuk menunjang berbagai kelangsungan peradaban selanjutnya, sehingga untuk Indonesia pun maka sangat memungkinkan kiranya ibukota baru berada di wilayah Kutai.

Peradaban Kutai telah menorehkan keteladaan kebangsaan yang kuat, menjaga kehormatan kemanusiaan, mandiri, arif dan bijaksana. Mendorong  kesejahteraan masyarakat, menciptakan keamanan dan ketentraman, menegakan keadilan sosial. Sehingga dengan dasar – dasar itu semua kelanggengan kutai berlangsung hingga 1700-an tahun lamanya. 

Singkatnya bolehlah kita sama-sama mengenali secara mendalam dari 4 (empat) titik awal peradaban kemanusiaan yang sudah terbukti selama 1700-an terakhir (17 abad), yaitu pertama titik Muara Kaman, titik kedua di Kutai Lama, titik ketiga di Jembayan, dan titik ke empat di Tenggarong. Keempat titik ini berada dalam pangkuan Kabupaten Kutai Kartanegara – Propinsi Kalimantan Timur.

Selamat datang di “bumi kutai”. Selamat berkunjung ke Muara Kaman, Kutai Lama, Jembayan, dan dilanjutkan berwisata ke Kotaraja Tenggarong. Pandanglah dengan sikap kearifan, kemanusiaan, dan kesadaran akan estafet generasi. Nikmatilah Kutai dengan rasa syukur dan sikap hormat kepada para pembentuknya karena generasi sekarang dan mendatang adalah pembuktian penugasan kemanusiaan selanjutnya, ambil hikmah yang terkandung di dalamnya demi kesejahteraan yang meluas sehingga keadilan sosial dapat terwujud secara lebih baik lagi.

Salam kompak NKRI, salam persatuan abadi. 

Penulis: Doni Candra, S.IP
Editor: Nizar Mahroussy H.E, S.Kom