Software Pilkada : Sistem Manajemen Pemenangan Pemilihan Umum Kepala Daerah Serentak (SIMPEL PILKADA) 2020

Software Pilkada : Sistem Manajemen Pemenangan Pemilihan Umum Kepala Daerah Serentak (SIMPEL PILKADA) 2020

Sistem Manajemen Pemilu Kepala Daerah Serentak 2020 (SIMPEL PILKADA) adalah sebuah sistem informasi berbasis Cloud yang merangkum kegiatan dan Pemenangan Pilkada dari proses awal sampai akhir yaitu perhitungan real. Sistem ini terdiri dari beberapa modul yang diantaranya Manajemen Tim, Data Pemilih, Agenda Kegiatan, Manajemen Logistik, Data Survei Lapangan, Door To Door Campaign, Check In Lokasi By GPS, Manajemen Isu, Real Count dan Quick Count, sampai Manajemen User.

FITUR UTAMA :

  1. Manajemen Tim dan Saksi
    Fitur untuk mendata semua personil baik relawan, saksi maupun tim pemuda yang terlibat dalam pemenangan calon legislatif. Setelah didata maka personil tersebut baru ditentukan peran, tugas atau jabatanya. Termasuk juga untuk manajemen relawan baik itu Koordinator Kecamatan, Koordinator Desa/Kelurahan sampai dengan Relawan TPS.
  2. Data Pemilih
    Import data pemilih yang bersumber dari data DPT berbentuk excel ataupun html sesuai didapatkan. Dengan data pemilih yang sudah masuk dalam database sistem, akan memudahkan dalam hal pemilihan maupun verifikasi personil, Saksi maupun tim lainnya yang sudah di pilih. Jadi menghindarkan ketika memlih Tim yang tidak berasal dari TPS tempatnya memilih yang tentu saja membuat tugasnya tidak maksimal nantinya.
  3. Agenda
    Fitur untuk mendata semua agenda kampanye atau kunjungan calon kepala daerah. Terdapat juga pemetaan melalui GPS Location lokasi mana saja yang sudah dikunjungi sehingga bisa digunakan untuk memantau tingkat kemerataan.
  4. Logistik
    Fitur untuk mendata keluar masuknya semua kebutuhan barang logistik baik kampanye maupun kebutuhan posko calon kepala daerah.
  5. Survei
    Fitur untuk memasukan hasil survei yang di lakukan oleh tim survei calon kepala daerah. Fitur digunakan bisa untuk melakukan sensus pemetaan peta kekuatan suara dari semua calon yang berkompetisi. Bisa digunakan sebagai tolok ukur kinerja relawan yang dibentuk.
  6. DTDC (Door To Door Campaign)
    Fitur ini digunakan untuk entry data umum minimal yang biasa dilakukan calon kepala daerah. Jika calon hanya mengumpulkan data pemilih dia saja, maka sebaiknya dientry di modul ini. Bisa dimanfaatkan juga untuk entry data pengumpulan dukungan KTP bagi calon perseorangan.
  7. Perhitungan Real Count dan Quick Count
    Fitur untuk melakukan tabulasi suara yang berasal dari Form C1 TPS. Dari entry tersebut secara real time software akan melakukan tabulasi perolehan suara, memunculkan hasil calon terpilih secara realtime. Ada juga fitur Quick Count dengan memilih TPS yang dijadikan Sampel.
  8. Manajemen Isu
    Fitur ini digunakan untuk menghimpun isu-isu yang beredar di internet terkait dengan calon kepala daerah. Link-link pemberitaan bisa disimpan di modul ini dan ada Grafik Rekapnya.
  9. Master Data
    Fitur untuk mengatur kabupaten, kecamatan, jumlah tps serta jumlah RT dan mengatur satuan untuk fitur logistik serta menentukan setingan data calon yang berkompetisi.
  10. Check In
    Modul ini digunakan untuk user atau relawan melakukan Check In ketika berada dilokasi tertentu. Kedepannya bisa digunakan untuk absensi ketika kampanye, kegiatan, atau bahkan untuk Absensi Saksi ketika sudah berada di TPS. Sistem akan mendata lokasi GPS dari user yang melakukan Check In.
  11. Daftar Check In
    Sambungan dari modul sebelumnya, admin akan bisa mengetahui lokasi checkin dari user pengguna aplikasi misalnya Relawan atau Saksi. Dapat ditampilkan berupa Maps
  12. Multi User
    Tiap akun calon akan memiliki hak untuk menambah user pengguna softwarenya tanpa dibatasi, sehingga sangat memungkinkan untuk dikerjakan secara bersama-sama dan dimana saja oleh tim yang banyak. Admin hanya perlu mengatur hak akses tiap user sesuai wewenang data-nya.

CONTACT PERSON
Muhammad Zakky (0811 5995 909)
Nizar Mahroussy (081385561000)

AKUN DEMO
URL Aplikasi : https://simpel.kopidoni.com
user: demo.surabaya@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.kabmojokerto@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.kabmalang@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.jember@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.depok@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.banyuwangi@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.kediri@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.blitar@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.samarinda@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.kukar@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.kubar@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.bontang@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.kutim@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.berau@gmail.com
pass: indonesia

user: demo.tidore@gmail.com
pass: indonesia

BAHAN PRESENTASI

File Presentasi bisa unduh di sini

File Presentasi bisa unduh di sini

PILKADA SERENTAK 2020 : THE MIRACLE OF KUTAI, IBUKOTA PENGGANTI JAKARTA?

PILKADA SERENTAK 2020 : THE MIRACLE OF KUTAI, IBUKOTA PENGGANTI JAKARTA?

Dia adalah kelimpahan pemberian alam. Bertebarannya emas dan intan permata. Dipenuhinya simbol – simbol kekayaan yang glamour, mahkota emas yang ditaburi berlian dan permata berharga yang didapatkan dengan cara – cara “kemandirian kebangsaan” dibalut dengan kesadaran akan kerjasama, kesadaran akan saling menghargai. Dia adalah harta kekayaan yang mempersiapkan dirinya untuk dimanfaatkan demi sebesar-besarnya kepentingan kehidupan bangsa Indonesia saat ini.

Ditandai alam juga dengan banyaknya keberagaman hayati (ratusan jenis hewan dan tumbuhan), dataran tinggi dan rendah yaitu perbukitan dan lembah-lembah yang sangat subur. Sangat menjanjikan akan kelimpahan – kemakmuran bagi kehidupan masyarakat. Kesejahteraan akan menjadi bukan isu hayalan tapi kenyataan. Dalam perut buminya menyimpan cadangan sumber daya yang tidak sedikit ; ada minyak bumi dan gas, batubara, emas, pegunungan karst, melimpahnya mata air dan sumber daya perairan, garis alami transportasi, dan masih banyak mineral lainnya yang akan sanggup melayani kehidupan peradaban manusia hingga ribuan tahun kedepan.

Dia turut mencontohkan perkenalan di dunia internasional bahwa dia memiliki hubungan yang luas di dunia eropa. Saling kenal dengan para Raja dan Ratu Inggris. Saling kenal dengan para Ratu Belanda.

Mampu menjalin komunikasi  dengan para bani – emir di negri – negri Arab. Saling berhubungan dengan para raja raja Tiongkok, juga saling kenal dengan para penguasa Utsmaniyah.

Hubungannya sangat erat dengan Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga bersambung sampai ke Mataram. Selain itu dia juga akrab dengan Wajo dan negri bugis – Makassar di pulau Sulawesi, kepulauan Maluku hingga Nusatenggara. Dia juga mengenal Sriwijaya dan Samudera Pasai di pulau Sumatera.

Dia memiliki “saudara dekatnya” yaitu negeri – negri Banjar di Kalimantan Selatan, Melayu di Kalimantan Barat, Melayu di Malaka dan Brunei. Ditambah sangat dekat juga kepada kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur di Berau, Paser Balengkong di Pasir. Dan paling dekat wilayah dengan kesehariannya ada di Sendawar (Kabupaten Kutai Barat saat ini).    

Dia sangat menjanjikan kekayaan demi kemandirian kemanusiaan, harga diri, kecerdasan, keadilan, dan perdamaian dunia. Dia asli dari bangsa Indonesia.

Dimulai sekitar tahun 300-an masehi (abad 4 masehi) masyhur diketahui diseputar wilayah Muara Kaman (pedalaman sungai Mahakam) ada peradaban – sosial yang tumbuh berkembang secara mandiri dan merdeka. Masyarakatnya menjalani hidup dengan penuh kemakmuran dan kesadaran yang tinggi akan pentingnya melaksanakan kehidupan secara saling bekerjasama dan saling menghormati.

Kelanggengan wilayah Kutai ini yang kehidupannya dibangun sejak awal dari wilayah baru (alas) hingga mampu menciptakan peradaban dengan kemampuan membuktikan tingginya kemanusiaan, hal itu membuktikan kemampuan, ketelatenan, kejelian, kesadaran, dan kecerdasan yang dimiliki masyarakat kutai sejak awal tersebut.

Dari abad ke 4 hingga terus sampai abad ke 12, dengan rentang 800 tahun ini adalah masa awal kejayaan peradaban ditanah kutai. Dimana rentang waktu yang sangat panjang itu adalah suatu bukti konsistensi yang sangat kuat mencerminkan eksistensi kehidupan yang sangat manusiawi. Dan pasti memiliki pola dinamikanya yang khas dan dialektika yang mampu tanding yang dapat digali secara lebih detail di masa sekarang.

Catatan selanjutnya bertambah kemudian pada akhir abad ke 12 dimana ada pertumbuhan masyarakat baru dalam suatu wilayah relatif berdekatan masih di Kutai, yakni adanya kehadiran peradaban – sosisal yang juga dibangun berdasarkan rasa kemandirian, kebebasan, kesadaran, kejelian, dan tanggung jawab yang sangat tinggi terhadap nilai – nilai kemanusiaan. Wilayah atau tempat ini sekarang dikenal dengan desa Kutai Lama – Kecamatan Anggana  (seputar muara sungai Mahakam).

Kemudian secara singkat kedua “kutai” ini melebur menjadi satu dengan berpindahnya pusat “bernegara” di wilayah desa Jembayan (sungai Jembayan) kecamatan Loa Kulu (sekarang).

Kenyataan bersatunya kedua “negara berdekatan” ini mencerminkan akan kesadaran untuk meningkatkan rasa saling kerjasama dalam bingkai peradaban kemanusiaan yang sangat sesuai dengan perkembangan jaman.

Dinamikanya pasti ada, sehingga untuk mempertegas akan persatuan wilayah yang sudah layak disebut negara modern tersebut ibukota negara “kutai bersatu” dipilihlah wilayah baru yang saat ini dikenal sebagai Tenggarong.

Dari Kotaraja Tenggarong inilah melanjutkan turut sertanya “kutai” berpartisipasi dalam membangun eksistensi peradaban kemanusiaan dengan menggabungkan diri kedalam pangkuan ibu pertiwi yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Peradaban Kutai di aliran sungai Mahakam” ini dimana seakan memberi inspirasi yang kuat akan potensi perkembangan kehidupan kemanusiaan sejak era Kutai awal di Muara Kaman. Bentang wilayahnya  yang luas ditambah dengan ketersediaan alam yang sangat lengkap untuk memenuhi hajat kehidupan manusianya.

Keadaan alam “kutai” ini yang sampai hari ini masih sangat mampu untuk menunjang berbagai kelangsungan peradaban selanjutnya, sehingga untuk Indonesia pun maka sangat memungkinkan kiranya ibukota baru berada di wilayah Kutai.

Peradaban Kutai telah menorehkan keteladaan kebangsaan yang kuat, menjaga kehormatan kemanusiaan, mandiri, arif dan bijaksana. Mendorong  kesejahteraan masyarakat, menciptakan keamanan dan ketentraman, menegakan keadilan sosial. Sehingga dengan dasar – dasar itu semua kelanggengan kutai berlangsung hingga 1700-an tahun lamanya. 

Singkatnya bolehlah kita sama-sama mengenali secara mendalam dari 4 (empat) titik awal peradaban kemanusiaan yang sudah terbukti selama 1700-an terakhir (17 abad), yaitu pertama titik Muara Kaman, titik kedua di Kutai Lama, titik ketiga di Jembayan, dan titik ke empat di Tenggarong. Keempat titik ini berada dalam pangkuan Kabupaten Kutai Kartanegara – Propinsi Kalimantan Timur.

Selamat datang di “bumi kutai”. Selamat berkunjung ke Muara Kaman, Kutai Lama, Jembayan, dan dilanjutkan berwisata ke Kotaraja Tenggarong. Pandanglah dengan sikap kearifan, kemanusiaan, dan kesadaran akan estafet generasi. Nikmatilah Kutai dengan rasa syukur dan sikap hormat kepada para pembentuknya karena generasi sekarang dan mendatang adalah pembuktian penugasan kemanusiaan selanjutnya, ambil hikmah yang terkandung di dalamnya demi kesejahteraan yang meluas sehingga keadilan sosial dapat terwujud secara lebih baik lagi.

Salam kompak NKRI, salam persatuan abadi. 

Penulis: Doni Candra, S.IP
Editor: Nizar Mahroussy H.E, S.Kom

PILKADA SERENTAK 2020 (4) : THE MIRACLE, KEAJAIBAN PILKADA TAHUN DEPAN

PILKADA SERENTAK 2020 (4) : THE MIRACLE, KEAJAIBAN PILKADA TAHUN DEPAN

Dalam rekam historis yang dapat diteliti selama ini dan kemudian dapat dilakukan upaya pengembangan untuk perkembangan hidupnya disetiap daerah maka pilkada menjadi instrumen utama dalam mewujudkan tujuan tersebut. Pilkada akan menjadi suatu keajaiban modern bagi kelangsungan kehidupan bangsa Indonesia baik dari segi persatuan maupun dari segi pelaksanaan pemerataan keadilan sosial. Keterlibatan masyarakat luas dalam musim pilkada seperti saat ini akan mampu membentuk karakter sosial yang sangat kuat karena proses pilkada mampu menghasilkan kedewasaan hubungan antar masyarakat. Selain itu pilkada juga akan mampu membawa harapan hidup yang lebih baik sebagian besar masyarakat disetiap wilayah.

Sebagai poin keajaibannya berikut ulasan yang mungkin dapat membantu argumentasi penguatan terhadap munculnya harapan masyarakat dalam musim pilkada tahun depan :

POIN #1 : SINERGI ANTARA PEMILIH DAN CALON YANG DIDUKUNG

Adanya dua pihak yang yang akan saling bersinergis, yakni antara masyarakat pemilih dengan calon yang didukungnya. Peristiwa hubungan  ini akan melahirkan suasana semangat baru dalam kehidupan yang terus berjalan ini. Dinamika hubungan yang terjalin ini yang akan “memaksa” kesadaran untuk rasa persatuan yang utuh meskipun “kesan pilkada” adalah kompetisi atau persaingan yang sangat serius namun toh pada akhirnya pilkada itu berjangka waktu dan akan ada pemenangnya. Dari pasca penetapan pemenang pilkada inilah akhir dari kompetisi tadi yang mana selanjutnya adalah munculnya era mewujudkan semangat dan harapan hidup yang lebih baik lagi bagi setiap daerah.

Pengkotakan masyarakat dalam pilkada memang bisa terjadi, tetapi memungkiri kuatnya rasa persatuan di masyarakat dengan alasan pilkada menjadi argumentasi yang sangat lemah.

Sepanjang era otonomi daerah yang sudah 20 tahunan ini berlangsung menjadi bukti kuat terbentuknya era baru dalam peningkatan kecerdasan kehidupan bermasyarakat.

Dengan kata lain pilkada berhasil membingkai rasa nasionalisme yang tinggi di masyarakat dan telah berhasil menaikan kecerdasan berpikir dan berperilaku dalam kehidupan berbangsa sekaligus bernegara. Separatisme terkikis oleh adanya pilkada disetiap daerah.

Tidak bermaksud memungkiri adanya catatan-catatan yang perlu dibenahi dalam setiap musim pilkada, tetapi catatan-catatan tersebut bukan dijadikan alasan untuk meng-kambing-hitam-kan pilkada, karena memperbaiki pilkada bukan berarti menghapus pilkada.  

POIN #2 : NASIONALISME NKRI

Masyarakat disetiap daerah telah memiliki karakter yang sangat kuat terhadap pandangan atau wawasan nasionalismenya, yakni nasionalisme NKRI. Nasionalisme dari sudut pandang kedaerahan sudah selesai sejak tahun 1928 sampai tahun 1945. Tidak perlu diumbar lagi isu ini dalam ruang publik. Meneriakan nasionalisme dalam pilkada itu kelucuan, artinya justru yang meneriakan yang tidak paham sejarah persatuan nasional bukannya yang diteriaki (masyarakat).

Dengan modal persatuan yang kuat sejak masa lalu inilah maka pilkada menjadi keharusan diadakan sehingga akan menghasilkan kepemimpinan daerah yang powerfull yang dikehendaki masyarakat daerah itu sendiri. Dari kepemimpinan inilah kemudian kesempatan keadilan sosial itu dapat terwujud, berproses secara merata tahap demi tahap.

POIN #3 : SISTEM YANG SUDAH TEPAT

Jalan pilkada ini sudah benar, dimana pilkada berhasil menumbuhkan instrumen baru di setiap daerah dalam melaksanakan hajat kehidupan baik dari segi ekonomi dan dampak peradaban yang ditimbulkan. Setiap anggota masyarakat sangat proaktif sepanjang proses pilkada tersebut. Keaktifan ini dapat menghasilkan pengalaman yang kemudian dapat ter-konversi secara otomatis kepada berkembangnya cara perekonomian dan kesejahteraan rumah tangga. Hal ini jangan ditolak namun sebaiknya justru didukung dengan sepenuhnya oleh semua pihak. Karena semua instrumen pemerintahan pada akhirnya harus membuahkan kesejahteraan yang merata sehingga keadilan sosial dapat tumbuh dengan suburnya di kehidupan masyarakat dan dirasakan secara langsung.

Percayakan pada kearifan lokal yang telah dimiliki oleh bangsa ini sejak jaman kuno, dari sisi pandang tersebut kemudian akan memunculkan kekokohan karakter berbangsa dan bernegara .

Pengadopsian cara-cara melangsungkan pemerintahan saat ini masih sangat terhubung dengan pengalaman historis masa lalu. Berangkat ke masa depan dalam bernegara ini telah memiliki titik start sendiri dan bukan meminjam titik start peradaban negara lain. Membandingkan sistem pemerintahan dengan negara lain adalah keharusan dan jangan dihindari, namun justru seharusnya itu menambah luasnya dalam upaya memandang kekuatan diri sendiri yang sudah khas telah dimiliki dan melekat pada diri sendiri bangsa Indonesia ini.

POIN #4 : POTENSI POLEMIK

Keajaiban pilkada berikutnya adalah adanya selalu polemik yang dapat meretakan rasa persatuan itu, tetapi perangkat bernegara saat ini sudah sangat cukup untuk mengantisipasinya. Tinggal mensinergiskan saja antar setiap perangkat yang ada yang kemudian dengan langkah sadar menjalankan aktifitas tersebut dengan di iringi rasa saling menghormati dan saling mengedepankan sikap mau berbagi sehingga karakter sikap gotong royong yang ada pada bangsa ini akan selalu tumbuh subur.

POIN #5 : PILKADA ITU MEMPERSATUKAN

Pilkada itu mempersatukan karena ia disadari hanya sebagai alat saja dalam mekanisme melahirkan kepemimpinan daerah, bukan isme. Suatu alat untuk menghadirkan pemerintahan daerah yang konstitusional atau sah sesuai konsensus. Dasar ini nanti yang akan menimbulkan kedamaian, karena pada masa kedamaian itulah perkembangan daerah dapat terlaksana dengan sangat maksimal untuk pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan kehidupan masyarakat.

POIN #6 : PILKADA DAN PENINGKATAN TARAF HIDUP

Pilkada itu meningkatkan harapan taraf hidup. Pilkada menjadi suatu acara pagelaran yang sangat besar, semarak, menghibur, mengedukasi, dan  menyenangkan. Pilkada bukan dibuat untuk menyusahkan.

Pilkada akan menghasilkan peningkatan kemandirian bermasyarakat, rasa tanggung jawab yang tinggi sehingga membuahkan ruang lingkup pekerjaan yang meluas sehingga ketersediaan “lahan aktifitas” yang banyak bagi setiap warga masyarakat. Harapan itu harus terus tetap terpelihara dan harus terus didorong sehingga eksistensi daerah dapat terjaga sekaligus menghilangkan potensi bubarnya daerah.

POIN #7 : PILKADA SEBAGAI SALAH SATU ALAT PENJAGA NKRI

Pilkada adalah sebuah strategi rahasia untuk menjaga eksistensi NKRI dan keberlangsungan perkembangan hidup bangsa Indonesia dan negara-negara lain diseluruh dunia. Konsep ini sudah tepat untuk dipertahankan.

Dengan ber-pilkada maka energi aktif yang dimiliki bangsa ini dapat tersalurkan pada tempatnya. Penyaluran energi masyarakat yang begitu besar dapat saja berupa invasi atau paling tidak dapat memunculkan separatisme,  hal itu harus dihindari karena dapat menyinggung perasaan dan harga diri bangsa lain.

PILKADA DAN PANCASILA

  1. Substansi pilkada adalah ungkapan rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, dalam meneruskan peningkatan standar kehidupan umat manusia.
  2. Pilkada pembuktian adab yang tinggi  dalam menentukan kekuasaan dengan cara-cara yang lebih elegan, sportif, mandiri, adil, dan manusiawi.
  3. Pilkada bukti pelaksanaan berjalannya persatuan Indonesia,
  4. Pilkada adalah pelaksanaan wujud keterlibatan rakyat luas dalam menentukan kemandiriannya dalam bingkai pemerintahan berdasarkan konstitusi/ supremasi hukum. 
  5. Pilkada menjadi perwujudan harapan pemerataan kesejahteraan (meningkatnya ekonomi masyarakat) sehingga keadilan sosial dapat terwujud.

Demikian tulisan ini dikemukakan semoga dapat direnungi dalam rangka menikmati keajaiban pilkada, sehingga terus rasa persatuan selalu dapat terpupuk yang pada akhirnya akan bertambah suburnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.  Itulah jati diri sesungguhnya bangsa ini mengacu kepada 5 sila dalam pancasila.

Penulis : Doni Candra, S.IP
Editor : Nizar Mahroussy H.E, S.Kom

PILKADA SERENTAK 2020 (3) : STRATEGI PEMENANGAN PILKADA – SURVEI INTERNAL

PILKADA SERENTAK 2020 (3) : STRATEGI PEMENANGAN PILKADA – SURVEI INTERNAL

Selama pemilu langsung pasca reformasi 1998 banyak sudah pengalaman yang dapat ditarik sebagai kesimpulan yang bernilai edukasi baik secara ilmu pengetahuan maupun pengalaman dalam ajang kompetisi pemilu yang damai, aman, lancar, dan legitimate tanpa hambatan yang berarti. Saat ini masyarakat sudah dapat dianggap mampu berada dalam suasana panasnya suhu politik dan sudah terbiasa dengan suasana kompetisi pemilu langsung. Hal tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi, justru kelompok kepentingan-lah atau oknum yang mungkin terlibat kekerasan fisik jika ada kejadian di suatu pemilu. Itupun selama ini dapat diatasi oleh pihak berwajib. Oleh karena itu kami menganggap secara umum bahwa masyarakat saat ini sudah jauh lebih dewasa dalam keterlibatannya terhadap peristiwa politik, silahkan elite politik saja lagi yang mendewasakan dirinya.

BACA JUGA : Langkah Awal Paling Efektif Untuk Pilkada, Strategi Mendongkrak Popularitas Calon Bupati dan Calon Walikota

Dalam iklim kedewasaan politik masyarakat itulah sehingga survei politik atau penelitian semacamnya  dapat terlaksana dengan lancar, aman, dan predictable.

Kini survei politik sudah sangat sering dilakukan baik itu sebagai pemberi masukan terhadap pemerintah, elite politik, maupun partai politik yang membutuhkan informasi kekinian sehingga kebijakan politik dan langkah politik dapat selaras dengan mayoritas preferensi politik masyarakat.

Hasil survei dapat membimbing para aktor politik untuk mengambil langkah lebih tepat dalam menjalankan strategi pemenangannya. Tanpa terbimbing hasil survei terkadang elite politik yang berkompetisi dapat keliru arah perjalanan pemenangannya.

Singkatnya, survei dan elite politik adalah dua hal yang tak dapat terpisahkan dalam perjalanan suatu pilkada langsung.

Berikut uraian segala hal yang terkait dengan survei politik yang mungkin diperlukan oleh setiap aktor politik  di tingkat lokal/ daerah yang akan melaksanakan pilkada tahun 2020 mendatang :

POIN #1 : SURVEI INTERNAL

Pentingnya untuk melakukan survei dengan kemampuan sendiri atau secara internal dengan alasan supaya data – data dapat diolah secara lebih eksklusive-mandiri tanpa pengaruh kepentingan pihak lain. Survei internal ini sangat berguna sebagai bahan gerakan pemenangan internal yang bersifat khusus dan tidak mudah terungkap di publik. Survei  semacam ini sangat terjaga kerahasiaannya dan hanya tersimpan dalam dokumen internal saja yang dapat secara kontinyu “dipergunakan” sebagai bahan evaluasi internal jika diperlukan.

POIN #2 : PELAKSANA SURVEI

Sudah sangat banyak pihak yang mampu dan berkompeten untuk melaksanakan survei internal ini, silahkan elite politik untuk lebih serius dalam melibatkan para surveyor seperti tersebut. Memang di tingkat nasional sudah sangat tersedia banyak lembaga survei yang berkompeten, tetapi mengingat banyaknya daerah yang ber-pilkada (silahkan liat daftarnya pada artikel sebelumnya) pada tahun depan maka sangat logis bagi setiap daerah untuk saatnya mempertimbangkan keterlibatan lembaga survei mana yang pas untuk kebutuhannya.

POIN #3 : BIAYA SURVEI

Bahwa setiap survei yang dilakukan di setiap daerah pasti melibatkan tenaga surveyor setempat. Karena survei politik yang paling tepat adalah dengan turun ke lapangan langsung tatap muka dengan masyarakat setempat. Dengan alasan inilah biaya survei sering dianggap mahal, padahal penyebabnya adalah biaya akomodasi turun ke lapangan yang terkadang juga tidak sedikit. Ditambah dengan banyaknya tenaga lapangan yang dibutuhkan mencapai 50 – 80 an orang lebih dalam setiap kali pelaksanaan survei. Biaya transportasi untuk survei di suatu kabupaten biasanya lebih besar jika dibandingkan dengan wilayah kota, karena biasanya wilayah kota secara geografis terkumpul dan berdekatan sedangkan wilayah kabupaten secara geografis terbentang luas dan berjauhan antar satu desa dengan desa  lainnya sementara masyarakat yang di survei berada sesuai luasnya sebaran secara geografis.

POIN #4 : FOKUS PADA AKURASI DATA

Memang kesulitan pelaksanaan survei internal di tingkat lokal adalah minimnya pengalaman pelaksanaan  ditambah dengan lemahnya trust yang ada sehingga komunikasi elite lokal dan pihak peneliti lokal sering tidak nyambung dan kurang bergengsi. Tetapi awas termakan jebakan gengsi; bahwa dalam survei itu bukan gengsi yang diutamakan tapi akurasi data yang dihasilkan. Semakin rahasia data internal yang dihasilkan semakin kuat pertarungan pemenangan, karena strategi pemenangan internal bukan untuk di umbar di publik. Fatsun kompetisi politik adalah rahasiakan strategimu dari lawanmu maka potensi kemenanganmu akan meningkat dibanding lawanmu.

POIN #5 : METODOLOGI SURVEI

Survei politik untuk kepentingan pilkada dilaksanakan dalam durasi sekitar 2 – 3 pekan, dan proses pengambilan data lapangan biasanya maksimal 10 hari dan paling cepat sekitar sepekan. Selanjutnya data hasil lapangan diolah untuk dilaporkan sebagai hasil survei. Pelaksanaan survei ini dengan menyebarkan tenaga lapangan ke berbagai titik sample berada. (untuk metodologi survei silahkan membaca buku survei ilmiah)

POIN #6 : SAMPLING ADALAH KUNCI

Akurasi dan presisi hasil survei dapat dicapai dengan desain survei yang tepat. Pemilihan metode sampling adalah kuncinya. Dalam hal ini diperlukan keseriusan dan tingkat pengalaman antara lapangan dan kebiasaan melakukan penelitian. Standard survei politik adalah keilmiahan data, harus pihak sarjana yang masih aktif dan fresh. Tidak asal mau dan berani. Tidak asal sarjana juga. Silahkan pikirkan matang-matang untuk menentukan pihak yang dilibatkan dalam survei internalmu.

POIN #7 : KAJIAN ILMIAH DAN FAKTA LAPANGAN

Poin terakhirnya adalah survei politik dalam pilkada mendatang sangat penting untuk dilakukan dan disetting secara serius demi proses pemenangan pilkada yang lebih terarah. Pelaksanaan survei sudah umum dalam ajang pemilu langsung semacam pilkada. Jangan pernah menjauhi urusan keilmiahan dalam proses pemenangan yakni keilmiahan yang tersambung dengan fakta lapangan. Jadi, tidak asal ilmiah juga dan tidak asal fakta lapangan juga.

Seimbangkanlah kedua hal yang terkait ini kemudian pastikan kecocokannya dengan kondisi daerahmu. Karena model atau perilaku disetiap daerah yang berpilkada memiliki karakter masyarakat yang berbeda-beda pula.

Sebagai kata penutup opini dalam artikel kali ini kita sama-sama berkewajiban menghasilkan pesta demokrasi yang berkualitas dalam menunjang kehidupan peradaban.

Re-generasi kepemimpinan ditingkat lokal adalah terkadang cerminan kepemimpinan skala nasional.

Karena suatu bangsa yang besar akan selalu mencetak generasi penerus yang lebih baik dari sebelumnya sehingga rasa optimis selalu bangkit disetiap era berbangsa dan bernegara sehingga anak bangsa akan menjadi sangat siap dalam “duel”  pergolakan silaturrahim dunia internasional.

Penulis : Doni Candra, S.IP
Editor : Nizar Mahroussy H.E, S.Kom