RAHASIA PEMENANG PILPRES 2019 ; DITENTUKAN DI KALIMANTAN TIMUR

RAHASIA PEMENANG PILPRES 2019 ; DITENTUKAN DI KALIMANTAN TIMUR

Sebelum melanjutkan membaca ulasan berikut ini ayo monggo tarik nafas dulu baik-baik supaya lancar membacanya. Kalau perlu siapkan segelas kopi panas yang baru diseduh air mendidih 100 derajat Celsius agar lebih mantep atine. Hehehe

Kalau memperhatikan pembagian jumlah pemilih Indonesia saat ini dapat kita bagi kedalam 5 (lima) group provinsi  yang ada di Indonesia kini, yaitu ;

  1. Pulau Sumatera                                 : 20,30%
  2. Pulau Jawa                                         : 58,14%
  3. Nusa Kecil (Bali, NTB, NTT)          : 5,33%
  4. Pulau Kalimantan                             : 5,84%
  5. Pulau Sulawesi, Maluku, & Papua : 10,39%

Nah, berikut utak-atik petunjuknya sebagai bahan wawasan masing-masing pembaca. (kami sadar bahwa  website kesayangan kita ini www.vote-indonesia.com lama sekali belum upload artikelnya dikarenakan urusan teknis. Hahaha).

Analisis cocoklogi dimulai (sekali lagi ambil nafas dulu… hehehe)

  1. Pertarungan pilpres 2019 di pulau Sumatera akan dimenangkan tipis oleh pasangan nomor urut 2 (dua). Kemungkinannya begitu kalau kita liat semangat pendukung pilpresnya dan dari hasil kalkulasi kami dari berbagai media online.
  2. Sedangkan di pulau jawa akan dimenangkan oleh pasangan nomor urut 1 (satu) namun kemenangannya dibawah 2% saja kira-kira yaa. Memang ini wilayah padat pertarungan mengingat wilayah ini lebih separuh jumlah pemilih nasional. Logikanya menang telak akan sulit dicapai karena kedua pasangan yang ada sama – sama berupaya maksimal melakukan upaya pemenangan.
  3. Kemudian pertarungan pilpres di wilayah Nusa Kecil (liat data point 3) tetap akan dimenangkan oleh pasangan nomor urut 1 (satu) tapi ya tetap tipis kemenangannya. Ini dapat ditarik kesimpulan dari sejarah pemilu sebelumnya dimana partai pendukung incumbent cukup telak menang di beberapa wilayah di Nusa Kecil ini. Sehingga asumsinya pasangan nomor urut 1 bakal mampu mendapatkan dukungan mayoritas.
  4. Sementara itu di pulau Kalimantan ada suatu wilayah yang akan sangat menentukan kemenangan bagi para capres tersebut, yakni provinsi Kalimantan Timur. Kok bisa sih? Yaa mungkin aja kan.. kepo, hahahaha.
  5. Di wilayah group provinsi kategori ke lima ini sangat dimungkinkan pasangan nomor urut 1 yang menang atau bisa jadi nomor urut 2 yang menang (fluktuasi suara di wilayah ini sangat tinggi, sehingga kita menunggu hari H saja untuk mengkalkulasikannya).
  6. Jadi skornya adalah sebagai berikut ;
  7. Pulau Sumatera : 20,30%  pasangan nomor 2 menang lumayan.
  8. Pulau Jawa : 58,14%  pasangan nomor 1 menang tipis.
  9. Nusa Kecil (Bali, NTB, NTT) : 5,33%    pasangan nomor 1 menang lumayan.
  10. Pulau Kalimantan : 5,84%    wilayah penentu kemenangan.
  11. Pulau Sulawesi, Maluku, & Papua : 10,39%    setiap pasangan masih mungkin menang.

Memang saat ini untuk menemukan prediksi yang dapat dipercaya itu sulit sekali. Rilis berbagai lembaga survei juga bersifat sementara saja bukan untuk meprediksi hasil sesungguhnya nanti 17 April 2019. Untuk memenuhi opsi bacaan lain dari prediksi analisis lah tulisan ini kami buat.

Sebagai tambahan akhir tulisan ini, kusambungkan sedikit kenapa penentu kemenangan pilpres 2019 ada di Kaltim yakni sebagai peran aktif atau bukan sekedar partisipasi pemilu saja bagi di tingkat nasional. Analisis kita boleh berbeda kok, silahkan berkomentar pada kolom yang telah disiapkan oleh website ini.

Kalimantan Timur itu ya ada di situ Kutai kan. Nah, dari peran Kutai sejak lama itulah mengapa kami melihat adanya ketersambungan pemenang pilpres 2019 yang akan datang. Boleh dari mana saja melihatnya, bukan berarti data kecil maka pasrti pengaruh juga kecil, begitu sebaliknya.

Coba perhatikan dari semangat setiap pendukung pasangan capres saat ini, pendukung pasangan capres mana yang paling logis?

Pendukung pasangan mana yang paling meluas aksinya?

Pendukung pasangan mana yang paling mungkin mayoritas millennial?

Pendukung pasangan mana yang paling menyentuh perasaan masyarakat pemilih?

Carilah jawaban-jawaban itu secara serius, tanyakan kepada kedua orang tuamu yang sudah sejak lama tidak ikut aktif berpolitik lagi.

Tanyakan juga kepada orang-orang yang kalian anggap sebagai orang tua kalian dimana biasanya nasehat bijaknya untuk dituruti.

Kalau sudah menemukan jawabannya maka tiba-tiba akan semakin jelas dan bertambah kemampuan analisi politik bagi setiap diri kita.

Sekian.

Salam kompak NKRI, semangat tetap membaikan, merdeka !!!

(DC)

PILEG 2019 #17: PENGARUH POTENSI ELEKTABILITAS  PEN-CALEG-AN TERHADAP PILPRES

PILEG 2019 #17: PENGARUH POTENSI ELEKTABILITAS PEN-CALEG-AN TERHADAP PILPRES

Masih ingat tentunya terhadap pentingnya popularitas bagi seorang caleg yang maju tahun 2019 yang akan datang. Berikut opini kuterangkan kepadamu terkait kedua variable hubungan tersebut antara caleg terhadap pilpres.

  1. Dimana dirimu kini berada dalam partai apa dan partaimu mendukung capres-cawapres yang mana, kemudian perhatikan dengan seksama hubungan yang dapat terjadi diantara keduanya apakah akan menguntungkan popularitasmu sebagai caleg. Karena pemilih di dapil sangat mungkin merespon kuat keterhubungan ini atau tidak menghubungkan sama sekali.
  2. Setiap dapil bisa saja respon masyarakat pemilih akan mengaitkan pilihan caleg berbanding seiring dengan pilihan capres-cawapres. Atau sebaliknya, pilihan caleg dapat berbeda dengan pilihan capres-cawapresnya. Pahamiilah peta alur/ perilaku pemilih dalam dapilmu masing-masing, kusarankan ikuti saja maunya suara mayoritas masyarakat pemilih dalam dapilmu karena kepentinganmu sebagai caleg lebih berarti bagimu agar supaya dapat menang.
  3. Bisa saja pilihan masyarakat pemilih menjagokan capres-cawapres tertentu yang berbeda dengan capres-cawapres yang di dukung partaimu. Sementara dirimu sebagai caleg tetap membutuhkan dukungan pemilih yang berbeda dengan dukungan terhadap capres-cawapres partaimu itu.
  4. Sebagai caleg yang maju di musim pemilu yang cukup rumit kali ini (5 kertas suara untuk setiap 1 pemilih di TPS nanti) maka menurutku cukup menguras energi dan kesibukan pikiran masyarakat pemilih dalam dapilmu. Maka dari itu siapkan stok ketelitian dan stok kesabaran yang banyak dalam melakukan komunikasi terhadap masyarakat pemilih di dapilmu. Perhatikanlah prioritas utamamu sebagai caleg menang dalam menghadapi masyarakat pemilih di dapilmu. Kalkulasikanlah dengan seakurat mungkin jika dirimu sebagai caleg menang berkeinginan mengaitkannya dengan pilihan capres-cawapres yang didukung partaimu terhadap capres-cawapres yang didukung oleh masyarakat pemilih dalam dapilmu.
  5. Menurutku masyarakat pemilih saat ini sudah sangat cerdas sehingga mengarahkan pilihan mereka dibutuhkan cara – cara yang tidak boleh sembarangan berdasarkan semangat/ psikologi emosi semata. Detailing memahami perilaku masyarakat pemilih dalam dapilmu sangat dibutuhkan bagi caleg yang mau menang terpilih.
  6. Saat ini kedua paslon (capres-cawapres) didukung oleh koalisi partai. Sementara dirimu sebagai caleg menang perlu mempertahankan kemenanganmu terlebih dahulu sebelum berusaha memenangkan capres-cawapres yang didukung partaimu.
  7. Ingatlah parliament-treshold yang 4% itu nanti akan cukup sulit seiring-seirama jika diterapkan terhadap kepentingan antara pileg dan pilpres, kecuali khusus bagi partai PDIP dan GERINDRA. Para caleg yang berasal dari PDIP maupun GERINDRA akan terhubung langsung yang sangat kuat antara kepentingan pileg dengan pilpresnya.
  8. Bagi kawan-kawan caleg yang berasal dari PDIP maupun GERINDRA menurutku kalian harusnya cenderung lebih mudah dalam melakukan komunikasi politik kepada masyarakat pemilih. Karena materi komunikasinya searah antara kepentingan pileg dan pilpresnya tinggal kemampuanmu ‘mengkondisikan’ masyarakat pemilih dalam dapilmu itu.
  9. Sementara bagi partai selain kedua partai tersebut (PDIP dan GERINDRA) menurutku masih perlu lebih banyak penyesuaian-penyesuaian. PKS, PAN, BERKARYA, dan PBB sangat membutuhkan manuver yang cerdas dalam menjalankan strategi pemenangan calegnya. Begitu juga dengan GOLKAR, NASDEM, PKB, PPP, HANURA, PSI, dan PERINDO menurutku juga mengalami keharusan manuver-politik yang cerdas terkait persoalan strategi pemenangan calegnya.
  10. Beda dengan DEMOKRAT, menurutku langkah yang akan diambil cukup berorientasi terhadap kepentingan pileg semata nantinya karena memfokuskan PT 4% itu adalah bagian dari strategi bertahan dan kepentingan yang tidak dapat dipisahkan. Ini urusan eksistensi partai pada DPR-RI periode 2019-2024, jangan sampai partai yang ada saat akan hilang dalam pemilu 2024 nanti.
  11. Bagi caleg menang lakukanlah riset yang tepat dalam dapilmu untuk mengukur dan mendapatkan peta orientasi masyarakat pemilih. Karena dalam suatu perjalanan, jika tau dengan TITIK pasti tujuan akhir maka jalan yang tepat akan mudah dibuat untuk di lalui.
  12. Semoga kawan-kawan caleg sudah dapat merasakan akan dualisme ini dalam dirinya, antara kepentingan pileg dan pilpres mana yang lebih diutamakan. Atau apakah kepentingan calegmu dapat seiring dengan kepentingan pilpresmu.
  13. Selamat menghadapi paradoks politik nasional dan lokal, seimbanglah dalam menyikapinya maka kedamaian akan diraih.

Sekian lagi opini hari ini, selamat menyambut HARLAH HUT KEMERDEKAAN RI 17 Agustus 2018, dan selamat menjelang Iedul Qurban 1439 H. Salam kompak NKRI !!!

(DC)

PILPRES 2019#04: RAHASIA TIGA PASANG CAPRES 2019

PILPRES 2019#04: RAHASIA TIGA PASANG CAPRES 2019

Sebentar lagi di bulan depan maksimal 10 Agustus 2018 sudah ada fix ada paslon capres – cawapres untuk pemilu tahun 2019 yang akan datang. Ulasan kali ini bersifat hiburan tambahan saja terkait lobbying yang saat ini lagi intensif dilakukan oleh berbagai pihak yang berkompeten di nasional, terutama kalangan kalangan ketua – ketua partai.

Apapun partai dimana keterlibatanmu saat ini, kami berharap opini kami kali ini sekali lagi bolehlah kiranya dijadikan “penyimpangan” analisis yang melihat dari sudut yang berbeda dari pemberitaan mainstream selama beberapa hari terakhir.

  1. PDIP adalah partai yang paling boleh menyinambungkan kembali untuk menempatkan kadernya sebagai presiden-wakil presiden periode 2019 – 2024. Pak Joko Widodo termasuk sosok yang paling tinggi potensinya untuk dicalonkan kembali oleh PDIP berikut mitra koalisinya.
  2. Sebagai rival head to head pak jokowi adalah pak Prabowo Subianto dengan partai Gerindranya adalah yang paling sering disandingkan berkompetisi dalam info – info umum yang beredar.
  3. Disisi lain sesungguhnya langkah taktis yang diambil oleh pak SBY sangatlah strategis sebagai pihak yang “melawan” opini ke-umum-an ini. Pak SBY lah menurut kami yang paling mampu menciptakan opsi sebagai pihak poros ketiga diluar kedua kubu yang tersebut diatas.
  4. Pak SBY telah berpengalaman secara mulus untuk menjadi presiden selama dua periode tanpa terusik full oleh mitra koalisinya saat itu. Sebagai contoh di periode keduanya pak SBY terlihat cukup mudah dan meyakinkan untuk menunjuk pak Budiono sebagai wapres saat itu.
  5. Beda kemudian dengan hari ini dimana pak Jokowi kini masih terlihat cukup sibuk menentukan siapa yang akan menjadi calon wakilnya.
  6. Melihat kepentingan politik jangka panjang (pasca 2024) maka cawapres pak Jokowi kali ini sangat memungkinkan untuk menjadi capres pada pasca 2024 itu. Inilah mungkin yang menjadi kalkulasi para elit di tubuh PDIP.
  7. Bagaimana dengan desas – desus parpol lainnya yang juga nampaknya cukup menyadari adanya pengkrucutan tiga sumbu poros kekuatan utama yang terjadi alamiah antara PDIP – GERINDRA – DEMOKRAT. Posisi Golkar dan PKB sebagai partai yang cukup besar selain ketiga poros utama itu  cukup berperan penting kita lihat bersama akhir – akhir ini dimana telah terjadi komunikasi yang cukup serius antara pak Airlangga dengan Cak Imin.
  8. Dilain pihak (namun sesungguhnya sedang diuji oleh publik) ada PAN dan PKS yang cukup getol mempertahankan penjajakan koalisinya kepada Gerindra.
  9. Yang lumayan menguras energi kalkulasi para elit partai juga adalah dimana pilpres kali ini dilaksanakan bareng dengan pileg. Biar bagaimanapun secara kepartaian kemampuan mendudukan sebanyak – banyaknya kadernya di parlemen juga perlu sangat serius untuk dilaksanakan.
  10. Menang pilpres tidak otomatis memenangi pileg. Begitu data – data penganalogian pilkada serentak yang baru saja terjadi. Paslon yang diusung partai besar dan atau ditambah koalisi besar cukup banyak dikalahkan oleh musuhnya koalisi partai menengah.
  11. Berkaca data hasil pileg tahun 2014 yang lalu dimana PDIP dan Golkar menempati perolehan suara paling tinggi dibandingkan partai lainnya. Namun pileg kali ini dari berbagai analisis hasil pengukuran/ survei prediksi ada yang mengatakan Gerindra dan PKS cukup berpeluang untuk merangsek naik menjadi empat besar. PKS, PKB, PAN, PPP, PBB, mungkin saja akan mendahulukan kepentingan pilegnya jika terjadi kebuntuan negosiasi dalam pencapresan kali ini.
  12. Bagaimana dengan partai lainnya yang juga sangat berkeringat untuk menjadi unggul dalam kompetisi pileg 2019 yang akan datang. Ada Nasdem, Perindo, dan HANURA, yang juga membagi fokusnya antara pilpres dengan pileg. Memainkan dua kepentingan yang berbeda sekaligus diperlukan tingkat kecerdasan politik yang tidak umum. Cermat dalam pemetaan, dan mampu dengan sangat sabar untuk mengeksekusi setiap keputusan adalah kuncinya.
  13. Sudahlah kawan politik itu sangat dinamis, dimana kepentingan lebih tinggi nilainya dari pada musuh politik. Begitu fatsun umum yang sering secara samar terlihat dipermukaan ruang public analisis politik terkini.
  14. Parpol yang menyadari posisinya “tingkat menengah” tidak akan memaksakan kadernya untuk maju menjadi capres atau cawapres, tetapi sangat mungkin memindahkan orientasinya kepada pemenangan pileg untuk sebanyak – banyaknya mendudukan kadernya di parlemen nantinya.
  15. Para elit dan para analis politik pasti sangat memahami hal itu. Selainnya pada line lapis kedua bagi elit pelaksana di daerah –  daerah cukuplah elit dipusat segera memutuskan siapa capres – cawapres maka akan siap di amin-kan hingga ke grass-root.
  16. Sedikit sebagai clue tambahan bahwa ada kekuatan lobbying yang menurut kami cukup menghiasi kalkulasi pencalonan dalam pilpres kali ini adalah massa dan elit PA 212. Kemana mereka akan berlabuh?
  17. Point terakhir sebagai opini kami kali ini adalah, seperti terjadinya tarik menarik kepentingan yang sangat kuat dan kalkulasi apakah “membuat” dua pasang saja pilpres kali ini ataukah terbelah lagi sehingga terjadi tiga pasangan capres – cawapres.
  18. Kita semua mungkin bukan “si pembuat” pasangan itu, tapi kita adalah “object” yang mungkin mereka sangat perhitungkan.
  19. Yuk kita teruslah memirsanya secara cermat hingga tanggal 10 Agustus 2018 mendatang. Sambil melihat kemana sesungguhnya arah dunia perpolitikan Indonesia kedepan.

Tetaplah bersemangat membaikan, salam kompak NKRI !!!

(DC)

PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

PILPRES 2019 #03: RAHASIA PERILAKU PEMILIH BANGSA NUSANTARA YANG TIDAK DIMILIKI OLEH SELURUH NEGERI MANAPUN DI DUNIA HARI INI

  1. Rakyat Indonesia akan dengan senang hati berpartisipasi dalam pemilu tahun 2019 yang akan datang, karena itu “hanyalah” bagian dari proses kesinambungan rakyat negri ini yang sudah sama-sama disepakati oleh rakyat itu sendiri.
  2. Rakyat di negri ini sangat mandiri, pemerintahan adalah bagian dari rakyat itu sendiri. Perkara ada oknum di pemerintahan ada yang nampak seperti tidak menjalankan misi kehidupan rakyat itu hanyalah bagian sedikit yang secara pasti akan perlahan terkikis oleh kejumudannya sendiri.
  3. Grass-root hari ini memiliki keunikannya sendiri, terlihat seperti ada pencampuran faktor idealisme dan pragmatisme yang berjalan bersama dalam sikap perilaku memilihnya. Menjadikannya terpisah hanyalah menghasilkan kekonyolan karena rakyat Indonesia hari ini sudah terbiasa berbeda pilihan dalam setiap pemilu tetapi tetap secara substansi kehidupannya mengusung persatuan yang sejati di kehidupan keseharian dalam bermasyarakat.
  4. Pemimpin Indonesia hari ini bukanlah kelompok dari hasil warisan masa lalu, karena rakyatnya lah sesungguhnya yang senantiasa secara turun temurun yang menjadi pewaris sah nusantara.
  5. Penghormatan rakyat Indonesia paling tinggi diwujudkan dengan sila pertama pancasila yakni ketuhanan yang maha esa. Rasa hormat diberikan tidak berlebih kepada manusia/ pemimpin. Rakyat memberikan rasa hormat kepada kepemimpinan dilakukan dengan sadar bukan karena terpaksa. Bangsa ini tidak mengenal penghormatan berlebih kepada manusia kecuali sebagaimana keharusan saja. Tidak ada raja yang dihormati melebihi penghormatan kepada seorang ayah dan ibu dalam rumah tangga rakyat Indonesia.
  6. Rakyat Indonesia tidak mengenal arak-arakan secara berlebihan untuk menyanjung suatu keluarga kaya atau keluarga terhormat. Kepemimpinan sudah sangat terbiasa berganti-ganti tanpa memandang “kesucian” dari keturunan/ trah warisan. Ia hanya dirasakan secara mendalam rasa hormat itu dalam lubuk hati setiap orang. Karena rakyat nusantara adalah manusia-manusia yang sangat mengenal eksistensi agung diluar semua manusia.
  7. Nasionalisme rakyat Indonesia sudah mendarah daging dan melekat yang kemudian dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Seandainya terjadi peperangan dengan negara lain maka percayalah rakyat Indonesia yang kalem ini yang akan menjadi tentara sesungguhnya untuk menghabisi negara penyerang itu. Silahkan tanyakan kepada jenderal perang manapun di dunia saat ini adakah yang berani nekat mengajak negaranya untuk menyerang bangsa Indonesia?
  8. Jika ada sekumpulan orang yang merasa paling berhak atas negeri ini maka hal itu akan dibabat habis oleh alam Indonesia sendiri. Pahamilah kemandirian rakyat Indonesia ini maka akan ditemukan kebijaksanaan yang sangat tinggi jika dibandingkan bangsa lain di dunia hari ini.
  9. Rakyat Indonesia tidak akan mampu terpecah-belah seperti kebanyakan negara-negara yang dimana rakyatnya mudah diadu domba dengan isu agama dan konflik kepentingan kelompok materialisme. Kelompok pengatasnamaan agama tidak akan pernah dapat dibenturkan dengan kelompok pro-materialisme karena bagi rakyat Indonesia keduanya adalah harus bejalan bersama dalam keharmonisan.
  10. Memang ada hari ini sekelompok kecil orang yang mengatasnamakan rakyat Indonesia dalam klaim tindakannya sebagai pemimpin tetapi hal itu bukanlah asli perilaku bangsa Indonesia. Karena bangsa Indonesia adalah bangsa pengayom yang paling mampu menyerap setiap aspirasi bahkan aspirasi dari negri asing sekalipun asalkan mau bekerjasama sesuai dengan kesadaran / kebijaksanaan bangsa Indonesia. Perhatikanlah negara lain dimana manusia pendatang di negara mereka akan dibatasi/ diberikan pagar yang sangat kokoh sehingga hanya bidang tertentu yang terbatas yang boleh diakses.
  11. Negara Indonesia hari ini hanya mampu di sejajarkan dengan negara Rusia dan Amerika Serikat. Dimana Indonesia jauh lebih memilki keseimbangan pandangan keharmonisan peradaban dan hak asasi manusia secara ril. Secara manusia pribadi bangsa Indonesia memiliki kemandirian yang tidak diragukan kehebatannya, sedangkan secara kelompok bangsa Indonesia bukan tipe kelompok manusia yang menampilkan kedigdayaannya. Kecuali kalau terpaksa harus diuji untuk itu. Telitilah “kemanjaan” bangsa lain dalam bernegara mereka, dan perhatikan cara mereka memandang masa depan. Apakah rasa kehawatiran yang mendominasi? Pakailah indikator penilaian psikologi-adil maka akan sangat jelas terlihat perbedaannya dimana rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan konfik namun harmonis, dan terbiasa materialis namun tetap dalam bingkai sharing “mangkubumi” bukan alih-alih untuk menguasai bangsa lain.
  12. Bangsa nusantara dulu yang mana hari ini diwarisi oleh rakyat Indonesia adalah bangsa yang merdeka. Ia berdinamika di internalnya saja dimana tidak akan “mengajak” bangsa lain untuk terlibat dalam pencarian jati dirinya. Hubungan dengan bangsa lain dilakukan dalam batas sharing kebijaksanaan bukan penguasaan atas sumber daya bangsa lain. Bangsa nusantara mewariskan peradaban hakiki yang mencontohkan sikap hidup yang dominan berorientasi kepada tingginya derajad kemanusiaan. Pemimpin di nusantara bukanlah tipe pemimpin yang mau “disembah” (perhatikan rakyat yang menyembah pemimpinnya itu bukan asli tipe kepribadian nusantara loh). Jangan paksa kita menyebutkan negara mana contohnya hari ini dimana rakyat tidak diperkenankan membicarakan politik negara dan haram kalau mau mengganti orang “istana” mereka. Di kita tidak semua itu.
  13. Para pemimpin Indonesia tahun 2019 adalah tipe kepemimpinan yang berkesinambungan dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Negri ini selalu akan menghasilkan pemimpin yang asli rakyat Indonesia, ala Indonesia. Sedikit saja melenceng dari itu semua maka perhatikan sikap yang akan diberikan rakyat Indonesia kepada pemimpinnya. Jangan paksa rakyat Indonesia “mengajari” rakyat negara lain karena itu akan menandakan kemunduran dunia. Artinya jika rakyat Indonesia mendiamkan berbagai peristiwa dunia hari ini itu dikarenakan masih dalam batas “toleransi kemanusiaan”.  Kecuali kalau sudah darurat maka rakyat Indonesia dimana tipe aslinya akan keluar sebagai pengayom untuk bangsa lain yang terkadang sangat mampu untuk “menawur” bangsa manapun. Ingatlah yang katanya 350 tahun bangsa ini dijajah tidak merontokan jiwa asli nusantara bangsa Indonesia hari ini. Dan perhatikanlah gaya “menjajah” bangsa Indonesia hari ini terhadap negara lain adakah bangsa lain itu merasa terjajah?. Pakem “menjajah” difikiranmu berbeda pakemnya dengan bangsa Indonesia. Nusantara “menjajah” dunia masa lalu menghasilkan kebebasan dunia hari ini dimana peran kelompok pro-materialisme merasa diatas. Orang yang merasa diatas pasti bukan diatas, begitu juga orang yang mengejar keatas pasti belum berada diatas. Berhati-hatilah karena sesungguhnya yang tidak terlihat mengejar apapun itulah puncak sesungguhnya.
  14. Memang ada sedikit penyesuaian (kekeliruan) pada bangsa Indonesia hari ini yakni terkait pelurusan tujuan berbangsa dan bernegara secara administratif belaka. Variabel penelitiannya harusnya bukan urusan materi tetapi urusan keadilan mendasar dimana urusan hak dan kewajiban yang kurang komitmennya. Masih ada rakyat yang menjadi pejabat yang salah langkah dengan membuat “pagar materi” (menumpuk harta kekayaan pribadi) supaya mampu berkuasa yang mana itu salah besar. Materi pada negri ini bukan hanya sekedar kekayaan alam yang melimpah tapi kekayaan karakter asli gotong-royong itulah sejatinya materi bangsa Indonesia yang pada dahulunya rakyat nusantara mampu menghasilkan Kapur Barus, Borobudur, Keris-keris Nuklir, Cengkeh dan Pala, Candi Padangan di Garut, serta peninggalan kemanusiaan lainnya yang masih menunggu untuk ditemukan oleh generasi mendatang.
  15. Bangsa Indonesia pernah lupa akan kedigdayaannya, bahkan sempat pernah takjub akan peradaban lain dibawahnya sehingga hal itu berasa sisanya sampai hari ini. Ini bukan cerita sejak tahun 1945 saja tetapi ini cerita telah dimulai tahun 1511 (abad ke 16) hingga terus sekarang. Padahal perhatikanlah sejarah bangsa Indonesia sejak abad ke 7 misalnya ada apa saja. Atau tarik lagi kebelakang sejak abad ke 3 misalnya di tanah Kutai ada apa saja (bacalah prasati Yupa dari Kutai). Atau perhatikan lagilah semacam situs peninggalan gunung Padangan di Garut itu rahasia apakah gerangan. Atau pelajari lagi lah apa itu atlantis/ sunda-land, paparan sahul – paparan sunda, Wayang Mahabharata, dan semisalnya. Pelan-pelan pelajari dan perhatikan!
  16. Ini bukan hanya sekedar cerita pemilu tahun 2019, sudah-sudahlah “menghina” ketidak-tahuanmu akan bangsa nusantara itu. Kan kita sepakat negri ini sangat berlimpah kekayaannya (kalau gak melimpah kekayaannya mana mungkin di “samperin” 350 tahun) bahkan hari ini lihat data pengerukan sumber daya alam, berapa trilyun KWD (Kuwait Dinar ; 1 KWD = 3 USD, 1 KWD = Rp 44.500,-)  yang intens dikeluarkan hasil dari bumi Indonesia, ada yang tau persis nilainya?
  17. Begitulah kutulis artikel ini sebagai godaan bagi para konsultan politik, mahasiswa Indonesia, politisi pemula (para caleg yang maju tahun 2019) serta anak bangsa yang membaca setiap point dari tulisan lepas hari ini.
  18. Segitu dulu, selamat melanjutkan aktifitas masing-masing. Selamat makan siang bagi yang melakukan.

Salam kompak NKRI  !!!

(DC)