STRATEGI RAHASIA KALKULASI BIAYA MENANG PILKADA

STRATEGI RAHASIA KALKULASI BIAYA MENANG PILKADA

Menyingkap hal tabu menjadi rasional dan lumrah. Demikian dalil argumentasi pemilihan tema artikel kali ini. Ia bukanlah sekedar menyingkap tabir persembunyian. Realitas tetaplah realitas sekalipun mungkin jarang diulas secara gamblang. Sekedar sharing prakira semata tanpa menggemingkan pihak yang alergi.

Biaya atau pembiayaan dalam pilkada menjadikan banyak pihak yang berpura-pura menjauh untuk membicarakannya. Giliran ada calon yang kelepasan mengatakan mau menyiapkan dana ratusan milyar rupiah maka gagap gempita pihak lain menyorotnya. Santuy… ini realitas kita bersama kok.

BACA JUGA : Software Sistem Manajemen Pemenangan Pemilihan Umum Kepala Daerah Serentak

Sekali melakukan survey bagi calon yang memesannya kepada lembaga survey maka imbas biaya mencapai 100 juta rupiah. Nah sementara dalam durasi sekali pilkada pemetaan atau survei bisa dilakukakan lebih dari 2 – 3 kali.

Selain itu biaya iklan atau spanduk dan sejenisnya bisa ratusan bahkan ribuan yang dipasang di pinggir jalan atau persimpangan jalan baik secara manual maupun secara professional pada papan billboard yang sangat besar. Seribu baleho yang terpasang bisa berharga 500 juta lebih, dan itu bisa terus berganti ganti jika ada even atau momentum perayaan tertentu berupa baleho ucapan dan seterusnya.

BACA JUGA : Strategi Tuntas Koalisi Dalam Mengusung Calon Bersama, Pertimbangkan Potensi Menangnya!!!

Ada lagi biaya kongkow – kongkow sekedar mentraktir para relasi dan bakal team yang akan bergabung untuk mengusahakan pemenangan. Sekali nongkrong dapat menghabiskan biaya 1 juta rupiah. Lah kalau nongkrong traktiran itu dilakukan berulang sampai ratusan kali maka ratusan juta juga duit dikeluarkan.

Biaya kampanye bisa lebih gede lagi. Acara panggung terbuka di lapangan dengan menghadirkan hiburan artis kelas ibukota dengan iringan musik papan atas itu biayanya bisa lebih dari 150 juta rupiah. Itu skala menengah atas, belum lagi skala kampanye kecil tetapi banyak jumlahnya itu juga berakibat pembiayaan yang tidak sedikit.

Biaya lainnya yang juga mungkin lebih besar adalah biaya koordinasi ke Jakarta secara sering bolak-balik dengan menjamin pembiayaan sekian anggota rombongan yang berangkat. Ini biasanya dilakukan dalam rangka kunjungan ke DPP Partai untuk boleh mendapat surat rekomendasi. Silahkan tanyakan kepada pengurus partai yang biasa melakukannya berapa kisaran biaya akomodasi sekali kunjungan. Biaya tiket pesawat, tiket transportasi darat, biaya hotel, biaya makan, dan biaya entertain/ rekreasi lainnya.

Semua unsur pembiayaan itu akan terlihat besar bagi orang awam atau yang pura-pura awam. Pembiayaan inilah yang mengakibatkan banyak orang nyinyir ketika komen tentang cost pilkada. intinya ada dampak biaya yang tidak sedikit bagi setiap pasangan calon yang maju dalam suatu event pilkada. Hal itu ada dan terjadi, makanya calon dalam pilkada itu sedikit jumlahnya karena biayanya mahal. Kalau murah biaya pilkada lah tetanggaku juga bakal banyak mau nyalon.

Biaya dalam pilkada itu rasional dan dapat di rasionalisasi. Dapat dihitung dengan rumus matematika sederhana. Terkait pemilihan rumusannya yang mana mau dipakai itu terserah kesukaan masing-masing pihak saja.

Berikut opini kami terkait perumusan pembiayaan bagi paslon berpotensi menang secara standar kalkulasi cocoklogi prakira biaya yang sudah pernah terjadi dalam pilkada masa lalu berdasar info yang ada kemudian dihitung secara plus-minusnya.

  1. Biaya menang pilkada yang jumlah pemilihnya 200 ribu kebawah, biaya pemenangannya mungkin mencapai 20 milyar rupiah.
  2. Biaya menang pilkada yang jumlah pemilihnya 200 – 500 ribu, biaya pemenangannya dapat sampai 30 milyar rupiah.
  3. Biaya menang pilkada yang jumlah pemilihnya/ DPT hampir sejuta orang, maka biaya pemenangannya bisa lebih dari 30 milyar rupiah.
  4. Biaya menang pilkada yang jumlah pemilihnya/ DPT 1 -2 juta orang, maka biaya menang pilkadanya bisa sampai diatas 50 milyar rupiah.

Sejumlah biaya itu dapat saja terdistribusi kepada 4 bagian sebagai berikut;

  • 25% biaya sosialisasi awal.
  • 25% biaya alat peraga.
  • 25% biaya akomodasi tim.
  • 25% biaya kampanye terbuka dan saksi.

Nah, uang milyaran itu kalau yang memandangnya orang awam maka bisa lain ceritanya. Dapat berlebihan daya khayalnya sehingga dapat menyebabkan kebutaan pandangan yang mana seterusnya bisa membangkitkan rasa kritis berlebihan.

Orang ekonomi telah terbiasa dengan hitung-hitungan keuangan. Sementara orang politik biasanya hitungannya agak lain dalam menghitung pembiayaannya, karena biaya tak terduga cukup pelik diluar mata anggaran yang telah dikonsep awal.

Jujur, cukup berat materi artikel kali ini untuk dikemukakan mengingat ini topik yang sangat sensitif jika pandangan yang membacanya kaum pemula. Tetapi karena ini pengetahuan maka okelah barangkali dapat saja menginspirasi bagi orang-orang yang mau.

Para senior silahkan sambil senyum-senyum membaca uraian kali ini, bagi kalangan serius semoga selalu ada solusi terbaik untuk semakin memperbaiki kehidupan berbangsa dalam era pilkada tahun 2020 saat ini. Pilkada bukanlah suatu empire atau empayer khayal yang lagi booming.

Pilkada adalah kesadaran serius dalam rangka rekruitmen beradab regenerasi kepemimpinan lokal. Kompetisi ajang pilkada merupakan bagian pelaksanaan hajat hidup orang banyak yang sesuai dengan ketentuan dan kesepakatan secara nasional.

Salam kompak kepada elit politik lokal yang sebenarnya secara otomatis  juga elit politik nasional. Tergantung cara memandangnya dari kacamata mana.

Jayalah NKRI !!!

Penulis : Doni Candra, S.IP
Editor : Nizar Mahroussy H.E, S.Kom
Ilustrasi : Tribunnews.Com