PILKADA SERENTAK 2020 (2) :  LANGKAH AWAL PALING EFEKTIF UNTUK PILKADA , STRATEGI MENDONGKRAK POPULARITAS CALON BUPATI DAN CALON WALIKOTA

PILKADA SERENTAK 2020 (2) : LANGKAH AWAL PALING EFEKTIF UNTUK PILKADA , STRATEGI MENDONGKRAK POPULARITAS CALON BUPATI DAN CALON WALIKOTA

LANGKAH AWAL PALING EFEKTIF UNTUK PILKADA

Hal  paling penting untuk dilakukan secara fokus dan lebih serius di awal-awal waktu seperti saat ini bagi tokoh yang mau maju sebagai kontestan dalam pilkada tahun depan adalah mendongkrak popularitas  (menaikan tingkat ke-dikenal-an) dirinya. Perlu tim kecil sebagai pendamping yang mengerjakan kerja-kerja teknis dan men-setting program yang dijalankan supaya tidak serampangan atau asal melakukan upaya. Calon dan timnya diuji kerjasamanya pada saat awal-awal melangkah. Banyak tokoh potensial yang keliru memilih timnya sehingga berjalannya proses pemenangan amburadul. Tim pemenangan diperlukan sesuai spesifikasi tidak asal mau dan asal paling jago dalam berdebat atau asal paling cerdas melantunkan kata-kata terbang tanpa kenal staregi pendaratan yang mulus.

BACA JUGA : Tokoh Yang Paling Berpeluang Dalam Pilkada

Kerjasama antara calon dan timnya sangat menentukan langkah kedepannya, ada strategi yang harus dilakukan sampai bulan Desember 2019 ini dan dilanjutkan strategi untuk periode Januari 2020 sampai hari pelaksanaan pemilihan dilangsungkan. Oleh karena itu sebelum menetapkan strategi berjalannya awal sebaiknya calon menentukan dulu anggota tim pendampingnya sesuai kebutuhan lapangan bukan berdasarkan yang penting siapa mau bekerja membantunya tanpa keahlian yang jelas.

Sudah terlalu banyak contoh, calon yang berpotensi menjadi kurang greget dikarenakan tidak mampu bekerjasama dengan baik kepada timnya.

Kembali kepada langkah awal apa yang paling pas dilakukan oleh calon dan timnya hingga bulan Desember 2019 nanti berikut beberapa poin yang mungkin dapat dijadikan bahan tambahan untuk menentukan keputusan strategis :

POIN 1 : SEBARAN POPULARITAS YANG MERATA

Bahwa sebelum muncul adanya dukungan dari masyarakat pemilih maka diperlukan upaya memperkenalkan diri secara sungguh-sungguh. Perkenalan ini sebaiknya dilakukan dengan cara-cara yang paling efektif dan efisien. Efektif maksudnya dengan pertimbangan pemerataan sebaran perkenalan dengan target 100% populasi pemilih, dengan memperhatikan efisiensi sumberdaya yang dikerahkan, ini poin utamanya. Telah banyak upaya menaikan popularitas tanpa didasari dengan kalkulasi sebaran – pemerataan wilayah sehingga angka popularitasnya tidak meningkat tajam.

Jika ada 50-an kelurahan disuatu wilayah Kota yang akan melaksanakan pilkada maka sang calon harus mentarget popularitasnya merata di 50-an kelurahan tersebut tanpa terkecuali.

POIN 2 : TEKNIK POPULARITAS YANG EFEKTIF

Bahwa aksi popularitas yang paling efektif adalah yang dilakukan dengan kecepatan yang maksimal dan dengan sebaran – pemerataan wilayah yang komprehensif. Perlu siasat yang mumpuni yang tangguh dalam memilih cara aksi popularitas ini. Karena calon sangat tidak mungkin untuk berkenalan secara satu persatu kepada masyarakat pemilih, sehingga diperlukan satu teknik yang dilakukan sehingga mampu menjangkau semua masyarakat pemilih itu. Cara – cara ini sudah banyak yang membahasnya hanya saja calon dan timnya sering terkesan masih main-main untuk menjalankannya. Padahal aksi ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan pencalonannya.

POIN 3 : MEDIA POPULARITAS YANG TEPAT

Karena tidak mungkin calon berkenalan secara satu persatu kepada pemilih maka dicarilah cara untuk menjangkau masyarakat pemilih itu. Upaya manjangkau itu dapat dilakukan dengan metode tertentu, sesuai kemampuan dan kebutuhan yang ada. Sebagai contoh upaya menjangkau masyarakat pemilih adalah dengan menggunakan media – media yang ada saat ini. Misalnya dengan aktif di media sosial, media internet, media online lainnya. Selain itu cara ini dapat ditambah dengan aksi secara offline yakni hadir langsung dalam setiap momen penting atau acara – acara sosial kemasyarakatan. Aksi offline ini termasuk memasang baleho/ spanduk ucapan tertentu sesuai momentum yang ada.

Baleho/ spanduk ini memang akan mirip dengan alat peraga kampanye sesungguhnya tetapi dengan tidak menampilkan unsur kampanye seperti tulisan mengajak memilih atau tulisan imbauan politis lainnya.

KESIMPULAN

Singkat kata bahwa langkah awal bagi calon yang maju dalam kontestasi pilkada tahun 2020 mendatang terbagi kepada dua hal strategis yakni; pertama, kesadaran untuk bekerjasama antar calon dan timnya. Kedua, memfokuskan terhadap aksi popularitas secara merata menjangkau semua masyarakat pemilih.

Kedua hal tersebut adalah langkah paling strategis untuk dilakukan saat ini sambil merancang aksi-aksi lainnya yang terkait dengan peningkatan popularitas.

Sebagai bahan rancangan hendaknya aksi popularitas itu memperhatikan hal-hal berikut ini:

  • segmen pemilih berdasarkan geografis (kawasaan perkotaan vs pedesaan)
  • segmen adat istiadat/ kesukuan
  • segmen kelompokPemuda
  • segmen kelompok Ibu-Ibu
  • segmen Kesatuan Usaha/UKM/Koperasi
  • segmen Ikatan Alumni
  • dan seterusnya sesuai dengan segmen yang ada pada setiap wilayah masing-masing

Kemudian semua potensi segmen yang ada dilakukan upaya pendekatan dengan aksi popularitas yang disesuaikan dengan gaya komunikasinya. Calon dan timnyaa secara bahu-membahu untuk bekerjasama selama proses aksi popularitas ini dimulai dari merancang, penjadwalan, pada saat aksi dan pasca aksi, selanjutnya followup atau pembinaan sehingga terjadi hubungan terus menerus dengan masyarakat pemilih.

Perlu diingat juga bahwa aksi popularitas itu sangat memperhatikan kesopanan dan kesesuaian dengan norma-norma yang berlaku.

Jangan menampilkan aksi popularitas dengan klaim jumlah nominal uang yang disiapkan karena itu kami nilai sangat tidak efektif.

Dampaknya masyarakat pemilih bisa geli, baik elite masyarakat maupun kalangan masyarakat umum dapat menganggapnya sebagai upaya membodohi mereka.

Biarkan masyarakat luas yang menilai apakah sang calon mampu dari sisi keuangan apa tidak. Uang dalam pilkada langsung memang wajib ada dan sangat diperlukan untuk menggerakkan mesin pemenangan, tetapi tidak untuk diumbar diruang publik secara sengaja. Bisa lah pikiran publik secara otomatis untuk menilai kesesuaian klaim terhadap apa yang telah dan sedang dilakukan. Buatlah publik punya pengalaman yang baik dan membekas terhadap calonmu. Jangan meninggalkan bekas yang membuat jera publik.

Karena publik yang jera tidak akan mendukungmu bahkan bisa-bisa turut mengkampanyekan untuk tidak mendukungmu.

Salam kompak untuk semua politisi di tanah air, terimakasih masih mau menjadi politisi. Karena politisi itu akan membaikan dan memuliakan kehidupan peradaban.  

Sekian dulu tulisan siang ini, semoga terinspirasi.

Penulis : Doni Candra, S.IP
Editor : Nizar Mahroussy H.E, S.Kom