Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Intip E-Book Survei #1 : HAJATAN PILKADA SERENTAK 2018 DAN PEMILU 2019.

Indonesiaku indonesiamu dan Indonesia kita bersama. Hari ini negri yang kita cintai ini sudah sampai tahap modernisasi disemua sisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Waktu kedepan menjelang pelaksanaan rekruitmen kepemimpinan diberbagai tingkatan yakni kabupaten, kota, dan provinsi yang mana pemilu akan dilaksanakan serentak tahun depan tahun 2018, bahkan dilanjutkan lagi tahun berikutnya yaitu tahun 2019 untuk pemilu legislative dan pemilihan presiden. Pemilu sendiri nyaris tidak dapat mencueki era modernisasi itu. Proses digitalisasi yang erat berkaitan dengan era internet dimana semua orang nampak seperti terhubung setiap saat, sehingga informasi sangat mudah didapat. Bahkan informasi yang begitu mudah didapat ini dapat dengan mudah juga mengubah perilaku kehidupan termasuk dalam kehidupan berpolitik.

Suasana perpolitikan saat ini sangat memperhatikan informasi yang berkembang diberbagai media termasuk media sosial (medsos). Berbagai opini baik yang serius maupun ngelantur termasuk hoax bahkan selalu bertebaran setiap saat setiap waktu all time selama 24 jam nonstop sepanjang minggu, bulan, bahkan sepanjang tahun. Ada ketelitian dalam memilih dan memilah informasi yang diperoleh, apalagi dalam peristiwa politik semacam pilkada. Beruntungnya setiap event pilkada selalu ada ilmu yang ilmiah yang dapat menjadi patokan sehingga informasi tersebut dapat dipegang bahkan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan. Itulah yang dimaksud survei dalam pilkada.

Berbagai rilis hasil survey telah dilakukan oleh berbagai pihak. Hasil survey selalu ditunggu – tunggu kehadirannya. Lembaga survey yang credible akan dapat meyakinkan public, dimana hasil surveinya akan dijadikan panutan. Plus minus dalam merilis hasil survey tentu dinamis. Masyarakat pemilih akan lebih bijak dalam menentukan pilihannya terhadap kandidat yang bertarung berdasar hasil survey dan berdasarkan issue yang berkembang tentunya.

Mungkin banyak sekali orang yang kepingin mengetahui apa itu survei dalam pemilu langsung berupa pilkada serentak tahun 2018 ini. Hasil survei yang dirilis akan ditunggu-tunggu kehadirannya. Aku akan memaparkannya dengan detail untuk mu, teman. Prediksi siapa yang bakal memenangkan pertarungan akan ramai dibicarakan dalam berbagai setiap kesempatan biasanya baik itu di media massa medsos maupun sekedar dalam berbagai forum diskusi warung kopi atau bahkan kelas warung kopi resto mungkin.

Daerahmu akan pilkada juga kah teman?

Atau ada temanmu nyalon, ah atau mungkin timses nih?

Berbagai kalangan terkesan mampu membicarakan survei ataupun hanya sekedar mengomentari setiap hasil survei yang dirilis itu tanpa menyadari bagaimana sesungguhnya proses sehingga menghasilkan data – data ataupun informasi yang mengatakan calon A berpotensi besar akan menang dan mampu mengalahkan calon B atau calon C adalah menjadi pesaing terberatnya.

Tetapi pihak yang mampu melaksanakan survei dalam pilkada hanya segelintir dapat dihitung jari jemari belaka. Ada lembaga survei semata, ada juga konsultan pilkada yang mengkhususkan dirinya mendampingi calon dalam pilkada namun sekaligus mampu melaksanakan survei juga.

Tetapi sangat jarang partai politik mau memiliki lembaga survei sendiri yang dapat dijadikan rujukan pengambilan keputusan, biasanya survei diserahkan kepada  pihak konsultan. Juga, tidak semua akademisi mampu melaksanakan survei ilmiah ini. Kemudian ditambah banyaknya kontestan dalam pemilu langsung seperti saat ini yang tidak bisa melaksanakan survei secara mandiri. Padahal melaksanakan survei itu gak sulit-sulit banget kok.

Dalam tulisan ini dirimu akan menemukan penjelasan yang sangat gamblang bagaimana survei dalam proses pemilu itu dilaksanakan. Gak perlu punya sekolah harus lulusan luar negri untuk mengerti dan mampu melaksanakan survei sendiri. Kamu alumni dari kampus di Indonesia pun sudah cukup kok jadi bekal untuk mengerti survei. Proses survei dari awal hingga akhir akan kubahas untukmu.

Kenapa hasil survei cenderung ramai dibicarakan dalam setiap pilkada misalnya, itu membuktikan masyarakat pemilih dari berbagai latar belakang merasa tertarik dan terbantu atas informasi dari hasil survei yang dirilis. Hasil survei sangat dipercaya, karena dianggap ilmiah dan faktanya juga hasil survei adalah satu-satunya cara dalam memprediksi hasil pilkada atau pileg misalnya maupun pilpres sekalipun. Meskipun, ada juga dari kejauhan sayup – sayup terdengar ada yang memprediksi pilkada menggunakan sumber informasi dari dukun atau orang pintar.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai alat jika ingin melakukan survei sendiri, dengan aku berupaya maksimal menjelaskan kepadamu secara cepat, mudah, dan lengkap.

Survei sendiri itu penting bagi setiap calon dalam pilkada 2018 maupun bagi calon caleg tahun 2019 nanti. Survei akan membimbingmu teman. Survei akan menuntunmu dalam menjalankan proses kampanye untuk meraih suara pemilih yang dikehendaki. Survei akan meberikanmu peta kekuatanmu maupun lawanmu. Survei akan menyajikan informasi akurat Dikecamatan mana calon kuat, di wilayah mana calon lemah posisinya.

Hasil survei akan banyak memberikan gambaran tentang segmen pemilih. Misalnya, calon A didukung kuat oleh  pemilih yang berusia muda. Calon B didukung kuat oleh kelompok kalangan tua.

Hasil survei juga akan menunjukan kepadamu tentang berbagai hal, seperti kecenderungan ke calon mana dukungan pemilih dari segmen tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan pekerjaan, gender, suku, agama, dan sebagainya.

Untukmu teman aku akan mencontohkannya seperti yang sering kulakukan selama ini, caranya akan kujelaskan secara rinci nanti.

Secara ringkas tahapan melakukan survei untuk pilkada maupun pileg itu dapat diurutkan seperti sistematika berikut ini ;

  1. Persiapkan data awal diwilayah mana survei akan dilakukan. Data awal ini berupa jumlah penduduk disetiap desa maupun kelurahan. Biasanya data ini ada di BPS (Badan Pusat Statistik).
  2. Tentukan jumlah sampel. Surveiku jumlah sampelnya paling sedikit itu 220 responden dan paling banyak maksimal 1.500an responden.
  3. Buatlah daftar pertanyaan (kuisioner).
  4. Lengkapilah instrumen surveimu.
  5. Rekrutlah petugas wawancara dan lakukan pembekalan/ pelatihan (workshop).
  6. Proses wawancara lapangan.
  7. Lakukan pendampingan lapangan (withness).
  8. Lakukan crosscheck hasil wawancara lapangan.
  9. Pengumpulan kuisioner hasil wawancara lapangan.
  10. Entry data dan penyajian data hasil survei.

Selanjutnya teman, kita akan masuk ke tahap penjelasan secara rinci terhadap 10 item diatas disetiap lembaran manuskrip yang khusus ini secara lembar demi lembar, bacalah secara teliti yaa karena kamu kan mau menjadi peneliti.

Jika kamu tuntas membaca ebook ini teman, maka kamu tidak awam lagi dan sudah termasuk menjadi bagian dari peneliti dalam orbit cakrawala survei pemilu yang sedang terjadi saat ini dinegri yang kita cintai ini, Indonesia kita bersama.

BACA JUGA: Panduan Mudah Survei Sendiri: Untuk Timses Pilkada Bupati, Walikota, Gubernur dan Pemilu Legislatif 2019

(DC)

 

…………………………………. Bersemangatlah, peragu mudah jadi pecundang …………………………………………

PILGUB KALTIM 2018 #30: PERILAKU PEMILIH

PILGUB KALTIM 2018 #30: PERILAKU PEMILIH

Masyarakat pemilih memiliki berbagai macam respon terhadap berbagai peristiwa politik yang berkembang saat ini. Respon tersebut dapat berwujud langsung berupa dukungan, penolakan, atau hanya sekedar bagi penambah wawasan semata.

Pada perkembangannya kalangan peneliti dari waktu ke waktu selalu mencari pola yang disesuaikan dengan kebutuhan saat itu, guna membuat kesimpulan-kesimpulan sehingga dapat membaca arah perilaku politik pemilih dalam rangka mengukur tingkat kedewasaan demokratisasi di suatu wilayah tertentu.

Keran demokrasi yang terbuka lebar seperti saat ini ditanah air yang berupa pemilukada serentak tahun 2018 ini di 171 daerah yakni provinsi, kabupaten, dan kota adalah bagian dari perwujudan sikap demokratis. Diharapkan Indonesia dalam menyongsong masa depannya akan mampu sederajat dan aktif dalam pergaulan dunia internasional.

Mengukur perilaku pemilih disuatu wilayah yang akan melaksanakan proses pemilukada (baik itu pilgub, pilbup, maupun pilwali) adalah semacam kebiasaan yang senantiasa ditunggu kehadirannya. Banyak sekali pakar yang terlibat dalam pengukuran/ analisis perilaku pemilih ini. Hanya saja bahan yang tersedia saat ini masih dirasa belum memadai. Hal ini ditandai dengan masih kurangnya literatur khas ke-Indonesia-an yang mengulas perilaku pemilih ini dari berbagai sudut pandang.

Sebagai masukan bagi kalangan yang konsen dibidang penelitian perilaku pemilih ini, kami meng-opini-kan uraian singkat ini. Namun, kami sadar bahwa opini kami ini jauh dari kepuasan yang bersifat komprehensif dari sisi penilaian yang kompleks pula demi memenuhi hasrat yang nyata dilapangan.

Tidak dipungkiri bahwa pemahaman perilaku pemilih dapat bermanfaat praktis dalam ajang kompetisi semacam pemilukada. Konsultan pendamping kandidat memiliki track-record yang akan ditawarkan sebagai jasa konsulting-nya. Sebagai konsultan tentu arahannya akan didengar dan mungkin akan menjadi bagian dari bahan pertimbangan sebagai langkah-langkah strategis dalam proses kampanye.

Mengetahui perilaku pemilih dapat akan berhubungan dengan kemampuan mempengaruhi perilaku memilih itu sendiri. Semakin lengkap informasi perilaku pemilih maka akan berpeluang semakin efektif dan efisien langkah kampanye kandidat.

BACA JUGA: Sikap Jurkam Efektif?

Meskipun pemanfaatan pemahaman perilaku pemilih ini masih jadi bahan perdebatan pada tataran keilmuan modern, dikarenakan bisa nampak seperti menariknya kearah pragmatisme sesaat sehingga mungkin akan mengabaikan etika ilmu pengetahuan itu sendiri. Tetapi hal tersebut tidak harus menghentikan pengembangan teori perilaku pemilih itu sendiri. Karena konsep teori perilaku pemilih itu berlandaskan keilmiahan ilmu pengetahuan yang boleh hadir dalam pengembangan proses demokrasi bagi suatu Negara.

Kami meyakini bahwa konsep atau teori perilaku pemilih ini sangat membantu dalam meningkatkan wawasan semua pihak baik itu masyarakat pemilih maupun bagi kontestan (kandidat) yang memperebutkan suara pemilih selama proses pemilihan semacam pemilukada tahun ini.

Nah bagaimana dengan perilaku pemilih di Kaltim??? Hmm….mungkin ditulisan selanjutnya saja yaa..hehe…

Selamat berdemokrasi negriku, selamat menyambut pemilukada tahun 2018 bagi yang merayakannya. sekian

(DC)

BACA JUGA: Pilgub Kaltim 2018 #28: Kandidat Paling Populer Saat Ini?

PILGUB KALTIM 2018 #29: JENIS JURKAM EFEKTIF?

PILGUB KALTIM 2018 #29: JENIS JURKAM EFEKTIF?

Kandidat/ calon  dalam pemilukada memiliki jurkam (juru kampanye) yang akan melakukan orasi di panggung kampanye. Seorang jurkam memiliki fungsi untuk menyemarakkan situasi di arena kampanye. Seorang jurkam juga akan berusaha membuat peserta kampanye menjadi lebih antusias dalam mengikuti proses sepanjang kampanye dilakukan.

Ada beberapa macam jurkam yang akan mendampingi seorang kandidat. Kandidat sendiri adalah jurkam bagi dirinya sendiri. Team dari kandidat juga secara makana adalah jurkam. Setiap pendukung kandidat termasuk jurkam baik pendukung di media online maupun offline. Jurkam-jurkam inilah yang selalu menjadi juru penyampai informasi yang dilakukannya setiap saat kepada masyarakat pemilih.

Tulisan ini hanya berfokus kepada “jurkam-jurkam” yang setiap saat melakukan upaya bantu terhadap kandidatnya meskipun mungkin jurkam jenis ini secara umum bukan disebut jurkam yang sering dilihat ber-orasi di atas panggung kampanye seperti biasanya selama ini.

Berikut tiga kategori jurkam yang bukan jurkam orasi di panggung kampanye sebagaimana biasanya, pengkategorian ini sangat longgar untuk ditelaah ulang dan silahkan disesuaikan dengan kondisi lapangan masing-masing;

Pertama, sadarilah bahwa setiap pendukungmu adalah jurkam-mu walaupun mungkin pendukung tersebut belum pernah bertemu kandidatnya. Jenis jurkam ini bisa saja hanya sekedar semacam seorang pedagang sayuran keliling yang setiap hari intens bertemu pelanggannya dari rumah ke rumah kemudian secara alamiah mengkomunikasikan tentang kandidat kepada setiap masyarakat pemilih yang dijumpainya.

Kedua, bahawa setiap orang saat ini pada dunia maya/ medsos mungkin sekali adalah pendukung setia terhadap kandidat. Bentuk dukungannya bisa saja dilakukan dengan cara memposting, men-share, mengkomentari, atau hanya sekedar memajang foto tertentu, atau bahkan melakukan apa saja yang dampaknya mungkin sangat menguntungkan bagi kandidatnya secara tidak langsung.

Ketiga,  ketahuilah pemilih yang nge-fans kepada kandidat itu dialam bawah sadarnya sudah terprogram secara alamiah semacam keinginan yang selalu melakukan upaya menyalurkan informasi terkait kehebatan kandidat yang didukungnya. Pendukung jenis ini memiliki energy berlimpah yang sangat positif untuk menyebarkan informasi yang menguntungkan bagi kandidat yang didukungnya. Meskipun biasanya kepentingan pendukung jenis ini tidak se-pragmatis pendukung yang lainnya.

BACA JUGA: Pilgub Kaltim 2018 #29: Kandidat Paling Populer Saat Ini?

Uraian singkat ini terinspirasi dari pada suatu bagian dari metode marketing-politik yakni konsep marketing WOMM (Word Of Mouth Marketing = pemasaran dari mulut ke mulut).  Ada semacam asumsi para marketer dalam dunia bisnis bahwa suatu produk unggulan biasanya akan mendapat referensi dari pelanggan setia untuk menganjurkan tanpa disuruh kepada calon konsumen berikutnya.

Sekian opini kami untuk penambah pengayaan ragam analisis dalam kompleksitas di musim kampanye seperti saat ini. selamat berdemokrasi bagi seluruh daerah pemilukada, do’a ketulusan kita haturkan kepada para pahlawan penegak NKRI.

(DC)

PILGUB KALTIM 2018 #28: KANDIDAT PALING POPULER SAAT INI?

PILGUB KALTIM 2018 #28: KANDIDAT PALING POPULER SAAT INI?

Membicarakan popularitas dalam ajang pemilukada seperti saat ini menjadi semacam keharusan tersendiri.  Populer atau angka dikenal oleh pemilih mempunyai tolok ukur yang paling dicari datanya. Setiap pemilih idealnya mengenal terhadap siapa yang akan dipilihnya. Berbagai sudut pandang mengukur angka popularitas ini tentu dapat berbeda-beda bagi setiap disiplin tertentu.

Mengukur angka popularitas dalam ajang pemilukada sering digunakan metode survei yang sudah terbukti keakurasiannya. Saat ini dimana lembaga survei yang siap melakukan survei sangat banyak jumlahnya baik yang ber-skala lokal maupun nasional.

BACA JUGA: Hasil Survei Yang Dirilis Itu Kebohongan??

Berikut opini kami yang disarikan dari berbagai pengalaman selama ini sepanjang mengikuti proses pemilukada secara langsung. Poin-poin ini kami sempitkan pada ulasan popularitas bagi kandidat dari sudut pandang perilaku pemilih.

  1. Popularitas atau angka dikenal-nya kandidat oleh pemilih itu idealnya mencapai 100%, angka ini adalah sebagai start awal bagi kandidat (calon pemimpin; gubernur, bupati, walikota).
  2. Kandidat yang populer dilihat dalam wilayah tertentu secara geografis dimana saja pemilihan itu terjadi. Jika pemilihan dilakukan di wilayah A maka wajib bagi kandidat terkenal diwilayah A tersebut bukan diwilayah lain.
  3. Dikenal disini adalah dikenal secara baik yang khas bukannya dikenal karena ketidak baikannya. Hati – hati pada poin ini jangan sampai kandidatmu terkenal tapi dikenal karena kekurangannya.
  4. Pemilih mengenal kandidatnya secara sederhana adalah ketika masyarakat pemilih sangat familiar dengan mampu jelas menyebut nama dan mengetahui secara jelas tampilan sang kandidat tersebut.
  5. Ada kandidat yang populer pada media online tetapi belum tentu populer secara offline di masyarakat pemilih. Karena media online masih belum merata sebarannya.
  6. Angka popularitas itu harus disosialisasikan dan harus sampai ke benak setiap pemilih. Sekali lagi perhatikan poin penting yang ke 6 ini, pahamilah.
  7. Popularitas itu adalah upaya kontinyu dan sangat memperhatikan setiap segmen dalam populasi pemilih secara keseluruhan.
  8. Upaya menaikan angka popularitas itu mestinya dapat diukur sesuai standard tertentu.
  9. Upaya yang paling cepat untuk menaikan angka popularitas kandidat adalah dengan mencari cara yang viral-lable (cepat dan merata). Tema dan momentum yang tepat tentunya dengan media penyampai yang tepat pula.
  10. Lakukanlah upaya peningkatan angka popularitas ini dengan cara-cara yang paling mudah diterima oleh masyarakat pemilih. Cara-cara yang menyenangkan supaya juga mudah disukai atau disenangi oleh masyarakat pemilih.
  11. Angka popularitas yang tinggi akan berdampak kepada tingkat kesukaan pemilih terhadap kandidat menjadi tinggi pula. Jika tingginya angka kesukaan pemilih ini dapat diraih secara maksimal maka akan menjadi mudah pada tahap berikutnya untuk meningkatkan angka elektabilitas (peluang keterpilihan) bagi kandidat.

Demikian opini kami sebagai bahan tambahan bagi sesiapa saja yang terlibat dalam proses pemilukada tahun ini. Jangan lupa tetap kompak dengan tetanggamu dan sahabatmu, yakinlah bahwa pemilukada tahun ini adalah tetap seperti pemilukada yang sudah sering kita terlibat didalamnya. Salam kompak NKRI !!!

(DC)

BACA JUGA: Kepribadian Calon Pemimpin Paling Disukai